
Di saat Riana dan Abi Thohir cemas menunggu Hana yang di periksa Dokter, mereka harus kembali menerima kabar buruk tentang kematian Meizia. Sesuatu yang tak mereka duga, yang memukul mereka dengan begitu keras. Apalagi kemarin mereka masih berbicara dengan Meizia yang sehat wal afiat. Lalu bagaimana bisa sekarang kematian merenggut nya begitu saja?
"Innalilahi wa innailaihi rojiun."
Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut mereka dengan lemas.
Di saat semua orang sedang berduka dengan keadaan nya masing-masing, Syafiq justru sedang begitu semangat dan berbahagia setelah Dokter mengatakan ia boleh pulang. Kebahagiaan nya semakin besar saat ia mendapatkan kabar dari Dokter bahwa Hana juga sudah siuman.
"Pikirkan sekali lagi, Syafiq," pinta sang Ibu memelas. "Demi masa depan kamu sendiri."
"Saat Abi memberikan foto Hana dan mengatakan ingin menjodohkan ku dengan Hana, saat itu aku sudah memutuskan Hana adalah masa depan ku, Ummi." Syafiq menjawab dengan tegas dan penuh keyakinan.
"Sudah lah, biarkan Syafiq memutuskan sendiri tujuan hidup nya," tukas Abi Ahmad. "Apalagi dia sudah dewasa, sudah bisa membedakan mana yang benar dan salah."
"Tapi, Bi__"
Abi Ahmad menatap istri nya itu dengan tajam, seolah meminta nya diam dan tak lagi mengungkit masalah itu.
Sebagai Ayah, tentu ia juga ingin pasangan yang terbaik untuk putra nya. Akan tetapi, ia juga merasa tak enak hati, malu dan merasa bersalah pada keluarga teman nya. Merasa tak tega jika harus memutuskan perjodohan di saat Hana kehilangan kesempurnaan nya sebagai wanita. Bertanya-tanya pria mana lagi yang akan menikahi nya nanti jika bukan Syafiq.
"Aku ingin melihat Hana sekarang," kata Syafiq.
__ADS_1
Ibunya tak bisa berbuat apa-apa karena sang suami mendukung Syafiq, kini ia hanya bisa pasrah.
Mereka bertiga pun bergegas ke ruang rawat Hana, tetapi mereka merasa bingung melihat Riana dan Abi Thohir duduk lemas di depan kamar Hana.
"Apa Hana baik-baik saja?" tanya Syafiq tanpa basa-basi.
Riana dan ayah nya langsung mendongak, tetapi tak berbicara apapun. "Aku mohon beri tahu aku, Ri, Hana baik-baik saja, kan?" desak Syafiq.
"Dia shock berat setelah tahu ibunya meninggal," jawab Abi Thohir dengan lirih.
Seketika rasa bersalah kembali menghantam hati Syafiq, membuat ia hanya bisa tertunduk malu.
"Pasien sudah sadarkan diri, dia ingin bertemu denganmu, Pak."
Abi Thohir langsung masuk ke ruang rawat Hana, yang langsung di sambut dengan senyum Hana tetapi juga air mata nya.
"Maafin Abi, Sayang," ucap Abi Thohir dengan lirih.
"Kita akan melewatinya bersama," balas Hana sembari menggenggam tangan sang Ayah. "Apa ummi mengatakan sesuatu sebelum pergi?"
Abi Thohir hanya menggeleng pelan, sebab sang istri memang meninggal di tempat kejadian.
__ADS_1
""Tidak apa-apa," kata Hana meski suara nya tercekat dan air kembali mengalir dari sudut mata nya. Namun, Hana segera menyekanya. "Lagi pula ummi sering mengatakan sesuatu dulu, tentang banyak hal. Aku tidak akan melupakan nya."
Abi Thohir mengangguk pelan sambil tersenyum tipis, tapi ia merasa senang dan lega karena Hana lebih kuat dari yang ia bayangkan. Meski ia juga tahu betapa hancur nya hati Hana sekarang.
Abi Thohir memeluk Hana dengan erat, sembari terus mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja.
Sementara di sisi lain, Ameer melakukan apa yang harus ia lakukan pada jenazah sang istri. Namun, ia seperti raga tanpa jiwa.
Setelah jenazah Meizia di mandikan, ia mulai dikafani dan Ameer terus menatapnya tanpa berkedip. Akan tetapi sekarang tak lagi ada air mata, seolah air mata Ameer telah kering, atau ia lelah menangis.
"Tunggu aku di sana," bisik Ameer sebelum akhirnya ia memberikan kecupan terakhir nya untuk sang istri.
Setelah dikafani dan di sholati, kini saatnya mereka mengantar Meizia ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Ameer membawa keranda itu bersama sang Ayah, dan kedua kakak iparnya.
Ameer teringat saat kali pertama melihat Meizia, dan untuk pertama kali nya ia merasa tertarik pada seorang wanita. Bukan karena kecantikan wajah nya, atau keindahan tubuh nya. Namun, hal pertama yang membuat Ameer tertarik adalah mata Meizia yang tampak begitu sayu, raut wajah datar dan tanpa senyum.
Ia juga teringat bagaimana Meizia terus menghindarinya, juga bagaimana mereka akhirnya menikah, melewati suka duka bersama sebagai suami istri dari background yang bertolak belakang.
"Kamu yang paling istimewa, yang paling aku cinta, tanpa alasan dan syarat. Di dunia ini, aku mencintaimu dan menjadikanmu ratuku. Di Surga-Nya kelak, aku harap kau tetap menjadi cintaku dan bidadariku."
__ADS_1