Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 99 - Melangkah Dari Awal (Tamat)


__ADS_3

Baik Ameer mau pun Hana sama-sama memikirkan masa depan mereka dan juga si kembar. Mereka bertanya-tanya, haruskah mengambil langkah dari awal lagi?


Selama ini, Ameer mengerti arti mimpi yang datang padanya. Namun, ia merasa ragu untuk memikirkan hal itu lebih serius.


Sering sekali Ameer bermimpi Meizia memintanya membukakan pintu untuk Hana, dengan alasan Hana butuh tempat untuk berteduh dan anak-anak akan senang dengan keberadaannya.


Setelah mendengar apa yang Syauqi katakan pada Hana waktu itu, membuat Ameer memberanikan diri memikirkan mimpinya lebih serius lagi. Yakin mungkin itu restu dari Meizia.


"Abi mau bicara sama kalian, Sayang."


"Abi mau bicara apa?" tanya Asywaq sembari merangkak naik ke atas ranjang untuk siap-siap tidur.


Selama ini, Ameer memang tetap tinggal satu kamar dengan kedua anaknya itu. Meskipun kedua orang tuanya sudah meminta Ameer agar anak-anak di tempatkan di kamar yang berbeda, suapay mereka lebih mandiri, tetapi Ameer masih belum siap. Ia merasa kesepian tidur tanpa mereka.


"Apakah kalian mau jika ... tante Hana menjadi Ibu kalian?" cicit Ameer.


"Apakah Abi akan menjadi suami tante Hana?" tanya Syauqi yang tidur di tengah, bahkan ia sudah memeluk ayahnya itu dengan sangat manja. Setiap malam selalu seperti itu.


"Jika kalian mau dan Tante Hana juga mau Abi menjadi suaminya, maka Abi juga mau," kata Ameer.


"KAMI MAU!" seru si kembar secara bersamaan yang membuat Ameer sedikit terperanjat.


Si kembar yang melihat reaksi ayah mereka itu justru cekikikan. "Abi mau?" tanya Asywaq kemudian.


"Abi akan berbicara dulu dengan kakek dan yang lainnya, Sayang," kata Ameer.


...🦋...


"Kamu yakin?" pekik Abi Thohir dengan raut wajah yang tampak terkejut. Bahkan, Riana dan Ilyas juga hanya bisa melongo.


Bagaimana tidak?


Hana mengatakan ingin melamar Ameer, dia ingin menjadi Ibu yang sebenarnya untuk si kembar.


"Kamu gila, Dek?" Riana juga memekik. "Bagaimana bisa kamu mau melamar Ameer lebih dulu? Bagaimana jika dia menolak?"


"Iya, Han, Abi tidak mau kamu ditolak Ameer untuk ke dua kalinya," sambung sang Ayah.


"Abi, dulu Ameer tidak menolakku," kata Hana. "Dulu kami saling menolak, kami merasa akan lebih baik menjadi saudara."


"Tetap saja itu penolakan," kata Abi Thohir.


Sebagai seorang Ayah, ia memang sangat berharap bisa melihat anak perempuannya menikah, punya keluarga seperti orang pada umumnya. Namun, ia juga tak bisa membohongi hatinya yang merasa khawatir dengan kondisi Hana. Selamanya, anaknya itu akan seperti itu. Abi Thohir takut nanti pria yang menjadi suami Hana merasa itu adalah beban.


"Jika Ameer memang tidak mau, aku pun tidak akan memaksa, Bi," kata Hana. "Aku hanya ingin Abi nanti menyampaikan suratku padanya."


"Surat apa?" tanya Abi Thohir.


"Rahasia," kekeh Hana dengan santai, setelah itu ia pun memutar kursi rodanya kembali ke kamar. Berniat tidur karena hari sudah malam.


"Apa dia masih bisa tertawa di saat seperti ini?" gumam Ilyas sambil meringis.


"Lakukan saja apa yang dia mau, Bi," kata Riana kemudian. "Aku yakin Hana sudah memikirkan ini matang-matang."


"Tapi bagaimana kalau Ameer menolaknya, Ri?" desis Abi Thohir. "Abi tidak mau putri Abi terluka lagi dan lagi."

__ADS_1


"Hanya karena ditolak oleh seorang Ameer tidak akan membuat Hana terluka, Bi. Hana sudah jauh lebih kuat sekarang. Lagi pula aku yakin, Hana ingin menikah dengan Ameer hanya demi si kembar."


...🦋...


Keesokan harinya ....


Saat sarapan, Ameer memberi tahu keinginannya untuk melamar Hana pada kedua orang tuanya. Tentu saja itu membuat mereka semua terkejut.


"Aku sudah bicara dengan anak-anak, mereka mau, bahkan sangat senang," kata Ameer. "Mereka sangat merindukan sosok Ibu dan aku yakin yang mereka butuhkan adalah sosok Ibu yang seperti Hana."


"Tapi bagaimana kalau Hana menolak?" tanya Ummi Nayla cemas. Apalagi mengingat dulu mereka sempat dijodohkan tetapi semuanya gagal.


"Tidak apa-apa, aku tidak akan memaksa dan aku akan memberi pengertian pada anak-anak," jawab Ameer dengan tenang.


"Bagaimana jika Hana menganggap kamu hanya kasihan padanya, Ameer? Bagaimana jika dia tersinggung?" Abi Zaid menimpali.


"Tidak akan, Bi," tegas Ameer. "Hana bukan lah wanita seperti itu, dia tidak akan mudah tersinggung dan tidak akan punya pemikiran buruk tentang niatku."


Ummi Nayla menghela napas panjang, ia menatap sang suami dengan sendu.


Sebenarnya, mereka sama sekali tidak masalah jika Ameer menikahi Hana terlepas dari kondisi keponakan mereka itu. Namun, mereka juga cemas bagaimana jika Hana hanya menganggap lamaran itu sebagai bentuk rasa kasihan?


"Kamu yakin, Meer?" tanya Ummi sekali lagi.


"Inysaallah aku sangat yakin, Bi," kata Ameer.


"Lalu bagaimana dengan ratu hatimu itu, Hem? Kamu akan menggantikan dia dengan Hana?" tanya Abi Zaid, dia sangat mengerti sampai detik ini putranya itu tidak dapat melupakan Meizia.


Ameer terdiam sejenak, sampai detik ini Meizia memang masih menjadi ratu dalam hatinya. Sejak pertama kali melihat Meizia sampai detik ini, cinta itu memang tak berkurang sedikit pun.


"Apa ini?" tanya Ummi Nayla.


"Surat," jawab Ameer singkat. Setelah itu, Ameer pamit berangkat bekerja. "Tolong berikan secara langsung pada Hana ya, Ummi." Ia meminta sekali lagi, ingin surat itu hanya dibaca oleh Hana.


"Apa ini kembali ke zaman dulu saat belum ada ponsel?" kekeh Abi Zaid.


"Abi merestui mereka?" Justru itu yang keluar dari bibir Umm Nayla.


"Tentu saja, jika itu yang membuat semuanya bahagia."


Sementara itu, Ameer yang hendak masuk ke mobilnya dihentikan oleh Abi Thohir yang baru saja sampai.


"Tumben pagi-pagi, Om," kata Ameer sambil tersenyum.


"Iya, Om mau menyampaikan titipan dari Hana," kata Abi Thohir.


Ia mengambil amplop dari sakunya dan memberikannya pada Ameer. "Apa ini, Om?" tanya Ameer penasaran.


"Entahlah, lihat saja nanti." Hanya itu yang bisa Abi Thohir katakan, tak mungkin ia mengatakan itu mungkin surat cinta dari Hana, kan?


"Kalau begitu nanti aku akan membacanya, Om," ujar Ameer. "Sekarang aku harus pergi bekerja, Om silakan masuk, Abi sama Ummi lagi sarapan."


"Om juga harus pergi, Meer, jadi mungkin lain kali saja," tukas Abi Thohir. Ia pun kembali ke mobilnya, begitu juga dengan Ameer.


"Hati-hati, Om!" seru Ameer sebelum Paman-nya itu melajukan mobilnya.

__ADS_1


"Kamu juga, Nak," sahut Abi Thohir sambil tersenyum.


Sebenarnya, ia akan sangat bahagia jika memang Hana dan Ameer bisa hidup sebagai suami dan istri. Apalagi jika itu membuat si kembar bahagia, tetapi sebagai ayah dari anak yang dipandang punya kekurangan besar tentu saja itu membuatnya pesimis. Apakah Hana bisa menjadi istri dan Ibu yang baik?


...🦋...


Hari ini Hana hanya di rumah, ia kembali menulis buku dan kali ini tentang si kembar. Tentang kehebatan dan kedewasaan mereka di usia yang masih sangat muda, tentu saja karakter keduanya itu tak luput dari didikan Ameer dan pengaruh dari lingkungan keluarga mereka.


Hana ingin orang yang membaca bukunya itu akan memperhatikan pendidikan dan lingkungan anak yang sedang tumbuh, dua hal itu akan berpengaruh besar dalam kehidupan mereka. Dan yang lebih penting, memahami karakter mereka.


Tak berselang lama, aktivitas Hana harus terhenti ketika ia mendengar suara Ummi Nayla dan Riana.


"Tumben Tante ke sini," pikir Hana.


Ia pun menutup laptopnya dan segera keluar dari kamar.


"Assalamualaikum, Tante," sapa Hana.


"Waalaikum salam, Han," jawab Ummi Nayla. "Sibuk?"


"Tidak sama sekali," jawab Hana sambil tersenyum.


"Aku buatkan minuman dulu," kata Riana.


"Tidak usah, Ri," cegah Ummi Nayla. "Tante ke sini cuma mau memberikan titipan dari Ameer untuk Hana."Ummi Nayla memberikan amplop putih itu pada Hana.


"Apa ini?" tanya Hana bingung, apalagi mengingat ia juga mengirimkan amplop seperti ini pada Ameer.


"Silakan kamu baca, Nak," kata Ummi Nayla. "Tante harus pergi sekarang, mau menemani Om ke kondangan."


"Oh iya, terima kasih, Tante," ucap Hana sembari melempar senyum manisnya. .


"Sama-sama, Sayang," kata Ummi Nayla.


"Ciyee, sepertinya surat cinta," goda Riana yang membuat Hana tersipu.


"Aku takutnya surat pinjaman," balas Hana yang seketika membuat kakaknya itu tergelak.


Setelah Ummi Nayla pergi, Hana kembali ke kamarnya. Ia pun membuka surat itu dan membacanya dengan pelan-pelan.


Senyum manis tercetak di bibir wanita itu membaca setiap untaian kata yang ditulis tangan oleh Ameer. Bahkan, Hana menitikkan air mata hingga mambasahi kertas itu.


Di sisi lain, Ameer yang sudah sampai di kantornya langsung membuka amplop itu dan ia membaca surat yang ditulis oleh Hana.


Ameer tersenyum, bahkan juga terharu. Kata-kata yang Hana tulis terasa begitu menyentuh hatinya. Sekarang, Ameer semakin yakin untuk menjadikan wanita itu Ibu dari si kembar.


Hati yang dulu terpaut hanya sebagai saudara, kini telah sama-sama berjanji dan berkomitmen akan menjadi pasangan dan orang tua yang baik.


Ini terasa indah, juga tak terduga.


Masa lalu mereka memang sedikit menyedihkan, sebagai dua orang yang hampir bersama tetapi gagal karena urusan hati. Namun, mereka yakin masa depan mereka akan indah.


Karena sekarang tentang sesuatu yang lebih besar, yaitu menjadi panutan anak-anak dan juga mengejar butiran tasbih cinta-Nya dalam ibadah yang panjang, ibadah yang akan menyempurnakan separuh agama meraka.


Bukan kah jalannya takdir memang seperti itu? Tidak tertebak, terkadang juga tidak mengenal kompromi. Namun, takdir ada pada garis yang benar. Akan bertemu di ujung sana di mana pada akhirnya orang akan sadar bawa memang itu lah yang terbaik.

__ADS_1


...TAMAT...


__ADS_2