Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 54 - Anugerah Atas Cinta-Nya


__ADS_3

"Jadi bagaimana dengan resepsi?" tanya Shafa yang baru saja bergabung di meja makan.


Kini seluruh keluarga Ameer berkumpul di rumah Ameer untuk makan malam, termasuk kedua kakak ipar Ameer.


"Apa akan di undur atau justru di percepat?"


"Di sesuaikan saja," jawab Ameer. "Tidak perlu terburu-buru ya juga tidak perlu di undur."


"Itu benar," sambung Abi Zaid. "Tapi Abi harap kalian menyesuaikan dengan keadaan Meizia, dia masih terlihat sangat lemas jika harus mengurus banyak hal."


"Kami akan mengurus nya, Abi," seru Marwa sambil tersenyum pada Meizia. "Adik perempuan kita ini tidak perlu mengurus apapun, dia hanya perlu fitting baju," kekeh nya.


"Terima kasih banyak, Mbak," ucap Meizia dengan tulus. "Aku serahkan semua nya pada kalian."


Mereka makan malam sembari memperbincangkan beberapa hal, dari resepsi pernikahan, masalah pekerjaan satu sama lain dan sebagai nya. Sungguh sebuah kehangatan keluarga impian.


Setelah selesai makan, Meizia hendak membantu Ummi Nayla membereskan meja makan seperti biasa. Tetapi ibu mertuanya itu melarang Meizia melakukan pekerjaan apapun.


"Kamu istirahat saja ke kamar, Sayang," kata Ummi Nayla. "Jangan lupa minum susu hamil nya sebelum tidur."


"Aku bisa jika hanya membersihkan meja makan," ujar Meizia.


"Ada kami di sini, Meizia," seru Shafa. "Kami akan mengurus nya, jangan khawatir."


Tentu saja Meizia merasa tidak nyaman pada kedua kakak perempuan Ameer jika ia tak bekerja di dapur. Namun, mereka terus memaksa Meizia agar tidak melakukan apapun untuk sementara waktu.

__ADS_1


"Setelah kamu jadi seorang Ibu, kamu akan selalu punya pekerjaan," ujar Ummi Nayla. "Jadi, mumpung sekarang bayi itu masih ada dalam rahim mu, gunakan waktu mu sebaik mungkin bersama Ameer dan untuk diri mu sendiri."


"Ah, itu sangat benar!" seru Marwa. "Dulu aku juga sedikit manja, Zia, apalagi ada Mbak Shafa yang banyak melakukan pekerjaan rumah. Tapi setelah aku punya anak, aku selalu sibuk hampir 24 jam." Meizia tertawa kecil mendengar cerita Marwa. "Jadi mumpung anak mu belum lahir, gunakan waktu mu sebaik mungkin untuk manja-manjaan."


"Ya sudah," ucap Meizia yang akhir nya mengalah. "Aku ke kamar dulu, terima kasih banyak, Mbak."


"Sama-sama, Sayang," ucap Shafa dengan lembut.


Meizia pergi ke kamar dan tak berselang lama Ameer menyusul nya.


"Apa kamu tidak mengidam sesuatu, Sayang?" tanya Ameer sembari menutup pintu dengan rapat.


"Belum arti nya akan," kekeh Ameer. "Aku tidak sabar ingin tahu kamu akan mengidam apa," ujar nya. "Suami kedua kakak perempuan ku tadi cerita, kata nya kakak-kakak ku mengidam makanan di waktu yang tidak tepat. Seperti lapar di tengah malam, ingin makan mangga muda padahal tidak musim mangga. Ingin makanan pedas di jam tiga pagi dan sebagai nya."


"Aku harap aku tidak merepotkan mu seperti itu nanti," ujar Meizia.


Meizia tertawa mendengar pengakuan Ameer, suami nya itu memang sangat berbeda, selalu mampu membuat Meizia merasa seperti seorang ratu.


Hari semakin larut, yang tadi nya di luar terdengar ramai dengan suara Adiba dan Amina kini sudah senyap.


Ameer dan Meizia pun sudah bersiap tidur. "Aku aku boleh meminta sesuatu?" tanya Meizia sembari merebahkan diri nya di pelukan sang suami.


"Apapun untuk mu, Sayang," jawab Ameer dengan cepat.


"Aku ingin kamu menjadikan anak kita orang yang baik," kata Meizia sembari membawa tangan Ameer ke perut nya.

__ADS_1


"Itu sudah kewajiban setiap orang tua," jawab Ameer sambil tertawa kecil.


"Benar juga," gumam Meizia yang langsung membuat Ameer tergelak. "Kamu sudah menyelamatkan aku dan orang-orang seperti ku, Ameer," kata Meizia sembari tersenyum tipis. "Sekarang kamu membuat hidup ku sempurna, aku punya ayah, ibu, saudara, sahabat. Semuanya sangat indah."


"Itu anugerah dari Allah untuk mu, Sayang," bisik Ameer dengan mesra di telinga Meizia. "Atas kesabaran mu selama ini."


Meizia mengangguk kemudian berkata, "Ada banyak alasan kenapa orang-orang seperti kami bisa terjebak dalam lumpur dosa ini. Ada yang terpaksa melakukan nya, ada yang di paksa melakukan nya. Apapun alasannya kami tahu itu tetap salah, ini sangat sulit untuk kami. Kami putus asa, kami menyerah, kami hidup dalam kegelapan. Tapi kamu ...." Meizia mendongak, menatap sang suami sambil tersenyum.


"Kamu datang membawa cahaya harapan, menarik kami ke permukaan, kebaikan mu sungguh luar biasa, Sayang."


"Itu sudah menjadi kewajiban ku," sahut Ameer sembari membelai pipi Meizia.


"Dan atas kewajiban dan kebaikan mu itu, aku tidak punya apapun untuk aku berikan sebagai ucapan terima kasih selain bayi ini." Meizia menggenggam tangan Ameer yang masih menyentuh perut nya. "Orang bilang, anak adalah anugerah terbesar bagi seseorang. Aku rasa mereka benar, anak ini anugerah untuk kita."


"Buah cinta kita," ucap Ameer.


"Hem, dia tidak seperti ku yang lahir dari dosa dan sebagai dosa orang tua ku. Anak kita lahir cinta dan sebagai pahala bagi kita, ini sangat indah." Meizia tersenyum lebar begitu juga dengan Ameer. "Oleh karena itu, aku minta pada mu, Sayang, tolong jaga dia agar selalu melakukan kebaikan apapun yang terjadi."


"Inysaallah, kita akan menjaga nya bersama."


"Aku boleh tanya satu hal lagi?" tanya Meizia.


"Kamu tidak perlu izin untuk itu, Sayang." Meizia mengulum senyum mendengar jawaban sang suami.


"Jika kita mati nanti, bisa kah kita tetap bersama sebagai suami istri setelah hari kebangkitan?"

__ADS_1


Ameer terdiam, ia menatap Meizia dengan nanar. "Aku hanya penasaran, karena aku sering mendengar kisah cinta sejati. Apakah itu benar-benar akan di bawa pada kehidupan setelah kematian?"


"Hanya Allah yang tahu."


__ADS_2