Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 81 - Ikhlas Yang Sesungguhnya


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Hana, Dok?" tanya Abi Thohir setelah Dokter memeriksa keadaan Hana.


"Pasien mengalami benturan yang cukup keras di bagian belakang kepalanya, Pak, dan juga mengalami pembekuan darah sehingga kami harus kembali menjalankan operasi."


Mendengar pernyataan Dokter, Abi Thohir hanya bisa menghela napas panjang. Tak tahu lagi harus melakukan apa selain berusaha sabar dan ikhlas.


Beberapa hari telah berlalu, keadaan Syafiq dan Hana masih sama. Tak ada kemajuan sedikitpun, membuat kedua keluarga semakin dilanda kecemasan yang semakin mendalam.


"Lakukan apapun yang penting putriku selamat, Dok," pinta Abi Thohir dengan suara tercekat. "Aku tidak mau kehilangan dia, aku tidak sanggup jika harus kehilangan lagi."


"Kami pasti akan berusaha memberikan usaha terbaik kami, Pak."


Abi Thohir hanya mengangguk percaya, berharap usaha dan do'a mereka tidak berakhir sia-sia.


Sementara di sisi lain, Meizia sedang bersiap-siap untuk menjenguk Hana. Wanita itu berdiri di depan kaca, memandangi dirinya sendiri dari atas sampai bawah.


Semuanya terlah berbeda, baik dari penampilan atau pun cara pandangnya tentang. Juga, cara dia menanggapi komentar orang terhadap dirinya dan masa malunya.


Meizia tidak tuli, ia tahu ada yang kembali mengusik masa lalunya dan ia tidak tahu siapa yang memulai. "Aku memang tidak bisa merubah masa lalu," ucap Meizia pada dirinya sendiri sambil tersenyum. Ia mengambil cadar dan memakainya. "Bahkan, cadar ini hanya menutupi wajahku, bukan masa lalu ku."


Sorot matanya tampak sedih, tetapi Meizia masih mempertahankan senyum nya. "Aku ikhlas, ya Allah."

__ADS_1


"Sayang?" Meizia menoleh, ia mendapati suaminya yang baru saja masuk ke dalam kamar. "Sudah siap?" tanya Ameer.


"Sudah," jawab Meizia sambil tersenyum lebar.


Ikhlas, selama ini Meizia hanya tahu definisi dari satu kata itu. Namun, setelah melewati banyak hal dalam hidupnya. Baru lah sekarang ia tahu apa itu ikhlas. Ia tak lagi marah pada takdir, ia pasrah dan tak ingin menyalahkan siapapun. Menerima semua jalan hidupnya dengan lapang dada dan tak lagi mau peduli dengan apa kata orang.


"Ayo!" Ameer mengulurkan tangannya pada sang istri yang langsung disambut oleh Meizia.


...🦋...


"Bangun, Nak!"


Ibunya Syafiq berbisik lirih, berharap itu dapat terdengar oleh putranya yang masih koma. "Kamu selalu patuh pada perintah Ummi, selalu memenuhi apa yang menjadi keinginan Ummi. Jadi sekarang Ummi mohon, bangun, Sayang! Ini adalah perintah dan keinginan Ummi."


"Ada apa, Ummi?" tanya suaminya yang baru saja kembali setelah membeli makanan untuk sang istri.


"Syafiq menggerakkan jarinya tadi, Bi," tukas sang istri antusias. "Aku yakin dia akan bangun setelah ini, dia bisa mendengar suara ku, dia memenuhi keinginan ku untuk bangun."


"Alhamdulillah, ya Allah." Ayah Syafiq langsung mengucap syukur sepenuh hati, berharap ini adalah awal yang baik untuk keluarganya.


Dokter dan Suster memeriksa keadaan Syafiq, detak jantung pria itu sudah lebih cepat dari sebelumnya. Sehingga harapan untuk menyelamatkan pasien yang sudah koma selama beberapa hari itu semakin besar.

__ADS_1


Namun, beda hal nya dengan Hana. Setelah Dokter melakukan pemeriksaan untuk yang kesekian kalinya, mereka justru menemukan kabar buruk yang harus mereka sampaikan pada keluarga pasien.


...🦋...


"Seharusnya kamu tidak perlu terlalu sering ke sini, Zia, kamu harus banyak istirahat," tukas Riana yang menyambut kedatangan Meizia.


"Aku tidak bisa melewati hari-hari ku tanpa melihat Hana, Mbak," sahut Meizia sembari duduk di sisi Riana. "Hana adalah orang yang paling berjasa dalam hidup ku setelah Ameer." Ia melirik sang suami yang kini sedang berbicara dengan Abi Thohir, mereka membicarakan administrasi, samar-samar Meizia mendengar pengeluaran mereka begitu besar untuk pengobatan Hana.


"Aku tahu, kalian sudah seperti suadara kembar," kekeh Riana. "Semua orang berkata begitu, tapi sebagian orang mengira kalian adalah madu, istri Ameer."


"HAH, apa ada yang berkata begitu?" pekik Meizia dan Riana hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.


"Astagfirullah, ada-ada saja," kekeh Meizia.


"Kenapa? Kamu tidak mau kalau misalnya Hana juga jadi istri Ameer?" goda Riana.


"Tidak mau, Mbak, nanti kita berantem dan tidak jadi suadara lagi." Meizia menjawab secara spontan, membuat Riana tertawa. "Hana memang sahabat ku, aku sama sekali tidak keberatan memberikan apapun padanya. Tapi untuk Ameer ...." Lagi-lagi ia melirik Ameer. "Ish, tidak ada yang mau berbagi suami meski dengan sahabat sendiri."


Riana mengangguk setuju kemudian berkata, "Aku juga selalu berpikir begitu, meski pahala ikhlas di madu itu besar. Tapi aku lebih memilih mencari pahala yang lain." Kedua wanita itu pun tertawa bersama.


Sementara Abi Thohir kini ikut tersenyum saat melihat Riana yang mulai tertawa dan tersenyum berkat keberadaan Meizia.

__ADS_1


"Untung saja ada Meizia," kata Abi Thohir. "Kedatangan nya membuat Riana lebih baik, Ameer."


Ameer menatap sang istri penuh cinta, ia juga merasa senang karena Meizia benar-benar melakukan yang terbaik untuk menghibur Riana.


__ADS_2