Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 22 - Membawanya


__ADS_3

Hana dan kedua orang tuanya sudah sampai di rumah Ameer, tentu mereka disambut dengan hangat apalagi Ummi Nayla memang sudah sangat dekat dengan Hana sejak dulu.


"Ameer belum pulang? Aku tidak melihat mobilnya di luar," kata Umminya Hana.


"Belum, katanya masih ada urusan," jawab Ummi Nayla.


Tak berselang lama, hujan turun dengan deras, petir pun mulai menyambar di mana-mana. Membuat Ummi Nayla semakin Khawatir dengan putranya yang entah ada di mana itu.


"Amina sama Adiba di mana, Mbak?" tanya Hana pada Shafa yang kini menyajikan teh panas untuk mereka.


"Lagi nonton tv tuh," jawab Shafa.


"Aku mau kesana saja," tukas Hana kemudian yang membuat semua orang terkekeh.


Sejak dulu, Hana memang cukup dekat dengan kedua keponakan Ameer itu. Bahkan, Hana sering menghabiskan waktu menonton kartun bersama kedua bocah kecil itu dari pada harus duduk bersama para orang tua dan membicarakan sesuatu yang serius.


"Marwa, coba telfon lagi adekmu, Ummi khawatir lho," kata Ummi Nayla.


"Ya Allah, Ummi, tadi kan sudah. Aku yakin sebentar lagi Ameer akan pulang," tukas Marwa.


"Iya, tapi tidak ada salahnya 'kan kalau ditelfon?"


...🦋...


"Mereka tidak akan membiarkan aku pergi," kata Meizia sambil mengintip kedua anak buah mamanya itu dari pintu yang ia buka sedikit.


"Aku tahu itu," kata Ameer sambil mencoba mencari cara agar mereka bisa keluar dengan aman. "Aku akan keluar sebentar, kamu tetap diam di sini, okay?"


"Kamu mau apa?" tanya Meizia.


"Mencari cara membawamu keluar dari sini dengan aman," jawab Ameer sambil tersenyum. Tanpa sadar, kini Meizia ikut tersenyum seolah tertular oleh senyum Ameer. Namun, sayangnya Ameer tak menyadari itu sebab Ameer sedang sibuk memikirkan cara bagaimana mereka bisa pergi.


Ia pun keluar dari kamar Meizia sambil melirik kedua pria itu yang kini menatapnya dengan tajam.


Bersamaan dengan itu, seorang Dokter yang menangani Meizia justru datang dan langsung bertanya, "Kamu siapa? Apa yang kamu lakukan di kamar pasienku?"


Kedua pria itu tentu langsung melotot terkejut, begitu juga dengan Ameer. Namun, sebelum mereka semua bertindak, dengan cepat Ameer meminta Meizia keluar sembari ia mendorong satu pria dan pria yang lainnya ia tendang di bagian kelaminnya.


"Cepat, Meizia!" teriak Ameer sekali lagi.

__ADS_1


Meizia pun berlari sambil mengulurkan tangannya pada Ameer. Tanpa pikir panjang Ameer menerima uluran tangan Meizia, bersamaan dengan itu Dokter memanggil security dan memerintahkan mereka menangkap Ameer.


"Lari yang cepat, Zia!" seru Ameer padahal Meizia sudah berlari secepat yang ia bisa.


Mereka menabrak beberapa orang yang menghalangi jalan mereka, bahkan aksi kejar mengejar itu kini menjadi pusat perhatian.


Tanpa sadar, sebenarnya Ameer menggenggam pergelangan tangan Meizia yang terluka. Menyebabkan luka itu kembali berdarah dan Meizia dapat merasakan pergelangan tangannya semakin sakit. Namun, ia mencoba mengabaikan rasa sakit itu.


"Hey, berhenti!" teriak mereka.


"Meizia! Berhenti!"


"Hey!"


Ameer menekan tombol lift tapi tak kunjung terbuka, sementara dua anak Mami Lala dan security sudah semakin dekat.


"Kita harus lewat tangga," kata Ameer dan Meizia hanya pasrah saat pria itu menyeretnya turun tangga darurat.


"Meizia!" teriak anak buah Mami Lala. "Kau akan mati jika ibumu tahu!"


"BERHENTI, MEIZA."


Keringat sudah membasahi tubuh keduanya, napas mereka terengah dan kini pandangan Meizia mulai buram. Ia kembali merasa pusing, tetapi wanita itu memilih diam dan mempercayakan semuanya pada Ameer.


Di lantai dua, Ameer berhasil masuk ke dalam lift dan itu membuat keduanya bisa sedikit bernapas lega.


"Mobilku ada di basement lantai dua, kamu masih sanggup jalan sampai ke sana?" tanya Ameer dan Meizia hanya mengangguk.


Pintu lift terbuka.


Ameer dan Meizia hanya bisa tercengang melihat dua anak Mami Lala sudah berdiri dengan memasang wajah galaknya di sana.


"Cukup, Mei!" seru pria itu. "Mau sampai kapan kamu berusaha kabur seperti ini, huh? Kamu mau disiksa lagi sama ibumu?"


Meizia tak bereaksi, kali ini tekadnya sudah sangat bulat ia akan pergi apapun yang terjadi.


Sementara Ameer melangkah maju tanpa melepaskan tangan Meizia. "Menyingkir atau aku akan menelpon polisi!" tegas Ameer tetapi dua pria itu hanya tersenyum sinis.


Mau tak mau, Ameer pun harus melepaskan tangan Meizia. Bukan untuk menyerahkan wanita itu, tetapi untuk menghajar kedua pria di depannya ini.

__ADS_1


Ameer mencoba melawan mereka sekuat tenaga, meski sudah tak terhitung berapa kali justru Ameer lah yang terkena pukulan.


Orang-orang di sana hanya melihat dan tampak tak berani melerai. Sementara Meizia kini mengambil tabung pemadam api dan memukul salah satu pria itu hingga jatuh tersungkur.


Bersamaan dengan itu, Ameer berhasil membuat pria yang satunya juga terjatuh.


Kesempatan itu mereka gunakan untuk kembali berlari keluar dari rumah sakit dan Ameer memilih berlari menembus hujan untuk mencari taksi, dari pada ia harus turun ke basemen dimana lebih besar kemungkinan mereka akan kembali di kejar entah oleh security atau anak buah Mami Lala.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Ameer dengan cemas pada Meizia saat mereka sudah berhasil masuk ke Raka. tak taksi.


"Aku baik-baik saja," jawab Meizia sembari berusaha menahan rasa sakit di pergelangan tangannya.


"Bagaimana dengan mobilmu?" tanya Meizia kemudian.


"Aku akan meminta orang mengambilnya besok," kata Ameer dan Meizia mengangguk mengerti.


...🦋...


"Marwa, adikmu nyangkut dimana?" tanya Ummi Nayla untuk yang ke sekian kalinya.


"Mungkin dia terjebak macet, Ummi," sambung Abi Zaid.


"Ponselnya tidak aktif, Ummi," kata Marwa yang memang sudah berusaha menghubungi Ameer.


"Astagfirullah, kemana anak satu ini."


Sementara itu, Hana kini justru menikmati waktunya bersama Adiba dan Amina. Bahkan, wanita yang sebenarnya patah hati itu kini tampak sangat bahagia karena tingkah lucu dua keponakan sepupunya ini.


"Biar Abi telfon Rizal," kata Abi Zaid. Namun, bersamaan dengan itu pintu terbuka dan seketika kedua orang tua Ameer menghela napas lega karena putranya sudah pulang meski basah kuyup.


"Kamu dari ma—" Ucapan Ummi Nayla terhenti saat Ameer melangkah ke samping dan di belakang putranya itu ada Meizia yang juga basah kuyup.


"Ameer?" desis sang Ibu, tak tahu haruskah marah, cemas, kecewa atau apa. Abi Zaid pun merasakan hal yang sama, bahkan ia hingga kehilangan kata-kata.


Sementara kedua kakak Ameer dan kedua orang tua Hana bisa tercengang melihat Ameer membawa wanita asing ke rumahnya.


Hana pun keluar dan untuk pertama kalinya ia melihat wanita yang telah memenangkan hati Ameer. Wanita itu tampak pucat, bahkan Hana bisa melihat lutut Meiza yang bergetar mungkin karena kedinginan.


"Kenapa kamu membawanya?" tanya Ummi Nayla.

__ADS_1


"Dia butuh pertolongan," jawab Ameer lirih bersamaan dengan itu tiba-tiba Meizia ambruk ke lantai. Wanita itu kehilangan kesadarannya sementara perban di pergelangan tangannya sudah penuh darah.


__ADS_2