Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 76 - Takdir?


__ADS_3

"Seharusnya tadi aku ajak Meizia ya, Ummi, dia pasti senang," kata Hana yang baru saja keluar dari masjid bersama sang Ibu.


Keduanya menghadiri sebuah pengajian akbar yang dihadiri oleh banyak jemaah dari berbagai tempat, awalnya Ummi tidak ingin pergi karena sebentar lagi hari pernikahan Hana. Akan tetapi, Hana justru memaksa ikut kajian itu, ia mengatakan setelah menikah dia akan pergi ke tempat yang cukup jauh bersama suaminya, sehingga akan sangat jarang menghadiri kajian seperti ini.


"Kamu tahu sendiri Ameer begitu protektif sama istri nya, dia bahkan tidak di izinkan melangkah keluar dari rumah tanpa seiizin nya," ujar sang Ibu sambil tertawa kecil.


"Iya sih, aku sangat kagum pada Meizia yang begitu patuh pada suami nya, Ummi. Aku harap nanti aku bisa seperti itu terhadap suami ku."


"Inysaallah, Nak, asal kamu harus selalu ingat bahwa pernikahan itu adalah ibadah. Dengan begitu, kamu akan selalu punya motivasi untuk sabar dalam menjalani nya, selama suami kamu tidak belok dari jalan syariat, maka terus lah melangkah bersama."


Hana tersenyum sambil mengangguk mendengar nasihat Ibu, harus Hana akui ia sudah sering mendapatkan nasihat seperti itu sejak ia masih remaja, baik dari guru-guru nya, orang tua bahkan Paman dan Tante-nya.


Namun, Hana tak pernah bosan mendengar nasihat yang sama berulang kali. Sebab dengan begitu, peluang melupakan nasihat itu sangat sedikit, apalagi tidak menjalankan nya.


Kini, Ibu dan anak itu masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang.


"Han?" panggil sang Ibu dengan begitu lembut.


"Iya, Ummi," sahut Hana yang juga dengan lembut.

__ADS_1


"Jika kita berpisah nanti, Ummi harap kamu tidak perlu terlalu sedih ya, Nak, Allah sudah menulis takdir yang terbaik untuk kita. Apakah berpisah atau bersama."


"Iya, Ummi, Inysaallah," jawab Hana sambil tersenyum.


"Kamu juga harus belajar menjadi Ibu yang baik karena itu tak semudah yang kamu lihat, merawat dan menyayangi anak, itu hanya sisi permukaan dari perjuangan seorang Ibu. Ibu yang sebenarnya adalah yang dapat merasakan rasa sakit anak kemudian menyembuhkannya, dapat merasakan kebahagian anak kemudian menjaga kebahagiaan itu."


"Ummi akan selalu ada di sisi ku meskipun kita berjauhan, jadi aku akan selalu bertanya pada Ummi jika membutuhkannya."


Sang Ibu hanya menanggapinya dengan senyum tipis, hingga tiba-tiba sedikit oleng membuat Hana terpaksa menginjak rem sebelum terjadi sesuatu.


"Sepertinya ban mobil kita kempes, Ummi," kata Hana. Ia pun turun memeriksa, dan benar saja, satu ban mobil nya kempes.


"Kita naik taksi saja, Ummi, biar nanti Abi yang urus," seru Hana.


"Syafiq?" gumam Hana yang melihat calon suami nya turun dari mobil.


"Kalian dari mana?" tanya Syafiq.


"Dari pengajian," jawab Hana sambil menundukan kepala, menghindari kontak mata secara langsung dengan sang calon suami. "Tapi ban mobil kami kempes," tambah nya kemudian.

__ADS_1


"Oh, kalau begitu aku akan mengantar kalian pulang," seru Syafiq.


"Tidak usah, kami akan naik taksi," tolak Hana dengan cepat.


"Ayo lah, aku akan sangat senang mengantar calon istri dan calon ibu mertua ku pulang ke rumah dengan selamat," bujuk Syafiq.


Hana melirik sang Ibu, dan ibunya pun memberikan isyarat agar menyetujui saran Syafiq.


"Baiklah," ucap Hana kemudian. Kedua nya pun di persilakan masuk ke mobil Syafiq, mereka duduk di belakang sementara Syafiq duduk di depan sendirian. Hana duduk di sisi kanan, tepat di belakang Syafiq sementara sang Ibu duduk di sisi kiri.


"Kamu sendiri dari mana, Syafiq?" tanya calon ibu mertua nya pada Syafiq.


"Dari rumah teman, Tante," jawab Syafiq. Ia melirik Hana sekilas, wanita itu masih menunduk, membuat Syafiq merasa gemas.


Hingga saat di persimpangan, tiba-tiba sebuah truk tangki melaju dengan sangat cepat menghantam mobil mereka dari sisi kiri.


Kejadian itu begitu cepat, sehingga Syafiq tak dapat menghindar. Sementara ibunya Hana yang dapat merasakan hantaman itu langsung memeluk Hana dengan erat, seolah hendak melindungi sang putri.


Kerasnya hantaman itu membuat mobil terbalik, Hana masih memiliki sedikit kesadaran, tetapi ia tak mampu bersuara atau bergerak. Sementara sang Ibu kini tak bergerak lagi.

__ADS_1


Air mata Hana jatuh, bercampur dengan darah yang keluar dari pelipis nya. Hana melirik Syafiq, pria itu dalam keadaan yang sama dengan sang Ibu. Tak bergerak, sementara darah terus mengalir deras dari kepala nya.


Hana merasa seluruh tulang di tubuh nya remuk, daging-daging nya seperti terbelah. Tak sanggup menahan semua rasa sakit itu, Hana mulai kehilangan kesadarannya.


__ADS_2