
Ameer ingin mengelak fakta yang sesungguhnya tentang Meizia, ia ingin tak percaya semua itu tapi ....
"Astagfirullah," gumam Ameer sambil memijit pelipisnya.
Kedua orang tua Ameer sudah menegaskan agar dia melupakan Meizia, bahkan mereka juga mengatakan akan berbicara dengan orang tua Hana untuk membicarakan perjodohannya dengan Hana.
Semua yang terjadi hari ini membuat Ameer tidak bisa fokus bekerja. Bayang-bayang Meizia menari di benaknya dengan liar dan ia sangat yakin wanita yang telah berhasil merebut hatinya itu tidak seperti yang orang-orang pikir selama ini.
"Ya Allah, kenapa Engkau menempatkan Meizia pada keadaan seperti itu? Malang sekali," gumam Ameer sedih.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Ameer?" Ameer tersentak saat tiba-tiba Rizal masuk ke ruangannya.
"Kenapa tidak mengetuk pintu? Mengagetkan saja," gerutu Ameer.
"Loh, aku sudah mengetuk pintu berkali-kali, Pak Bos!" bantah Rizal tampak kesal, sebab ia memang sudah mengetuk pintu tetapi Ameer tidak menyahut sedikitpun. Oleh karena itu ia masuk begitu saja.
"Ada apa?" tanya Ameer kemudian.
"Sudah siang, mau ikut aku makan atau mau aku belikan makanan?" tawar Rizal.
"Aku tidak lapar," ujar Ameer sambil memainkan pensilnya di atas meja.
Rizal menelisik wajah temannya itu yang tampak sangat berbeda sejak kedatangan nya ke kantor. Ameer yang biasanya semangat hari ini terlihat menyimpan beban yang berat.
"Ada masalah apa?" Rizal bertanya sambil duduk di depan Ameer.
"Tidak ada," elak Ameer tetapi Rizal justru tertawa.
"Sejak kamu seorang Ameer berbohong?" kekeh Rizal. "Bibir kamu memang bisa bilang tidak ada masalah, tetapi mata kamu dan raut wajah kamu itu sudah seperti berteriak mengatakan kamu sedang ada masalah besar," tukas Rizal panjang lebar.
Ameer menghela napas berat, di satu sisi ia memang butuh teman untuk berbagi masalahnya. Namun, di sisi lain ia tak mau Rizal memiliki prasangka yang buruk tentang Meizia.
"Hanya masalah pribadi," jawab Ameer akhirnya.
"Apa masalah dengan gadis itu? Apa orang tuamu tidak menyukainya?" tebak Rizal.
__ADS_1
"Bagaimana kamu bisa tahu?" selidik Ameer.
"Hanya menduga," kekeh Rizal. "Dari tampilan saja, Meizia seperti tidak cocok untukmu, Ameer. Kau tahu 'kan bagaimana dia berpakaian itu sangat__"
"Apa hak mu menilai seseorang hanya dari cara pakaiannya saja?" desis Ameer yang jelas tak menyukai bagaimana Rizal menilai Meizia hanya karena pakaiannya.
Rizal yang melihat kekesalan Ameer sempat tercengang.
"Aku tidak menilainya, Ameer, aku hanya berpikir," bantah Rizal kemudian.
"Apapun katamu, tapi jangan pernah berkata seperti itu tentang Meizia," tegas Ameer.
Rizal mengangguk mengerti, setelah itu ia pergi dari ruang kerja Ameer.
Sementara Ameer yang merasa kesal kini justru mematahkan pensil yang ia pegang. "Aku harus menemui Meizia sekali lagi!"
...🦋...
Di sisi lain, kedua orang tua Ameer tak membuang waktu sedikit pun. Setelah mengantar Ameer ke kantor, mereka langsung menemui kedua orang tua Hana untuk kembali mencoba menjodohkan Hana dan Ameer.
Tentu saja hal itu membuat kedua orang tua Hana, terutama Hana sendiri merasa bingung sekaligus terkejut.
"Iya, Mbak Nay, jangan lah kita memaksa anak-anak. Nanti mereka tidak bahagia," kata Abi Thohir selaku ayah Hana.
"Insyaallah, pilihan ini sudah benar," kata Abi Zaid. "Tapi hanya jika Hana mau, kalau Hana tidak mau maka kami tidak akan memaksa." Lanjutnya.
"Tapi apa yang terjadi, Mas?" tanya Ummi Shireen, sebagai Ibu dari Hana, tentu dia tidak akan menyetujui perjodohan ini begitu saja.
"Kami sudah bertemu dengan wanita yang Ameer maksud," kata Ummi Nayla sambil melirik sang suami. "Aku dan Mas Zaid tidak bisa merestui Ameer dengannya."
"Tapi kenapa?" tanya Hana lagi.
"Ada sesuatu yang tidak cocok dengan kami apalagi Ameer," kata Abi Zaid. "Kami tidak bisa menjelaskan lebih banyak, yang pasti adalah kami tidak bisa menikahkan Ameer dengannya."
Kedua orang tua Hana langsung mengalihkan tatapannya pada Hana, sesungguhnya mereka juga berharap Hana dan Ameer berjodoh. Bukan hanya karena Ameer adalah menantu idaman mereka, tetapi ini juga bisa menjadi pengikat keluarga mereka agar lebih erat.
"Kami serahkan semua keputusan pada Hana," kata Abi Thohir. "Bagaimana, Nak?"
__ADS_1
Hana tentu tak bisa langsung menjawab pertanyaan itu, di satu sisi Ameer memang lelaki impiannya. Akan tetapi, ia tak bisa melupakan fakta bahwa lelaki itu memiliki wanita lain di hatinya.
"Hana tidak bisa menjawabnya sekarang, Abi," kata Hana.
"Tidak apa-apa, Sayang, kau boleh memikirkannya terlebih dahulu," kata Abi Zaid.
...🦋...
Meizia tak bisa menahan tangis setiap kali ia mengingat bagaimana reaksi Ameer dan kedua orang tuanya saat mengetahui statusnya sebagai seorang wanita bayaran. Namun, Meizia mencoba melupakan mereka karena Meizia tidak punya hubungan apapun dengan Ameer.
Saat ini, Meizia masih mengurung diri di kamarnya. Tanpa minum apalagi makan, dan sang Ibu sama sekali tidak mengkhawatirkan itu.
Mami Lala saat ini justru sibuk di rumah bordir, mengatur para pekerjanya agar bekerja sesuai yang dia mau.
"Mami?"
Jenny menghampiri Mami Lala yang saat ini ada di ruang kerjanya. "Aku mau ke rumah Mei, kalau boleh," cicit Jenny.
Ia mengkhawatirkan temannya itu karena sejak tadi malam Meizia tidak bisa dihubungi.
"Memangnya pekerjaan kamu sudah selesai?" tanya Mami Lala.
"Sudah," jawab Jenny dengan wajah yang tampak murung sambil membenarkan bajunya yang memang sedikit berantakan.
"Ya sudah, sekalian belikan makanan untuk anak itu. Di rumah tidak ada makanan dan dia pasti masih menangis," ujarnya sembari memberikan beberapa lembar uang pada Jenny.
Jenny langsung menerimanya setelah itu ia berlari ke kamarnya untuk mandi. Saat mandi, Jenny melepaskan tangis yang selama ini selalu coba ia tahan ketika ia harus melayani pria yang membelinya.
Mami Lala selalu mengatakan bahwa dunia kejam dan dunia takkan merasa kasihan meski orang menangis darah.
Sama seperti Meizia, Jenny juga sudah berusaha kabur dari tempat laknat ini tetapi ia selalu tertangkap kemudian siksa hingga ia masuk rumah sakit.
...🦋...
Hari sudah sore, Meizia masih tak beranjak dari kamarnya. Bahkan, ia tak perduli dengan perutnya yang lapar dan tenggorokannya yang kering.
Meizia membaca pesan dari Jenny yang memberi tahu ia sedang di jalan menuju rumah Meizia.
__ADS_1
Tak berselang lama, terdengar ketukan pintu. Meizia yang merasa itu Jenny langsung keluar meski dengan langkah sempoyongan karena lapar dan pusing.
"Je__" Ucapan Meizia terhenti saat ia melihat siapa yang datang. "Ameer?"