
Ummi Nayla, Abi dan semua keluarga Ameer menyambut kabar kehamilan Meizia dengan sangat gembira. Semua orang tersenyum, mengucapkan puji syukur bahkan Kakek langsung menyumbangkan sejumlah uang pada beberapa yayasan sebagai bentuk rasa syukur nya atas kehamilan Meizia.
Melihat semua kebahagiaan itu membuat ketakutan Meizia musnah untuk sementara, siapa yang sangka wanita seperti nya bisa menjadi alasan orang-orang seperti Ummi Nayla di penuhi dengan kebahagiaan?
Sementara Ameer? Tentu saja pria itu tak berhenti tersenyum, ia juga semakin memanjakan Meizia.
"Mulai sekarang Ummi harus mengurangi jadwal bepergian," kata Ummi Nayla yang datang membawa teh jahe untuk Meizia, menantu nya itu sudah mulai merasa mual-mual padahal beberapa hari sebelum nya tidak pernah.
"Kenapa begitu?" tanya Meizia. "Aku bisa menjaga diri ku sendiri, Ummi, sungguh." Meizia meminum teh jahe yang masih sedikit panas itu.
Saat ini kedua wanita itu sedang duduk di sofa, Meizia yang masih merasa lemas dan sering pusing memilih duduk di santai di sana.
"Ameer bekerja setiap hari, sementara kamu harus di jaga 24 jam," tukas Ummi Nayla. "Kehamilan mu juga masih sangat muda, jadi harus ekstra hati-hati menjaga nya. Setelah usia kandungan mu di atas 5 bulan dan baik-baik saja, baru lah Ummi bisa tenang."
Meizia tersenyum dan mengangguk saja, ia berpikir seperti nya memang akan menyenangkan di beri perhatian lebih oleh sang Ibu mertua.
"Oh ya, mulai sekarang kamu harus hati-hati jika makan di luar. Apa yang masuk ke dalam tubuh kamu selama masa kehamilan atau menyusui, itu sangat berpengaruh pada janin kamu. Bukan hanya pada kesehatan fisik nya, tapi juga pada kecerdasan dan lain nya," tukas Ummi Nayla panjang lebar.
"Apa yang kita makan harus suci, halal dan baik. Karena jika kita memakan sesuatu yang tidak suci, tidak halal apalagi tidak baik itu akan berpengaruh besar pada karakter anak-anak kita."
"Oh ya?" pekik Meizia.
"Yaps," jawab Ummi Nayla. "Kami selalu di ajarkan untuk memberikan makanan yang halal dan baik pada anak-anak kami, yang paling teliti dalam hal ini ayahnya Hana," tukas Ummi Nayla. "Sejak Hana dalam kandungan, ibu dan ayahnya selalu memastikan yang mereka konsumsi adalah makanan yang halal dan baik. Ummi rasa itu berpengaruh sangat besar, Hana bisa menghafal Qur'an saat usianya 7 tahun."
Meizia menganga lebar, tampak nya ia semakin mengagumi wanita itu sekarang.
"Hana memang hebat," puji Meizia.
"Orang yang mendidik nya hebat," ralat Ummi Nayla. "Saat Hana dalam kandungan, ibunya mulai menghapal Qur'an. Dan saat Hana masih bayi, mereka sering memperdengarkan Hana dengan bacaan Qur'an. Sehingga ayat-ayat suci itu pasti sudah terserap oleh otak Hana."
Meizia tersenyum lebar mendengar cerita indah Hana, ia mengusap perut nya dengan lembut. "Semoga kamu jadi seperti Tante Hana ya, Sayang."
"Inysaallah," seru Ummi Nayla. "Kita akan menjaga nya bersama."
Meizia menatap ibu mertuanya dengan dalam, penuh penghormatan juga cinta. Meizia masih ingat dengan jelas ekspresi sang ibu mertua saat pertama kali bertemu Meizia dan mengetahui siapa dirinya.
"Kenapa menatap Ummi begitu?" tanya Ummi Nayla sembari menyalakan televisi.
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Ummi." Tiba-tiba Meizia meletakkan kepala nya di pundak sang ibu Mertua, membuat Ummi Nayla hanya bisa terdiam bingung, tak biasanya Meizia bertingkah manja. Namun, tentu ia membiarkan hal itu.
"Terima kasih banyak karena Ummi mau memberi ku kesempatan menjadi putri Ummi," ucap Meizia. "Anak ku akan sangat beruntung menjadi cucu Ummi." Suara Meizia terdengar rendah di akhir kalimat, ia kembali teringat dengan sang Ibu yang tak pernah lagi ia jenguk.
Bukan nya Meizia tak mau peduli pada Mami Lala, ia hanya mencoba menjauhkan diri dari segala sesuatu yang mengingatkan nya akan masa lalu. Meizia juga selalu mendoakan sang Ibu agar segera mendapatkan hidayah.
"Cinta Ameer untuk mu terlalu kuat untuk kami tolak, Mei," ujar Ummi Nayla sembari mengulum senyum. "Cinta yang dia bawa untuk mu membawa kami semua pada mu."
Jika saja bukan karena demi kebahagiaan Ameer, mungkin sampai kapan pun dia tidak akan pernah bisa menerima Meizia.
"Aku tidak punya apapun untuk aku berikan pada kalian sebagai ucapan terima kasih," ucap Meizia. "Tapi sekarang aku punya bayi ini, semoga kelak dia membanggakan kalian semua."
"Aamiin."
Ummi Nayla mengaminkan sambil tersenyum manis.
Tak berselang lama, terdengar suara deru mobil dari luar. Kemudian di susul dengan suara nyaring Adiba dan Amina.
"Adik nya belum lahir kata Ummi!"
Itu suara Adiba, pikir Meizia. Anak gadis itu memang paling nyaring suara nya.
Terdengar suara tawa Shafa dan Marwa Setelah kata-kata konyol Amina. "Anak itu pasti selalu merusuh," kata Ummi Nayla.
"Assalamualaikum, Nenek!" seru dua bocah perempuan itu yang kini sudah sampai di ruang keluarga. "Assalamualaikum calon Umminya adik." Mereka juga mengucapkan salam pada Meizia.
"Waalaikum salam calon kakak nya adik," jawab Meizia sambil tersenyum lebar.
"Dua bocah ini memaksa mau ke sini setelah tahu Meizia hamil," kata Shafa sembari mendaratkan bokong nya di sofa yang bersebrangan dengan Meizia.
"Oh ya?" Meizia tersenyum pada dua anak perempuan itu. "Kalian senang akan punya adik?"
"Senang sekali, Tante," jawab Amina dengan semangat, bahkan bocah itu kini memaksa duduk di antara Meizia dan Ummi Nayla, sehingga mau tak mau sang Nenek harus bergeser. Sementara Adiba duduk di sisi Meizia yang lain.
"Adik nya laki-laki atau perempuan, Tante?" tanya Adiba tetapi tiba-tiba kening gadis itu berkerut. "Tapi 'kan adik nya belum keluar, siapa yang tahu apakah laki-laki atau perempuan."
"Benar," kekeh Meizia. "Apakah adik nya laki-laki atau perempuan, kalian doakan saja semoga sehat, okay?"
__ADS_1
Dua bocah itu mengangguk. "Oh ya, kapan lahir nya?" tanya Amina yang tampak lebih semangat dari Adiba.
"Anak mu, Marwa!" kekeh Ummi Nayla sambil geleng-geleng kepala, semua orang tentu tertawa mendengar pertanyaan Adiba.
"Kurang lebih 9 bulan lagi, Sayang," jawab Meizia. "Sekarang usia adik nya masih dua minggu."
"Ih, usia dua minggu? Kecil sekal," ringis Amina.
"Iya, sabar, ya." Meizia mengusap kepala anak gadis itu.
"Ameer di mana, Meizia?" tanya Marwa.
"Masih di kantor, Mbak," jawab Meizia.
Para wanita itu bercengkrama sembari menunggu Ameer pulang, Shafa dan Marwa berbagi kisah pengalaman hamil mereka pada Meizia. Rupa nya Shafa sama seperti Meizia, awal-awal kehamilan ia hanya merasa pusing dan lemas. Tak ada tanda-tanda lain. Sementara Marwa sebaliknya, wanita itu merepotkan semua orang karena dia mudah sakit saat hamil.
Berbagai candaan, cerita dan harapan terlontar dari bibir para wanita itu. Hingga tak lama kemudian Ameer datang dengan membawa sesuatu.
"Assalamualaikum, Sayang," sapa Ameer sembari memberikan kecupan singkat di pelipis Meizia.
"Waalaikum salam," jawab Meizia sembari mencium tangan Ameer.
"Kami semua di sini!" seru Shafa. "Salam kamu cuma buat Meizia?" godanya.
"Untuk kalian semua, Kum artinya 'kan kalian," elaknya.
"Maklum saja, Shaf," sambung Marwa. "Istri lagi hamil muda, kehamilan pertama lagi. Tapi di ratu kan selalu."
Meizia tersenyum malu karena kedua kakak Ipar nya menggoda tiada henti, sementara Ameer tampak tak peduli.
"Kita ke kamar, ya." Ameer merangkul Meizia.
"Silakan pergi ke kamar, ngamar terus!" seru Shafa.
"Mbak Shafa," protes Ameer.
"Sudah, sudah!" seru Ummi Nayla. "Bawa saja Meizia ke kamar, Ameer, dia butuh rebahan di ranjang karena seperti nya dia masih lemas."
__ADS_1
"Terima kasih, Ummi, kau yang terbaik."