
Akibat Meizia yang pingsan saat sedang berjuang melahirkan anak keduanya, Meizia pun terpaksa dibawa ke ruang operasi.
Bayi yang berjenis kelamin laki-laki itu telah berhasil mereka keluarkan tepat waktu, bayi itu menangis sangat nyaring. Kaki dan tangannya bergerak tanpa henti seolah ia melampiaskan sesuatu.
Namun, perjuangan Dokter dan Suster belum selesai karena detak jantung Meizia begitu lemah, dia juga mengalami pendarahan yang cukup hebat sehingga kini mereka harus berjuang menyelamatkan sang pasien. Meskipun kemungkinan berhasilnya sangat kecil.
Sementara Ameer hanya terduduk lemas di depan ruang operasi, air mata tak henti-hentinya mengalir di pipi pria itu mengingat keadaan terakhir sang istri,
"Seharusnya sejak awal aku memilih jalan operasi," lirih Ameer untuk yang kesekian kalinya.
Kedua orang tua Ameer dan kedua kakaknya hanya bisa meminta Ameer bersabar dan berdoa agar semuanya baik-baik saja.
"Jangan terus menyesali apa yang sudah terjadi, Nak," pinta Ummi Nayla sembari mengusap pundak Ameer. "Masih ada harapan, bukan? Meizia akan melahirkan anak keduanya dan mereka pasti akan selamat."
Ameer menatap mata sang Ibu dengan sayu, ia tak mampu menyembunyikan kecemasan dan ketakutan yang ia rasakan saat ini.
Tak berselang lama, Dokter keluar dan Ameer langsung menghampirinya, mencecar Dokter dengan berbagai pertanyaan.
"Istri dan anak ku baik-baik saja 'kan, Dok?"
"Meizia tidak apa-apa, kan?"
"Dia sudah sadar dari pingsannya, kan?"
Ummi Nayla merangkul putranya itu dengan lembut, untuk memberikan sedikit ketenangan meski sebenarnya ia juga sangat panik.
Abi Zaid, Shafa dan Marwa juga terlihat sangat tegang menunggu jawaban Dokter. Kedua saudara itu saling berpegangan tangan, seolah saling menguatkan.
Dokter yang melihat wajah tegang mereka tampak sedih, bahkan lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan satu kata saja. Namun, ia tahu apapun yang terjadi sudah menjadi kewajibannya untuk jujur pada keluarga pasien.
Ia menarik napas panjang kemudian berkata, "Pasien tidak bangun dan detak jantungnya begitu lemah. Kami berusaha sebaik mungkin tapi ... tapi kami gagal."
Seketika Ameer terjatuh lemas, lututnya tak biasa menahan tubuhnya. Pikirannya langsung blank, detak jantungnya seolah berhenti dan darahnya seperti membeku. Bahkan, bumi ini seolah berhenti berputar.
Sementara Ummi Nayla, Shafa dan Marwa hanya bisa menitikkan air mata dalam diam. Terlalu shock, dan tak percaya dengan kabar buruk yang dibawa oleh Dokter.
Beda halnya dengan Abi Zaid yang hanya terduduk lemas dengan tatapan yang kosong. Meski ia tak mengeluarkan air mata, tapi jelas terlihat ia pun begitu terpukul dengan kabar itu.
Ameer memegang dadanya yang terasa begitu sesak, ia merasa tak bisa bernapas sekarang.
__ADS_1
"Ameer?" Abi Zaid memegang kedua bahu putranya itu.
"Aku ... aku bermimpi buruk, Bi," lirih Ameer dengan suara yang bahkan hampir tak terdengar oleh dirinya sendiri.
Dokter yang melihat hal itu tak mampu menyembunyikan kesedihannya, meski mereka bukan keluarganya, tetapi kesedihan yang terlihat di mata Ameer membuat ia juga merasa sakit.
"Maafkan aku," ucap Dokter itu dengan lirih.
"Tidak, ini ... ini pasti hanya mimpi." Ameer menyeka air matanya tetapi air mata itu tak mau berhenti mengalir.
Ummi Nayla langsung memeluk Ameer dengan erat, keduanya kini sama-sama melepas tangis. Shafa dan Marwa juga tak bisa menahan air matanya melihat Ameer yang begitu terluka.
"Ummi, tolong ... tolong bangunkan aku," lirih Ameer di pelukan sang Ibu. "Mimpi ini terlalu menakutkan, Ummi."
Ummi Nayla tak bisa berkata-kata, ia hanya bisa mengusap punggung Ameer dengan lembut.
"Aku mohon, Ummi," rengek Ameer dengan suara yang tercekat.
"Istighfar, Nak," lirih sang Ibu. "Ini bukan mimpi."
Tangis Ameer semakin pecah, ia memeluk ibunya dengan erat dan melepaskan tangisnya yang terdengar begitu pilu.
Abi Zaid tidak tahan melihat luka Ameer, ia langsung memalingkan wajah sembari menyeka air matanya.k
Sementara Shafa dan Marwa dan kini bersimpuh di sisi Ameer dan mereka memeluk Ameer bersama ibu mereka.
Ameer tak bisa percaya dengan takdir ini, baru beberapa saat yang lalu ia melihat Meizia tersenyum saat putri mereka lahir. Baru beberapa saat yang lalu keduanya saling pandang dan saling berpegangan tangan.
Tapi kenapa takdir bisa dengan begitu mudahnya membalik keadaan?
Setelah sedikit tenang, Ummi Nayla meminta Ameer berdiri untuk melihat Meizia. Dengan berat hati, Ameer menemui sang istri yang kini terbujur kaku.
Ameer menatap wajah istri tercintanya itu, mengusap kepalanya kemudian mencium keningnya. Air mata Ameer kembali tumpah, hingga membasahi kening sang istri.
"Kamu tidak bisa pergi begitu saja, Sayang," lirih Ameer.
"Kamu sudah janji tidak akan pernah pergi ke mana pun tanpa izin ku." Ameer mengusap sudut mata Meizia yang sedikit basah karena sisa air matanya.
"Aku tidak mengizinkan kamu pergi, Meizia!" geram Ameer sembari mengguncang pundak sang istri.
__ADS_1
"Ameer, hentikan," pinta sang Ibu dengan tegas.
Namun, Ameer tak mau peduli.
"Ayo, Meizia! Buka matamu, Sayang," bisik Ameer putus asa. "Anak-anak kita lahir dengan selamat, mereka pasti ingin berada di pelukanmu."
"Meizia!"
"Aku tidak mau hidup tanpa kamu!"
"Setidaknya buka matamu sekali saja, Sayang."
"Setidaknya pamitan sama aku sebentar saja."
"Meizia, aku mohon!"
"Kamu tidak pernah melangkah keluar dari rumah tanpa izinku, lalu bagaimana kamu bisa pergi ke tempat yang begitu jauh dan tak meminta izinku sekali saja?"
"Setidaknya katakan sesuatu, Meizia!"
"Ini tidak adil, Meizia!"
"Ini benar-benar tidak adil!"
Ameer menjatuhkan kepalanya di pelukan Meizia, ia memeluk sang istri dan kembali menangis di sana.
Abi Zaid sejak tadi hanya berdiri dan memandangi Ameer, tetapi melihat putranya yang terus menangis bahkan di sisi jenazah sang istri membuatnya semakin terluka. Ia mendekati Ameer, menarik Ameer dan memeluknya dengan erat.
"Jangan menangis di pelukannya jika kamu memang mencintainya, Nak," bisik Abi Zaid. "Abi yakin kamu tahu dengan pasti hal itu tidak baik."
Tangis Ameer kembali pecah, kini ia memeluk ayahnya dengan erat dan menangis di sana. Sesuatu yang tak pernah ia lakukan sejak remaja hingga dewasa.
"Aku tidak mau ini terjadi, Bi!" lirih Ameer. "Ini tidak adil!"
"Jangan berkata begitu, Nak." Abi Zaid menepuk punggung Ameer. "Memang seperti inilah akhir dari setiap yang hidup di dunia, ini adalah takdir mutlak yang tak dapat di tawar."
"Kenapa takdirku pahit sekali, Bi?"
"Takdir-Nya selalu yang terbaik, Ameer, kamu pasti tahu itu."
__ADS_1