Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 38 - Janji Suci Sang Pengantin


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Meizia dengan mas kawin tersebut, tunai!"


Air mata Meizia kembali tumpah mendengar Ameer mengucapkan kabul dengan begitu lantang dan lugas, hati dan jiwanya bergetar. Hal serupa dirasakan oleh Ameer.


Ia tahu, saat akad nikah terlaksana maka itu artinya Ameer sudah menerima Meizia sebagai tanggung jawabnya dalam segala hal.


Ameer juga tahu, setelah ini mungkin jalan mereka takkan seindah yang mereka harapkan. Tetapi, itulah yang namanya rumah tangga seperti kata sang penghulu.


Dengan serempak mereka menjawab SAH setelah penghulu bertanya pada mereka sebagai saksi.


Kini mereka semua berdoa dengan khusyu, meminta sepenuh hati pada sang pemilik kehidupan agar memberkahi pernikahan Ameer dan Meizia.


Terutama Ummi Nayla dan Abi Zaid, kedua orang tua Ameer itu meminta dengan sangat agar putranya selalu bahagia dan di Rahmati.


Setelah selesai berdoa, Meizia dipersilakan untuk mencium tangan Ameer. Namun, baru saja Meizia mengangkat tangannya, Ameer justru langsung mengecup punggung tangan wanita itu dengan lembut yang membuat Meizia terhenyak dan langsung mematung.


"Ini sebagai tanda bahwa aku akan selalu menghormatimu sebagai wanitaku," bisik Ameer yang membuat hati Meizia terenyuh.


Meizia tahu makna dari kata-kata Ameer, pria itu seolah mengatakan ia telah menghormati Meizia sebagai wanita sebelum Meizia memberikan penghormatan pada Ameer sebagai suaminya.


"Berhenti menunjukkan kesempurnaan mu padaku, Ameer," lirih Meizia. "Kamu terlalu tinggi menyanjungku, aku sampai takut bagaimana jika nanti aku jatuh."


"Aku tidak akan membiarkan kamu jatuh," sanggah Ameer dengan cepat.


Ummi Nayla yang mendengar janji putranya itu hanya bisa tersenyum samar, ia tidak tahu haruskah bangga memiliki putra seperti Ameer, seorang pria yang memiliki hati sangat lapang. Ataukah ia harus sedih karena ia menjatuhkan hatinya pada wanita yang jauh dari kriteria pasangan idaman.

__ADS_1


"Aku sangat bangga memiliki cucu seperti Ameer," cetus Kakek tiba-tiba. "Mungkin hanya ada beberapa pria sepertinya di dunia ini."


"Hem," sahut Abi Zaid. "Semoga kedepannya mereka selalu bahagia."


Kini Meizia yang mencium tangan Ameer dengan lembut, dalam hati ia berjanji pada dirinya sendiri akan selalu berusaha menjadi istri yang baik.


"Maafkan aku karena menganggap Engkau tidak adil, wahai Tuhanku. Maafkan aku yang bahkan pernah menganggap Engkau sangat kejam karena tak memberiku kehidupan yang baik, juga tak membiarkan aku mati. Sekarang mengerti, ternyata Engkau sudah menyiapkan jauh lebih dari apa yang aku harapkan."


Kini saatnya mereka bertukar cincin, setelah itu Ameer menangkup pipi Meizia untuk pertama kalinya. Ia menghapus air mata Meizia dengan lembut kemudian berkata, "Aku mencintai Meizia, istriku, ibu dari calon anak-anakku kelak."


Meizia tersipu mendengar kata-kata cinta Ameer, dan ia langsung memejamkan mata saat pria yang kini berstatus sebagai suaminya itu mencium kening Meizia.


Pemandangan yang sangat romantis, tetapi cukup menyakitkan bagi Hana yang selama ini menyimpan rasa istimewa untuk Ameer. Namun, wanita itu tetap tersenyum bahkan berdoa dengan sangat tulus dalam hatinya.


"Berikan kebahagiaan yang sempurna untuk mereka, ya Allah. Sampai aku dan orang-orang di sekitar mereka juga bisa merahasiakan kebahagiaan itu. Berikan anak-anak yang baik untuk mereka, yang sholeh, berbakti, penuh kasih sayang. Sampai aku dan orang disekitar kami merasa bangga memiliki keturunan mereka sebagai anggota keluarga kami."


"Tidak pernah merasa lebih baik dari ini," kata Hana yang membuat Riana geleng-geleng kepala.


"Kamu adalah wanita pilihan," kata Riana sembari menggenggam tangan sang adik dengan lembut. "Keikhlasan mu akan memberikan hadiah yang sangat indah dan istimewa kelak, hem?"


"Aamiin."


Kini Ameer dan Meizia sungkem pada para orang tua, meminta doa mereka untuk hidup baru mereka.


"Aku tidak tahu harus berterimakasih Seperti apa pada Kakek," kata Meizia pada sang kakek. "Berkat kakek, kini aku memiliki segalanya."

__ADS_1


"Ini hadiah dari Allah, Sayang," kata Kakek dengan bijak. "Jika kamu bisa bersabar dalam hijrah mu, hadiah yang lebih besar menanti."


"Aamiin, Insyaallah," kata Meizia.


"Sekarang kamu adalah putri kami," sambung Abi Zaid. "Kami tidak meminta apapun selain kebahagiaan untuk putra kami."


"Insyaallah, Om," jawab Meizia.


Sementara Ameer hanya terdiam sembari memperhatikan Meizia, sejak tadi istrinya itu berbicara dengan anggota keluarga Ameer. Mengucapkan terima kasih, meminta doa dan restu. Sementara Ameer tak bisa melakukan hal yang sama karena Meizia tak punya siapapun yang ia bawa ke pernikahan ini.


"Kenapa diam saja?" Meizia menyentuh lengan Amer dengan lembut.


"Apa kamu bahagia sekarang?" Ameer justru balik bertanya.


"Ini adalah hari paling bahagia dalam hidupku," jawab Meizia sembari menyunggingkan senyum termanisnya.


Ameer teringat dengan pertemuan pertama mereka, di mana Meizia berhasil menarik perhatiannya saat itu juga. Hingga suatu rintangan yang tak pernah terbersit dalam benak Ameer harus ia hadapi dengan hati yang tegar dan tekad yang kuat.


Setelah semua langkah itu, kini ia telah menghalalkan Meizia untuknya. Dan Ameer tahu, ini bukan akhir dari perjuangannya tetapi justru awal dari segalanya.


"Aku ingin menagih janjimu, Ameer," kata Meizia.


"Janji yang mana, Sayang?" tanya Ameer yang langsung membuat wajah Meizia merona.


Panggilan sayang pertamanya dari Ameer, sang suami, untuknya.

__ADS_1


"Mengejar tasbih cinta-Nya," lirih Meizia. "Aku ingin mendekati-Nya, Ameer, aku ingin mendapatkan cinta-Nya."


"Kita akan mengejar cinta-Nya bersama, Meizia." Ameer menggenggam tangan Meizia. "Kita akan terus mengejar sampai maut menjemput kita."


__ADS_2