
Meizia tak dapat menahan kesedihannya setelah tahu apa yang menimpa Hana dan keluarganya, apalagi setelah Ameer memberi tahu bahwa Syafiq juga mengalami kecelakaan yang sama.
Tak ada yang dapat Meizia lakukan selain mendoakan yang terbaik untuk Hana dan yang lainnya, apalagi mengingat kemungkinan besar pernikahan tidak akan terjadi sesuai yang direncanakan.
Saat ini, Meizia dan Ameer baru saja menyelesaikan sholat Dzuhur. Menunaikan kewajiban mereka sekaligus menenangkan hati mereka yang begitu risau karena musibah yang terjadi.
"Takdir-Mu sungguh misteri, ya Allah." Meizia mengangkat kedua tangannya ke langit, ia berdo'a dengan lirih. "Yang kami persiapkan adalah pernikahan, tapi yang terjadi sebuah tragedi yang begitu menyedihkan." Air mata Meizia kembali jatuh, membayangkan akan seperti apa reaksi Hana saat sadar nanti.
Pasti lah temannya itu begitu terpukul. "Jaga Hana, ya Allah. Aku mohon," pinta Meizia segenap hati. "Engkau telah mengambil ibunya, jangan Engkau ambil yang lain lagi."
Ameer pun berdo'a hal yang sama, berharap keluarganya diberi kesabaran dan keikhlasan menerima ujian yang tak mudah itu.
Setelah selesai sholat dan berdo'a, Ameer mengajak Meizia ke rumah Hana. Tentu saja ajakan itu tak ditolak oleh Meizia.
Sementara di rumah sakit, kedua orang tua Syafiq masih setia menunggu putra mereka. Masih setia mendo'akan putra mereka yang kini berada dalam kondisi kritis.
"Aku menyesal, Bi," lirih ibunya Syafiq sembari menyenderkan kepalanya di pundak sang suami. "Jika saja kita tidak menjodohkan Syafiq dengan Hana, maka kita tidak akan perlu pulang ke Indonesia dan Syafiq tidak mungkin kecelakaan seperti ini."
"Astagfirullah, Ummi!" tegur sang suami dengan tegas. "Jangan berbicara seperti itu, Ummi, semua yang terjadi adalah takdir yang sudah Allah gariskan untuk kita. Dan tidak ada takdir Allah yang buruk, jika takdir-Nya adalah kesedihan. Sesungguhnya Dia hanya ingin kita belajar bersabar dan ikhlas. Jika takdir-Nya adalah kebahagiaan, sesungguhnya Dia hanya ingin melihat kita taat dan bersyukur."
__ADS_1
Air mata sang istri jatuh deras membasahi pipinya, tak ada satu pun Ibu yang dapat menahan amarah dan rasa sakitnya jika itu menyangkut buah hati mereka. Namun, ia tahu apa yang dikatakan suaminya mungkin benar.
"Hana dan keluarganya mengalami cobaan yang jauh lebih besar, Ummi, mereka kehilangan satu anggota terpenting dalam hidup mereka." Lanjutnya. "Dan aku tidak melihat mereka menyesali takdir itu."
...🦋...
Riana tersenyum saat menyambut kedatangan Meizia, meski air mata juga menetes di pipinya. "Kenapa kamu ke sini, Zia? Tante bilang kamu sakit sampai masuk rumah sakit."
Meizia tersenyum lembut, ia mengusap air mata Riana dengan lembut. Hal itu mengingatkan Riana pada sang adik dan kini air mata semakin deras mengalir di pipi nya. "Jangan menangis terus, Mbak, kita semua jadi tidak tahu bagaimana caranya menahan kesedihan ini kalau Mbak terus sedih."
"Aku tidak sedih," bantah Riana sembari menyeka air matanya. "Aku hanya ... mataku terasa panas dan dadaku terasa sesak."
"Ya, Inysaallah, Zia."
"Ri!" panggil Ilyas dengan lembut. "Ada banyak tamu di luar, Sayang, teman-teman ummi dan juga jemaah kajian yang Ummi pimpin. Ayo temui mereka."
Riana menarik napas panjang sembari mengusap sisa air matanya, ia mencoba tegar dan menyembunyikan rasa sakitnya.
Sejak kabar kematian sang Ibu tersebar, rumahnya memang tidak pernah berhenti kedatangan tamu yang datang untuk mengucapkan bela sungkawa dan juga untuk mendo'akan sang Ibu. Dan Riana senang karena hal itu membuat ia bisa melupakan kesedihannya walau hanya sebentar.
__ADS_1
"Temani aku, ya." Riana menggandeng tangan Meizia dan istrinya Ameer itu tentu tak menolak.
Meizia dan Riana keluar menuju ruang tamu, di mana sudah ada banyak perempuan di sana sementara di halaman depan ada tamu laki-laki.
Salah satu dari tamu itu tampak terkejut saat melihat Meizia, sebab dia adalah tetangga Meizia dulu.
"Siapa wanita itu?" bisik wanita tersebut pada temannya.
"Meizia, istrinya Ustadz Ameer," bisik wanita yang ada di sampingnya.
"Istrinya Ustadz Ameer?" tanya wanita itu yang tampak terkejut melihat Meizia, apalagi penampilannya begitu terbeda.
"Iya, dia cantik sekali, kan? Biasanya dia pakai cadar, tapi sekarang tidak, mungkin karena kita semua perempuan dan ini di dalam rumah."
"Ustadz Ameer beruntung mendapatkan wanita seperti Meizia, sholehah seperti Hana," bisik ibu yang lain.
"Tapi aku pernah melihat bekas sayatan di kedua lengannya, seperti orang yang pernah mencoba bunuh diri," sambung yang lain lagi. Sementara tetangga Meizia itu hanya diam dan terus menatap Meizia.
"Pantas saja dia menghilang setelah ibunya ditangkap polisi," gumamnya. "Tapi bagaimana bisa seorang pelacur dinikahi Ustadz? Apa Ustadz Ameer tidak tahu profesinya?"
__ADS_1