Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 67 - Kepergian


__ADS_3

"Ada lamaran datang untuk mu, dari putra nya Kiai Ahmad, tapi dia tinggal di Mesir dan istri yang akan dia nikahi nanti pasti akan di bawa ke sana."


Hanya tercengang mendengar kabar itu, tetapi seperti biasa akan tidak akan mengambil keputusan apapun untuk hidup nya sendiri.


"Kamu mau?" tanya Abi Thohir.


"Hana harus menjawab apa, Bi?" ringis Hana. "Kapan Hana pernah mengatakan tidak? Semua keputusan Hana serahkan pada Abi saja."


"Tapi saat hendak di jodohkan dengan Ameer kamu menolak, Sayang," kata Abi Thohir.


"Aku menolak karena Ameer menolak, Abi," ralat Hana. "Dan kalau untuk yang ini, terserah Abi saja."


Abi Thohir tentu terlihat sangat senang dengan keputusan putri bungsu nya itu yang selalu memberikan keputusan pada orang tua nya, ini adalah salah satu hal yang membuat ia begitu bangga memiliki Hana sebagai putri nya.


"Baiklah, Sayang, nanti akan Abi kabarkan pada Kiai Ahmad kalau kamu mau menerima lamaran ini," tukas Abi Thohir.


"Jadi sekarang Hana boleh pergi?" tanya Hana kemudian.


"Kamu tidak ingin bertanya tentang calon suami mu?" Abi Thohir justru balik bertanya pada Hana.


Hana terdiam sejenak, tetapi kemudian ia menggeleng pelan sembari bertanya, "Kapan kami bisa taaruf?"


"Mungkin bulan depan, karena sekarang dia masih di Mesir." Hana sedikit terkejut mendengar jawaban sang Ayah.


"Masih lama rupa nya," kekeh Hana kemudian. "Tapi kenapa Abi bicara sekarang?"


"Kiai Ahmad tidak sabar ingin tahu jawaban kamu," kata Abi Thohir. "Ya sudah, sekarang kamu boleh pergi."


Hana mengangguk kemudian ia bergegas pergi. Namun, senyum Hana yang tadi ia tunjukkan pada sang Ayah kini musnah seketika.


Apakah ia benar-benar siap menikahi pria yang bahkan belum ia ketahui nama nya?


"Entah lah," gumam Hana sembari menggeleng kan kepala nya. "Inysaallah dia pria yang baik, Abi pasti memilih lelaki yang terbaik untuk ku."


"Kenapa, Dek?"


Suara Riana yang tiba-tiba terdengar itu mengejutkan Hana, bahkan ia sampai beristighfar sembari mengusap dada nya yang berdebar.


"Kenapa melamun? Ada masalah?" tanya Riana.


"Abi mau menjodohkan aku dengan anak teman nya," jawab Hana. Namun, Riana tak terlihat terkejut. "Mbak sudah tahu?" pekik Hana.


"Kami semua sudah tahu," jawab Riana. "Sejak satu atau dua minggu yang lalu."


Tentu saja Hana terkejut mendengar pernyataan kakak nya itu. "Lalu kenapa aku baru di beri tahu?"

__ADS_1


"Abi mencari waktu yang tepat," jawab Riana. "Oh ya, jadi bagaimana? Kamu menolak atau menerima?"


"Aku serahkan semua keputusan nya sama Abi."


"Seperti biasa, ya."


Hana hanya mengulum senyum samar mendengar tanggapan Riana atas jawaban nya.


Sementara di sisi lain, Ameer yang sudah sarapan segera bersiap untuk pergi ke kantor.


"Jaga diri, ya," kata Ameer sembari mengusap kepala Meizia kemudian mencium kening nya, sebuah rutinitas kecil yang tak pernah ia lupakan sebelum pergi mencari nafkah untuk sang istri.


"Sebenarnya aku ingin minta izin," ucap Meizia kemudian.


"Mau pergi?" tanya Ameer yang hanya di jawab anggukan kepala oleh Meizia. "Ke mana?"


"Mengunjungi Mama."


Jawaban Meizia cukup mengejutkan untuk Ameer, apalagi sudah lama sang istri tak pernah lagi membahas tentang ibu nya.


"Kamu serius?" tanya Ameer ingin memastikan.


"Iya, sudah lama sekali aku tidak melihat Mama," kata Meizia.


"Aku bisa pergi sendiri, Sayang, kamu pasti sibuk."


"Tidak, Meizia, kita harus pergi bersama."


Meizia akhir nya mengangguk pasrah, meskipun sebenarnya alasan ia tak ingin di temani saat menemui Mami Lala karena pasti nanti ibunya itu menghina Meizia lagi. Ia tak ingin ada orang lain yang mendengar penghinaan itu, apalagi Ameer. Suami nya itu pasti marah dan sedih.


"Kalau begitu aku pergi dulu, nanti siang aku akan menjemput kamu."


"Hati-hati." Meizia mencium punggung tangan Ameer seperti biasa.


...🦋...


Sesampainya di kantor, Ameer langsung di sambut oleh Rizal seperti biasa.


"Aku akan bekerja sampai siang saja hari ini," tukas Ameer pada Rizal.


"Sejak istri mu hamil, kamu jadi sering mengabaikan pekerjaan kamu, Meer," ujar Rizal.


"Menikah lah, Kawan!" seru Ameer sambil tertawa kecil. "Maka pasti kau akan mengerti kenapa seorang suami ingin selalu ada di sisi istri nya terutama saat hamil."


Rizal mendelik mendengar ucapan sahabat nya itu. "Aku bukan nya tidak ingin menikah, tapi jodoh nya belum datang," elak Rizal.

__ADS_1


"Semua perlu usaha," ucap Ameer. "Tidak mungkin tiba-tiba ada wanita yang datang ke rumah mu, mengetuk dan mengatakan bahwa dia adalah jodoh mu. Jadi cari lah jodoh yang tepat, jangan hanya menunggu."


"Baiklah, Ustadz," sahut Rizal dengan malas.


Kemudian kedua pemuda itu kembali fokus pada pekerjaan nya masing-masing, dan tentu Rizal tidak tahu bahwa kali ini Ameer pulang lebih cepat bukan karena mengkhawatirkan kondisi Meizia seperti biasa nya, tetapi untuk menemani sang istri menjenguk ibu nya di penjara.


Ameer menutup rahasia tentang siapa Meizia dari Rizal dan orang-orang di sekitar mereka dengan sangat rapat, sampai detik ini tidak ada yang tahu asal usul Meizia kecuali keluarga mereka.


Hingga saat jam makan siang tiba, Ameer segera pulang untuk menjemput Meizia.


Sesampainya di rumah, sang istri rupa nya Sudah siap dan penampilan nya kali ini berbeda. Meizia memakai cadar seperti yang di sarankan Hana.


"Masyaallah, mata mu seperti anak panah Meizia," puji Ameer dengan tulus.


"Hana menyarankan aku memakai cadar saat keluar rumah," kata Meizia. "Dia bilang dia juga akan memakai cadar, apa menurut mu ini ide bagus?"


Sangat bagus, Sayang," sahut Ameer.


Kedua nya pun segera pergi ke penjara tempat Mami Lala di tahan, Meizia kembali tampak gugup, seperti biasa ia menuatkan jari jemari nya.


"Jangan gugup," kata Ameer sembari menyentuh tangan Meizia dengan lembut.


"Ameer...." Meizia menatap mata Ameer dengan sayu. "Alasan ku tidak mau menemui Mama selama ini karena dia sering sekali membahas masa lalu kami," lirih nya. "Itu membuat ku marah dan sedih."


"Aku pasti merasakan hal yang sama," ujar Ameer.


"Jika nanti Mama kembali melakukan hal itu, tolong tidak usah di ladeni, ya? Tidak usah di respon."


Ameer langsung memicingkan mata nya mendengar apa yang di katakan oleh Meizia. "Kenapa begitu?" tanya Ameer.


"Karena Mama melakukan itu hanya untuk melampiaskan kemarahan nya atas apa yang terjadi pada hidup dia, bagi nya aku adalah tempat pelampiasan."


Ameer terdiam sejenak, rasa nya ia juga tak mau mendengar ada yang kembali mengungkit masa lalu Meizia. Akan tetapi, ia terpaksa mengangguk sambil tersenyum.


Saat kedua nya masuk dan memberi tahu petugas polisi niat kunjungan mereka, Meizia di kejutkan dengan kabar bahwa sang Ibu di pindah ke penjara lain.


"Tapi kenapa aku tidak di beri tahu?" tanya Meizia Dengan bingung.


"Ini permintaan Ibu Lala, dia juga menitipkan surat untuk mu."


Petugas itu memberikan amplop pada Meizia yang langsung di sambar oleh Meizia.


"Di pindah ke mana?" tanya Ameer.


"Dia tidak ingin di beri tahu, kata nya dia tidak ingin melihat siapapun lagi."

__ADS_1


__ADS_2