Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 77 - Pasrah


__ADS_3

Kecelakaan yang terjadi menyita perhatian, apalagi Hana yang terjepit dan tak bisa langsung dikeluarkan. Sementara sang Ibu sudah dipastikan meninggal di tempat, berbeda halnya dengan Syafiq yang berhasil diselamatkan meski juga dengan susah payah, tetapi ia masih bernapas segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.


"Hana yang paling terakhir bisa dikeluarkan dari mobil," lirih Riana yang kini kembali berlinang air mata. "Adikku ... hampir mati di sana." Suara Riana hilang, ditelan isak tangisnya.


Dadanya terasa sesak, seperti dihimpit gunung yang begitu besar. Hatinya begitu sakit, seperti disayat ribuan silet. Ibu yang begitu ia cintai kini sudah pergi, bahkan tanpa mengucapkan kata perpisahan. Dan adik yang begitu ia sayangi kini sekarat, tanpa ada yang tahu apa yang akan terjadi setelah ini.


Ummi Nayla yang mendengar cerita Riana tak bisa lagi membendung air matanya, bahkan ia tak sanggup lagi berdiri. Ummi Nayla terjatuh, lututnya lemas seperti tak bertulang.


"Tidak mungkin," lirih Ummi Nayla, ibunya Hana sudah ia anggap adik sendiri, ia tak bisa menerima kenyataan ini begitu saja.


"Tante..." Riana langsung memeluk Tante-nya itu dan mereka menangis bersama. "Aku ... aku sudah tidak punya," lirih Riana yang membuat hati Ummi Nayla seketika remuk.


Ia memeluk keponakan nya itu dengan sangat erat. "Kamu masih punya ibu, Sayang," bisik Ummi Nayla dengan suara tercekat. "Bukankah yang memeluk mu ini juga ibumu?"


Tangis Riana semakin pecah, bahkan sang Ayah dan suaminya juga tak bisa menahan air mata mereka.


"Menangislah, Abi," pinta Ilyas yang tahu sang Ayah masih mencoba menahan rasa sakitnya. "Tidak apa-apa, keluarkan air matamu." Pria itu memeluk sang Ayah mertua dan benar saja, pria paruh baya itu juga menangis sejadi-jadinya.


Kehilangan seorang istri bagaikan kehilangan semua anggota tubuhnya, seperti kehilangan jiwanya.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan tanpa dia?" racau Abi Thohir di tengah isak tangisnya. "Bagaimana aku bisa mengurus rumah tanpa dia? Ya Allah, apa yang harus aku lakukan tanpa istriku?"


Dada Ilyas semakin sesak mendengar kata-kata ayah mertuanya itu, apalagi ia tahu selama ini mereka memang begitu dekat. Bahkan, ayah dan ibu mertuanya selalu bepergian bersama. Mereka seperti magnet yang tak bisa dipisahkan, tetapi kini takdir telah menjalankan apa yang telah digariskan untuk mereka.


Sementara itu, Ameer menemani Meizia yang masih tak sadarkan diri. Ia menggengam tangan sang istri dengan lembut, tatapannya lurus menatap wajah Meizia yang berseri. Pikiran Ameer juga melayang pada Hana, bertanya-tanya apakah itu Hana atau bukan.


"Pak Ameer?"


Ameer mendongak saat mendengar suara Dokter. "Bagaimana keadaan Meizia, Dok? Apa dia dan anak-anak kami baik-baik saja?" tanya Ameer cemas.


"Iya, Alhamdulillah keduanya baik-baik saja," jawab Dokter yang membuat Ameer menghela napas lega dan tak lupa mengucapkan syukur yang mendalam.


"Tapi kenapa tiba-tiba dia demam bahkan pingsan, Dok?" tanya Ameer kemudian.


"Ya Allah," gumam Ameer sembari membelai pipi Meizia. "Kamu hampir membuatku jabtungan, Zia."


"Oh ya, ada baiknya malam ini Ibu Meizia dirawat ya, Pak, besok pagi kami akan kembali memeriksanya. Jika kami sudah memastikan tak ada masalah, Ibu Meizia boleh pulang."


"Baik, Dok," sahut Ameer pasrah.

__ADS_1


Setelah Dokter pergi, Ameer mencoba menghubungi sang Ibu tapi tak ada jawaban, membuat Ameer merasa semakin cemas.


Ia ingin pergi untuk mencari tahu sendiri, tapi Ameer tak tega meninggalkan Meizia yang masih tak sadarkan diri.


Sementara di sisi lain, kedua orang tua Syafiq yang juga mendapatkan kabar kecelakaan putra mereka langsung bergegas ke rumah sakit. Ia juga sudah mendapatkan kabar bahwa calon ibu mertua Syafiq tak bisa diselematkan, sementara keadaan Hana dan Stafiq kini kritis.


Saat ini, kedua orang tua Syafiq menunggu di depan ruang operasi, di mana putra mereka sedang di operasi, sedang berjuang untuk bertahan hidup.


"Kenapa ini terjadi sekarang, Bi?" lirih wanita paruh paya itu dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. "Seharusnya mereka bersiap-siap untuk pernikahan, tapi kenapa yang terjadi tidak seperti yang kita siapkan?"


"Sabar, Ummi," pinta sang suami dengan lembut meski sebenarnya ia juga takut, khawatir, cemas. "Ini takdir yang sudah Allah gariskan."


"Tapi ini terlalu menakutkan, Bi, bagaimana kalau Syafiq ... kalau dia—"


"Inysaallah dia akan selamat, kita berdoa saja, Hem?"


Pria paruh baya itu memang memperlihatkan kekuatannya hanya agar sang istri juga berusaha kuat, padahal hatinya juga rapuh.


Kecelakaan yang dialami Syafiq cukup parah, bahkan satu nyawa melayang di tempat kejadian. Bagaimana mungkin dia tidak takut sekarang?

__ADS_1


Di sisi lain, keluarga Hana pun juga menunggu Hana yang sedang di operasi. Mereka semua juga sangat siap mendonorkan darah sebanyak apapun akan Hana butuhkan. Bahkan, Abi Thohir siap jika harus menukar nyawanya dengan nyawa sang putri. Namun, semua itu hanya harapan semata.


Sementara Ameer, ia masih setia menemani sang istri, berharap Meizia segera sadar dan menatapnya penuh cinta seperti biasa.


__ADS_2