
Ameer hanya bisa tercengang saat mendengar cerita Meizia tentang keinginan salah satu temannya yang mau kembali pada pekerjaan sebelumnya, dengan alasan hasilnya tidak cukup untuk keluarga jika menjalani pekerjaan sebagai penjaga toko.
Hati Ameer seperti tercubit, bahkan ia ingin menangis rasanya.
"Besok kalian semua bisa menemui kakakku," kata Ameer. "Mereka punya toko baju, khusus wanita dan anak-anak. Kalian bisa menjadi karyawan di sana."
"Pakian muslim?" tanya salah satu teman Meizia.
"Yaps," jawab Ameer.
"Tapi apa kata orang kalau seorang mantan pelacur menjual baju muslim?" celetuk Yang lain.
"Apa kalian pernah mendengar kisah seorang pelacur yang menjadi penghuni surga?" Ameer balik bertanya yang membuat para wanita itu termangu.
"Jika surga saja, tempat paling indah dan suci bisa ditempati oleh seorang mantan pelacur. Apalagi hanya sebuah toko yang menjual pakaian muslimah?" Ameer melanjutkan.
"Orang tidak akan bertanya, apakah kamu pernah melakukan dosa atau tidak. Orang hanya akan bertanya, apakah ada baju yang mereka inginkan atau tidak," tegas Ameer. "Dan jika ada yang bertanya tentang hidup kalian, jika itu mengarah pada aib. Maka tutup mulut kalian rapat-rapat, karena sebenarnya orang itu tidak berhak bertanya dan kalian tidak wajib menjawab. Justru, sebuah kewajiban bagi kalian untuk tidak membuka aib yang sudah Allah tutup!"
Mereka saling pandang, mencoba mencerna apa yang baru saja Ameer jelaskan penuh penekanan.
"Satu hal lagi, perbaiki penampilan kalian," pinta Ameer kembali dengan tegas.
"Meskipun kata orang jangan menghakimi orang dari penampilannya, tetapi sesungguhnya memperbaiki penampilan salah satu aspek penting bagi seorang muslimah. Jika kalian berpakaian tertutup, dari atas sampai bawah. Orang akan menghargai kalian sebagaimana kalian menghargai diri kalian sendiri. Karena jika seorang muslimah berpenampilan yang baik sesuai aturan agama, maka yang terlihat hanya kebaikan itu. Mengerti?"
Tak ada yang bersuara, lagi-lagi mereka hanya saling melirik satu sama lain. Sementara Meizia sejak tadi hanya menunduk dalam sembari menautkan kedua tangannya.
"Oh ya, apa kalian tahu rumahku?" tanya Ameer yang langsung membuat Meizia mendongak.
__ADS_1
"Tidak tahu," jawab Jenny, yang lainnya pun menggeleng pelan.
"Aku akan memberikan alamat rumahku, di sampingnya ada musholla di mana ada kajian setiap sore. Datanglah ke sana sore ini, mungkin ini bisa memperbaiki cara pandang kalian terhadap kehidupan. Kita akan sama-sama belajar untuk menghadapi hidup ini dengan bijak, sesuai ajaran syariat agama kita."
"Apa kau akan berceramah seperti di video yang tersebar?" celetuk Jenny tiba-tiba. "Meizia sering menonton cermahmu." Lanjutnya yang membuat pupil mata Meizia melebar.
Kini tatapan Ameer langsung tertuju pada wanita itu dan seketika Meizia kembali menunduk dalam.
"Semacam itu," kata Ameer kemudian. "Aku tidak bermaksud menceramahi kalian sebenarnya, aku hanya ingin kita sama-sama belajar."
Meizia mengulum senyum mendengar ucapan terakhir Ameer, sungguh rendah hati, pikir Meizia. Siapa yang takkan takjub pada pria seperti itu?
"Kamu seorang Ustadz, bagaimana bisa menyamakan dengan diri kami dengan mengatakan kita sama-sama belajar?" celetuk salah satu wanita itu.
"Ustadz itu gelar yang diberikan manusia pada seseorang yang mengajar, bukan sebuah title dari Tuhan bahwa seseorang itu tidak akan melakukan dosa," tegas Ameer, sebuah jawaban telak.
"Padahal ada telfon," celetuk Jenny sambil melirik Meizia. "Kecuali ingin bertemu secara langsung."
"Jenny?" tegur Meizia.
"Aku pulang dulu," kata Ameer kemudian.
"Terima kasih banyak," ucap Jenny. "Kamu berjasa pada hidup kamu, Ustadz Ameer. Apa yang bisa kami lakukan untukmu sebagai ucapan terima kasih?"
"Belajar dan bersabar menjalani sisa hidup yang ada," jawab Ameer. "Jangan pernah kembali ke jalan yang dulu atau perjuangan kami semua sia-sia."
Jenny mengangguk tegas sambil tersenyum.
__ADS_1
Setelah itu Ameer langsung pulang ke rumah, apalagi ibunya sudah mengirimkan beberapa pesan yang menanyakan keberadaan Ameer.
Terkadang Ameer merasa heran dengan sang ibu, kini ia sudah besar tapi ibunya selalu ingin tahu Ameer di mana, sama siapa dan sedang apa. Seolah Ameer anak kecil yang harus selalu jaga.
Sesampainya di rumah, Ameer memberi tahu dia dari mana dan apa yang dia lakukan. Tentu saja dia tidak bisa berbohong dan rupanya itu membuat sang ibu terlihat marah.
"Lain kali ajak Ummi, Shafa atau Marwa kalau kamu ingin menemui seorang wanita," tegas Ummi Nayla dengan kesal setelah tahu Ameer menemui Meizia seorang diri.
"Mereka sibuk, Ummi," kata Ameer sambil tersenyum tipis.
"Lalu ibumu ini?" Ummi Nayla menunjuk dirinya sendiri.
"Aku tidak kefikiran ke sana." Ameer menjawab dengan jujur.
"Astagfirullah, Nak." Ummi Nayla mengusap dadanya sambil menarik napas panjang. "Kamu tahu 'kan kenapa Ummi tidak mau kamu bebas berteman dan bertemu seorang wanita? Bisa terjadi fitnah, Ameer, atau bahkan bisa menjadi jalan dosa, jalan maksiat tanpa kamu sadari."
Ameer hanya bisa menunduk dalam mendengar setiap kata yang diucapkan sang ibu dengan penuh penekanan itu.
"Godaan setan itu halus sekali, Nak, mungkin sekarang kalian hanya bertemu, lalu bagaiman besok? Besoknya lagi? Lama-lama itu akan menjadi sebuah kebiasaan kemudian tanpa sadar kalian bisa tergelincir ke lembah dosa."
"Kakek juga sering bilang begitu, Ummi," kata Ameer.
"Memang itu benar," balas Ummi Nayla.
"Makanya kakek menyarankan aku supaya menikahi Meizia saja, biar tidak terjadi fitnah dan maksiat."
"AMEER!"
__ADS_1