
Ameer tersenyum saat melihat wajah tenang Meizia yang terlelap dalam dekapannya, wanita itu tertidur setelah beberapa saat Ameer bercerita, memberi nya motivasi dan inspirasi agar dia tetap teguh dalam langkah selanjutnya.
Kini jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi, seperti biasa Ameer terbangun di waktu seperti ini untuk mendekatkan diri pada sang Ilahi. Biasanya ia selalu melakukan nya sendiri, tetapi sekarang ia akan melakukan nya bersama sang istri.
"Meizia?" Ameer berbisik lembut di telinga istri nya itu. "Bangun, Sayang."
Meizia tak merespon, tampak nya wanita itu tengah asyik bermain di alam mimpi. Hingga Ameer memberikan tepukan kecil di pipi nya. "Kita harus sholat, ayo bangun."
Meizia mengerang lirih sebelum akhirnya ia membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah wajah Ameer yang berseri-seri, tersenyum sangat manis.
"Mau sholat malam bersama ku?" tanya Ameer sembari merapikan rambut Meizia yang berantakan.
"Mau," jawab Meizia dengan semangat meski suara nya masih serak.
"Kamu bermimpi sesuatu, Sayang? Aku lihat wajah mu sangat tenang saat tidur."
Ameer beranjak dari ranjang, ia menyalakan lampu sehingga kamar kini terang benderang.
"Aku bermimpi ada malaikat yang menjaga ku, jadi aku tidur sangat nyenyak," jawab Meizia dengan suara yang masih serak. "Bahkan tidak pernah nyenyak seperti ini sebelum nya."
"Oh ya?" goda Ameer sembari menatap istri nya itu dengan intens. "Aku rasa mungkin kamu memimpikan suami mu ini."
"Kamu malaikat itu."
"Hem?"
Meizia hanya terkekeh kecil kemudian ia bergegas mengambil wudhu. Ameer yang melihat perubahan istri nya itu langsung tersenyum sumringah, berharap seterusnya Meizia akan ceria seperti ini.
Malam pernikahan Ameer dan Meizia memang sangat berbeda, tak ada sentuhan yang berarti sebagaimana semestinya. Namun, malan ini Ameer telah menyentuh hati Meizia di titik yang paling dalam, hingga ia mendapatkan motivasi dan inspirasi untuk melangkah ke depan.
...🦋...
__ADS_1
Saat matahari telah menampakkan diri, Meizia keluar dari kamar dan ia langsung bergegas ke dapur. Di sana sudah ada Ummi Nayla yang sedang sibuk mengeluarkan bahan makanan dari kulkas.
"Selamat pagi, Tante," sapa Meizia dengan lembut.
Ummi Nayla langsung menoleh. "Selamat pagi, Mei," balas Ummi Nayla yang membuat senyum Meizia hilang. Panggilan Mei itu hanya di ucapkan oleh Mami Lala dan orang-orang di lingkungan mereka dulu, dan sekarang Ummi Nayla juga memanggil nya seperti itu.
Haruskah dia meminta nya memanggil nama Zia seperti Ameer?
"Kenapa melamun?" tanya Ummi Nayla yang seketika membawa kesadaran Meizia kembali.
"Ada yang bisa aku bantu, Tante?" tanya Meizia yang mencoba mengabaikan perasaan tak nyaman nya. Lagi pula, apapun panggilan Ummi Nayla untuk nya itu tak berarti dia akan memperlakukan Meizia sama seperti yang Mami Lala lakukan.
"Tidak ada," jawab Ummi Nayla. "Kamu boleh kembali ke kamar, temani Ameer." Ummi Nayla mencoba mengerti bahwa biasa nya pengantin baru akan lebih suka berada di kamar. Namun, sepertinya itu tidak berlaku untuk Meizia.
"Ameer sedang bersama Om di halaman depan, Tante," tukas Meizia yang membuat Ummi Nayla mengernyit.
Ia pun menatap wajah Meizia dan menyadari wajah menantu nya itu sembab. "Kamu nangis semalam?" tebak Ummi Nayla.
"Tidak, Tante," bantah Meizia dengan cepat.
"Lalu?"
"Emm ... tadi malam aku memang menangis tapi bukan karena Ameer."
Meizia tertunduk, mencoba menghindari bertatap muka dengan Ibu mertuanya.
ummi Nayla yang menyadari hal itu langsung sok sibuk, sepertinya ia juga mengerti apa yang membuat Meizia menangis.
"Kamu bisa mencuci ayam, kan?" tanyanya untuk menghilangkan kecanggungan di antara Mereka.
"Bisa, Tante." Meizia menjawab dengan tegas.
__ADS_1
"Baiklah, kamu cuci ayam nya, Tante kerjakan yang lain."
Meizia langsung patuh pada perintah sang Ibu, selama aktifitas memasak itu, sangat jarang ada obrolan antara keduanya. Meizia tak bersuara kecuali di tanya, Ummi Nayla pun tak bersuara kecuali ada yang ingin di tanyakan.
Kecanggungan itu rupa nya di sadari oleh Ameer yang sejak tadi sudah berdiri di pintu dapur, pemuda itu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ibu dan istri nya seperti teman yang pernah punya masalah.
"Kalian masak apa?" Akhirnya Ameer memilih Masuk ke dapur, bergabung dengan Kedua ratu nya itu.
"Ayam mentega," jawab Ummi Nayla.
"Itu makanan favorit ku, Sayang." Ameer langsung berbisik pada Meizia yang saat ini sedang menyiapkan piring.
"Hem," sahut Meizia yang sedikit terkejut dengan aksi Ameer.
"Oh ya, Ummi, Meizia hanya punya beberapa lembar baju. Jadi sepertinya hari ini aku akan mengajak kalian belanja."
Itu hanya alasan sebenarnya, Ameer hanya ingin kedua ratunya itu lebih dekat.
"Ummi tidak bisa, Ameer," ujar Ummi Nayla yang membuat Ameer langsung merengut.
"Yahh, Ummi." Pria itu merengek.
"Kalian pergi berdua saja, lagi pula kalian ini masih pengantin baru, Jadi habiskan banyak waktu bersama sebelum kamu kembali sibuk bekerja, Ameer."
Ummi Nayla menyusul Meizia yang saat ini berjalan ke meja makan. "Pergi lah bersama Ameer, Mei, nikmati waktu kalian selagi Ameer tidak sibuk bekerja."
"Kenapa Tante tidak ikut?" tanya Meizia.
"Mana ada orang tua yang ikut anak nya saat bersenang-senang dengan istri nya? Apalagi kalian masih pengantin baru."
Meizia mengulum senyum mendengar ucapan ibu mertua nya. kini ia mengerti sepertinya Ummi Nayla bukan tidak bisa ikut tetapi tidak mau ikut.
__ADS_1