
"Jadi, bagaimana menurut mu tentang perjodohan ini, Hana?" tanya Syafiq.
"Aku tidak tahu, aku hanya ikut saja apa kata abi." Hana menjawab dengan jujur.
Jawaban Hana itu membuat Syafiq sedikit bingung, tetapi kemudian ia tersenyum saat menyadari sesuatu.
"Kau wanita yang sangat patuh pada orang tua, arti nya kau juga pasti sangat patuh pada suami mu kelak." Syafiq berkata dengan suara yang sedikit rendah, bahkan pernyataan itu seperti sebuah pertanyaan samar.
"Aku patuh pada siapa yang memerintah kebaikan," tukas Hana sembari mengulum senyum. "Selama ini orang tua ku tidak pernah memerintahkan hal yang buruk, jadi aku sangat patuh."
"Kau cerdas juga." Syafiq menggumam sembari mengulum senyum.
"Aku harap jawaban ku tidak bertele-tele," sindir Hana yang membuat Syafiq seketika tergelak, teringat dengan obrolan pertama mereka sekitar dua Minggu yang lalu. Padahal saat itu Syafiq hanya bercanda, tapi sepertinya Hana memasukan candaan itu ke dalam hati nya.
"Wanita tetap lah wanita, tidak akan melupakan apapun yang membuat mereka kesal meskipun 10 tahun sudah lewat."
"Karena itu lah kita harus sangat hati-hati dengan apa yang kita lakukan atau katakan pada seorang wanita." Ilyas menambahkan sambil tertawa kecil.
"Kira-kira kapan kau akan menikahi adik ku?" celetuk Ameer yang membuat Hana melotot terkejut, sementara Syafiq menanggapi nya dengan santai.
"Pertanyaan macam apa itu, Ameer?" geram Hana.
"Aku hanya ingin tahu, Han, apalagi setelah menikah dia akan membawa mu jauh dari sini," tukas Ameer.
"Pernikahan akan di tentukan setelah Hana tidak memiliki keraguan apapun terhadap perjodohan ini," pungkas Syafiq dengan percaya diri.
"Lalu bagaimana dengan mu? Apa kau sudah yakin dengan Perjodohan ini?" tanya Hana.
"Aku sudah sangat yakin sejak pertama kali berbicara dengan mu," jawab Syafiq yang membuat Hana terenyuh, ia langsung melirik Meizia yang sejak tadi hanya diam saja.
Meizia berbisik di telinga Hana. "Dia sempurna, terima saja."
__ADS_1
Hana melotot pada sahabat nya itu, meskipun Syafiq terlihat sangat tampan, terlihat juga kecerdasan nya, tetap saja Hana merasa perlu sedikit waktu untuk memutuskan.
"Aku rasa aku harus memikirkan nya sedikit lagi." Hana balas berbisik.
"Itu terserah kau saja," bisik Meizia lagi. "Tapi percaya lah, dia seperti seorang pangeran impian setiap gadis."
"Apa boleh aku mendengar apa yang kalian bisikan satu sama lain?" tanya Ameer sembari menarik sang istri hingga lebih dekat dengan nya.
"Aku rasa mereka membicarakan ku," Syafiq menimpali.
"Sedikit," jawab Meizia dengan jujur.
Obrolan mereka terhenti saat Riana datang bersama dua pelayan yang membawa makanan.
"Aku harap kau menyukai menu dari restoran kami ini, Syafiq," ujar Riana.
"Sepertinya ini enak," kata Syafiq.
"Aku ingin kepiting asam manis," kata Meizia setengah merengek manja.
"Mengidam lagi, hem?" kekeh Ameer sembari mengusap kepala istri nya itu.
"Seperti nya begitu," ringis Meizia.
Syafiq yang melihat interaksi sepasang suami istri di depan nya ini merasa sedikit iri, terlihat jelas cinta yang begitu besar di mata Ameer untuk sang istri.
"Biar aku pesankan dulu," kata Riana tetapi langsung di cegah oleh Ameer.
"Tidak perlu, Ri, biar aku saja," ujar Ameer. "Kalian bisa makan lebih dulu." Ia segera beranjak untuk meminta kepiting asam manis secara langsung pada koki di dapur.
"Aku ikut!" Meizia langsung menarik tangan Ameer dan menggandeng nya dengan manja. Ameer hanya mengulum senyum dan membiarkan istri nya itu ikut.
__ADS_1
"Mereka terlihat sangat mesra," kata Syafiq sambil tersenyum tipis. "Apa mereka juga di jodohkan?"
"Tidak," jawab Hana dengan cepat. "Mereka menikah atas dasar cinta," tambah nya sambil tersenyum tipis.
"Masyaallah, semoga cinta mereka abadi sampai ke surga-Nya."
"Kisah cinta mereka luar biasa," kata Hana lagi. "Awal nya tak ada yang merestui, tapi cinta Ameer pada Meizia terlalu besar sampai semua orang ikut terseret dalam kisah penyatuan mereka."
Syafiq tentu terlihat takjub mendengar cerita itu, apalagi setelah ia melihat sendiri bagaimana Ameer mengayomi dan memanjakan Meizia. Cara Ameer menatap istri nya saja sudah terlihat sangat berbeda, setiap wanita pasti iri pada Meizia dan seperti pria pasti tahu bahwa tatapan Ameer hanya tertuju untuk cinta sejati nya.
Sementara itu, Ameer dan Meizia saat ini ada di dapur. Ameer sudah memesan kepiting asam manis pada koki yang memang sudah ia kenal. Yeah, semua pegawai di sana memang pasti mengenal Ameer sehingga tak ada yang keberatan jika Ameer masuk ke dapur.
"Seperti nya setelah ini berat badan ku akan naik drastis," kata Meizia. "Porsi makan ku lebih banyak dan aku lebih sering merasa lapar."
"Tidak apa-apa, Sayang," ujar Ameer. "Lagi pula kamu selalu merasa lapar karena ada bayi kita di sini, jadi porsi makan kamu pasti nambah." Ameer mengelus perut Meizia dengan lembut.
"Benar juga," kekeh Meizia sembari menyentuh tangan Ameer. "Oh ya, Sayang, entah kenapa aku merasa tidak nyaman berhadapan dengan Syafiq." Meizia berkata dengan lirih dan mata nya tertunduk, seolah memang merasa sangat tidak nyaman apalagi mengingat cara Syafiq memandang nya.
"Tidak apa-apa," ucap Ameer dengan lembut sembari mengusap kepala Meizia, padahal sebenarnya dia juga sangat cemburu saat Syafiq memandang sang istri. "Dia mengira kamu itu Hana." Lanjut nya untuk menenangkan hati Meizia juga hati nya.
Mereka kembali ke ruang VIP dan Ameer melihat Hana dan yang lain nya sedang makan.
Ameer kembali ke kursi nya begitu juga dengan Meizia. Mereka kembali mengobrol ringan sembari menikmati hidangan masing-masing.
"Malam ini orang tua ku akan menemui orang tua mu, Han," ujar Syafiq yang membuat Hana langsung tersedak makanan nya sendiri.
"Secepat itu?" pekik Hana.
"Iya, niat baik sebaiknya di percepat," jawab Syafiq. "Jika kamu tidak merasa ragu dengan perjodohanan ini, aku akan merasa sangat senang jika kita menikah secepatnya, agar kita dapat menjalankan ibadah panjang ini lebih cepat."
Meizia melirik Riana, dan sang kakak memberikan isyarat agar Hana menyetujui permintaan Syafiq.
__ADS_1
Hana berpikir sejenak sebelum akhir nya ia mengangguk pelan. Membuat Syafiq langsung tersenyum senang.