
Meizia yang saat ini sedang membaca buku tiba-tiba merasa pusing, bahkan pandangannya menjadi buram.
Merasa mungkin dirinya hanya butuh istirahat, ia pun menutup buku itu kemudian Meizia merebahkan diri di kasur. Akan tetapi, Meizia kini justru merasa panas dingin dan mulai berkeringat.
"Ummi!"
Sebisa mungkin Meizia berteriak memanggil Ibu mertuanya, tetapi tak ada tanggapan.
"Abi!"
Meizia kini memanggil sang ayah mertua, tetapi hasilnya sama karena suara Meizia yang begitu lemah dan rendah sehingga tak mungkin terdengar ke bawah atau ke kamar mertuanya yang juga ada di bawah.
Kondisi Meizia semakin diperparah saat ia merasa perutnya juga sakit.
Meizia yang merasa tak baik-baik saja akhirnya memilih keluar dari kamar dengan sangat hati-hati.
Sementara itu, Ameer yang saat ini sedang dalam perjalanan pulang tampak terkejut melihat adanya sebuah kecelakaan di depan sana. Dengan sangat terpaksa Ameer memilih jalur yang lain di mana itu pasti memakan waktu lebih lama untuk sampai ke rumah.
Di rumah, Meizia kembali memanggil Ibu mertuanya dan kali ini ada tanggapan.
"Ada apa, Mei?"
Ummi Nayla berlari kecil naik tangga, menghampiri Meizia yang berdiri di ujung tangga. "Jangan bergerak, Nak, tetap di sana!" perintah Ummi Nayla yang terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan Meizia, apalagi menantunya itu terlihat sangat pucat dan lemas.
"Ummi, kepala ku pusing, perut ku sakit dan badan ku panas," keluh Meizia.
Ummi Nayla melihat pelipis Meizia yang basah karena keringat, dengan lembut ia mengelap keringat menantunya itu.
__ADS_1
"Mungkin kamu hanya demam biasa, Nak, jangan khawatir." Ummi Nayla merangkul Meizia dan membawanya kembali ke kamar.
Setelah itu, Ummi Nayla memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan Meizia.
Sementara Meizia kini melihat kedua tangannya yang entah kenapa tiba-tiba gemetar.
"Ummi," rengek Meizia sembari memperlihatkan kedua tangannya yang gemetar.
"Ada apa, Nak?" Ummi Nayla bingung melihat keadaan Meizia, ia pun segera menyelimuti menantunya itu. "Sebentar lagi Dokter datang, sabar sebentar, ya."
Meizia hanya mengangguk pelan, Ummi Nayla pun duduk di sisi wanita itu sembari menggenggam tangannya. Sementara Meizia kini mulai memejamkan mata, entah kenapa tiba-tiba ia merasa tak punya tenaga.
Ummi Nayla mencoba menghubungi Ameer, panggilann pertama tidak terjawab. Ia mencoba untuk kedua kalinya dan panggilan kedua akhirnya terjawab. "Ameer, kamu di mana?" tanya Ummi Nayla tanpa basa-basi.
"Lagi di jalan, Ummi, ada apa?"
"Astagfirullah, apa Ummi sudah memanggil Dokter?"
"Sudah, Nak."
"Sebentar lagi aku sampai."
...🦋...
Sementara itu, Ameer yang saat ini masih di jalan mempercepat laju mobilnya. Mendengar Meizia yang demam secara tiba-tiba membuat Ameer sangat khawatir, akhir-akhir ini sang istri memang sering mengeluh tidak enak badan dan Ameer berpikir itu hal biasa dalam kondisi hamil.
Dokter mengatakan hal itu juga bukan masalah besar, setiap kali melakukan check up, kondisi Meizia dan anak-anaknya baik-baik saja.
__ADS_1
Namun, tetap saja hal itu membuat Ameer begitu mengkhawatirkan sang istri.
Tak berselang lama, Ameer sudah sampai di rumah dan ia langsung berlari masuk ke kamarnya.
"Meizia?" panggil Ameer dengan cemas.
"Dokter nya mana, Ummi?" tanya Ameer sembari menyentuh kening sang istri. Namun, ia mengernyit saat merasakan tubuh Meizia yang begitu dingin.
"Belum datang," jawab Ummi Nayla sembari mengambil ponselnya. "Biar Ummi panggil dia sekali lagi."
"Dokter, kau di mana?" tanya Ummi Nayla saat panggilannya terjawab.
"Aku masih di jalan, Bu," jawab sang Dokter dari seberang telfon. "Tapi sepertinya aku akan sampai lebih lama karena aku harus memutar arah, ada kecelakaan di jalur menujur rumah Ibu Nayla."
"Astagfirullah." Ummi Nayla tampak terkejut mendengar hal itu. "Jika keadaan Meizia semakin parah, saya sarankan bawa ke rumah sakit terdekat, apalagi jika dia mengeluh sakit perut."
"Baiklah, Dokter, kami akan membawa Meizia ke rumah sakit."
"Apa Dokter tidak bisa datang?" tanya Ameer.
"Dia harus memutar arah karena katanya ada kecelakaan di jalur menuju rumah kita, Ameer," jawab Ummi Nayla.
"Astagfirullah, tadi aku terlambat pulang juga karena harus memutar arah," kata Ameer.
"Sayang?" Ameer mencoba memanggil Meizia tetapi istrinya itu tak merespon. "Meizia? Bangun!" Ameer mencoba menepuk pipi wanita itu tetapi masih tak ada reaksi dari Meizia.
"Kita ke rumah sakit sekarang, Ummi."
__ADS_1