
"Dia seorang wanita malam, Kakek."
Kakeh hanya bisa melongo mendengar jawaban Ameer, bahkan ia menahan napasnya hingga Siddiq datang membawakan kopi untuk Ameer.
"Terima kasih," ucap Ameer pada Siddiq tetapi tatapan matanya tertuju pada Kakek yang terlihat sangat terkejut.
"Sama-sama, Ustaz," jawab Siddiq sebelum akhirnya ia pergi.
"Dari mana kamu tahu hal itu?" tanya Kakek kemudian.
"Ibunya sendiri yang mengatakan itu." Ameer menjawab dengan lesu.
"Lalu apa?" Kakek justru kembali bertanya yang membuat Ameer semakin bingung.
"Aku tidak tahu, Kek, hanya saja aku seperti tidak bisa melupakannya. Aku ingin membawa dia pergi dan memberikan hidup yang bahagia, layak dan pantas untuknya."
"Tapi apa dia sendiri mau melakukan itu?" tanya Kakek lagi. "Kamu tidak akan bisa membantu orang keluar dari sebuah masalah kalau orang itu sendiri tidak mau keluar."
"Maksud Kakek Meizia yang tidak mau keluar dari sana? Aku yakin tidak seperti itu."
"Yakin atau tahu dengan pasti?"
__ADS_1
Ameer terdiam, sebab ia memang belum tahu apapun tentang hidup Meizia.
"Kakek rasa sebaiknya kamu kenali dulu wanita itu, Ameer, jangan sampai kamu berusaha memperjuangkan dia sementara dia sendiri tidak ingin diperjuangkan. Jangan terlalu menggebu dalam mengejar sesuatu apalagi seorang wanita, hasil akhirnya bisa sangat mengecewakan."
Ameer tertunduk, mencoba memahami nasihat Kakeknya itu.
"Lalu bagaimana dengan Hana?" tanya Ameer lagi. "Aku tahu dia perempuan yang sangat baik, bagaimana menurut kakek?"
"Jangan menarik tangan wanita ketika di waktu yang bersamaan kamu masih ingin menggengam wanita yang lain," tegas Kakek. "Pikirkan baik-baik, yakinkan hati kamu dan saat kamu membuat keputusan. Hati dan pikiran kamu sudah menyatu, kau paham?"
Ameer mengangguk pelan, itu artinya ia masih belum bisa memberikan jawaban untuk Hana dan juga belum bisa memutuskan untuk memperjuangkan Meizia. Yang harus ia lakukan sekarang adalah mencari tahu banyak hal tentang wanita.
...🦋...
"Ma, aku ... aku rasa kita bisa merubah hidup kita," cicit Meizia. "Aku ingin bekerja ke luar negeri, siapa tahu dengan begitu hidup kita bisa lebih baik."
"Memangnya sekarang kurang baik apa sih, Mei?" Meizia merasa sesak dan kesal mendengar tanggapan sang Ibu.
"Hidup kita ini nggak baik, Ma, mau sampai kapan kita begini terus? Aku tidak mau hidup selamanya seperti ini, aku mohon tolong Mama mengerti perasaan aku."
Mami Lala menarik napas panjang, ia menatap Meizia dengan tajam dan berkata, "Kamu mau cari kerja seperti dulu? Silakan, tapi Memangnya ada yang mau menerima bekas pelacur? Dulu aja kamu ditolak karena anak Mama, sekarang apalagi."
__ADS_1
Meizia menarik panjang, mencoba menekan perih di dadanya atas ucapan pedas sang Ibu.
"Karena itu aku bilang kita pergi saja ke luar negeri atau setidaknya ke luar kota, Ma, kita pergi ke tempat di mana orang tidak mengenal kita."
"Aduh, Mei, hidup sudah enak kok kamu bikin ribet. Jalanin saja lah hidup kita yang sekarang ini," celetuk Mami Lala sekenanya yang membuat Meizia tampak semakin marah.
"Aku tidak mau!" geram Meizia kemudian dia masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Mami Lala yang kini langsung terlihat sedih karena sebenarnya ia pun tidak tega melihat Meizia harus menjalani hidup kelam seperti ini. Namun, apa yang terjadi padanya membuat ia selalu merasa memang seperti itulah takdir mereka.
"Memangnya kita mau ke mana, Mei?" gumam nya lirih "Hidup kita sudah hancur, tidak ada lagi yang bisa diperbaiki."
...🦋...
Saat malam hari, kedua orang tua Ameer menanyakan keputusannya apalagi setelah ia berbicara dengan Hana. Namun, jawaban Ameer membuat mereka tampak kecewa.
"Apalagi yang perlu kamu tunggu, Mer?" tanya sang Ibu tak habis pikir.
"Kasih aku sedikit waktu, Ummi," pinta Ameer. "Setelah ini aku janji akan memberikan jawabannya."
"Kamu masih menginginkan wanita itu?" tanya sang Ayah. "Yang kamu kejar dari dia itu apa sih, Nak?"
"Aku juga tidak tahu," jawab Ameer dengan jujur. "Aku sedang mencari tahu."
__ADS_1
"Terserah kamu lah, kalau kamu mau membuat dia taubat, ya silakan dan itu bagus. Yang penting jangan bawa wanita itu sebagai menantu ke rumah ini."