
Syafiq serius saat mengatakan orang tua nya akan segera menemui orang tua Hana, malam ini mereka benar-benar bertemu untuk membicarakan pernikahan Hana dan Syafiq.
Jika tadi siang Hana bertemu dengan Syafiq dengan cara yang tidak resmi dan banyak membicarakan sesuatu yang sebenarnya tak penting, beda hal nya dengan pertemuan malam ini.
Syafiq dan Hana lebih banyak diam dan para orang tua yang banyak berbicara.
"Aku sangat senang karena anak-anak kita mau di jodohkan," kata Abi Ahmad sembari menatap Hana yang saat ini duduk di antara kedua orang tua nya. Wanita itu menunduk dalam sejak tadi, ia juga masih memakai cadar nya sehingga Syafiq masih tak tahu seperti apa wajah sang calon istri.
"Aku juga merasa sangat senang," sahut Abi Thohir. "Meskipun aku juga sedih sebenarnya karena setelah ini Hana akan ikut suami nya ke negeri yang cukup jauh, kami pasti akan selalu merindukan nya." Ia berkata dengan lirih di akhir kalimat sembari menatap putri nya dengan nanar.
"Itu lah nasib anak perempuan, Mas," sahut Ummi Umaroh yang merupakan ibu nya Ahmad, wanita paruh baya itu sangat cantik meskipun sudah ada beberapa kerutan di wajah nya, membuat Hana menyadari dari mana datang nya ketampanan Syafiq.
Perpaduan dari tampan nya Abi Ahmad yang merupakan keturunan orang arab dan cantik nya sang ibu yang berdarah jawa. Perpaduan yang sangat sempurna.
"Seorang perempuan itu mengabdi pada orang tua nya sebelum menikah, kemudian mengabdi pada suami nya setelah menikah. Dan tak sampai di sana, seorang perempuan mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan anak keturunan nya," pungkas nya sembari menatap Hana.
"Perjuangan tak sampai di sana, setelah melahirkan ia menghabiskan seluruh hidup nya untuk merawat dan mencintai anak-anak nya. Menghabiskan waktu seumur hidup untuk menjadi ibu yang baik, Sangat pantas ketika surga di letakkan di bawah kaki seorang ibu." Lanjut Ummi Umaroh panjang lebar.
"Benar sekali, Mbak." sahut ibu nya Hana sambil mengulum senyum lembut. "Insyaallah, Hana akan menjadi ibu dan istri yang baik, inysaallah."
"Kami percaya itu," ujar Abi Ahmad. "Calon menantu kami bahkan sudah menghafal Al-Qur'an sebelum dia baligh, insyaallah dia akan memberikan cahaya yang terang dalam rumah tangga anak kami."
Selama para tetua mengobrol, Syafiq dan Hana tak menginterupsi, mereka hanya mendengarkan dengan seksama.
"Oh ya, Nak Syafiq berhak melihat wajah calon istri nya," ujar Abi Thohir kemudian yang membuat Hana terbelalak.
"Sejak kapan kamu memakai cadar, Hana?" tanya Syafiq kemudian sebelum menjawab saran dari calon ayah mertua nya.
"Hanya beberapa bulan terakhir," jawab Hana dengan jujur yang membuat Syafiq mengeryit, sebab ia berpikir Hana bercadar sejak lama. "Kenapa?" tanya Hana yang seolah menyadari perubahan raut wajah Syafiq.
"Aku hanya berpikir kamu memakai cadar sejak lama," tukas Syafiq sambil tersenyum. "Apa yang membuat kamu bercadar, Hana?"
Hana tak langsung menjawab, ia justru teringat dengan Meizia karena Meizia lah alasan ia menutupi kecantikan nya itu.
"Aku hanya ingin tahu alasan mu menutupi kecantikan mu," kekeh Syafiq. "Kau tidak wajib menjawab nya jika tidak mau."
__ADS_1
"Karena Meizia," jawab Hana dengan jujur yang membuat Syafiq semakin mengernyit.
"Siapa Meizia?" tanya Abi Ahmad.
"Menantu kami,"" jawab Abi Thohir. "Istri nya Ameer."
"Oh, mulai sekali," gumam Ummi Umaroh. "Tadi Syafiq sedikit berbicara tentang Ameer dan istri nya, tapi dia tidak menyebutkan nama nya."
"Meizia itu sahabat ku," ucap Hana sambil tersenyum manis. "Alasan ku memakai cadar untuk menemani nya yang juga akan memakai cadar, dan ternyata penampilan ini membuat ku juga merasa sangat nyaman."
"Persahabatan yang sangat indah dan sehat," puji Abi Ahmad.
"Jadi, apa kau ingin melihat wajah putri kami, Syafiq?" tanya Abi Thohir sekali lagi.
"Aku akan melihat nya setelah kami menikah," jawab Syafiq dengan tegas. "Aku sudah melihat keindahan dan kebaikan nya, aku tidak perlu lagi melihat Seperti apa wajah nya." Lanjut Syafiq yang membuat Hana terenyuh.
Jawaban yang sangat di luar ekspektasi, sekarang Hana semakin yakin Syafiq akan menjadi imam yang baik untuk nya."
...🦋...
Keesokan harinya....
"Sayang, menurut kamu anak kita laki-laki atau perempuan? Aku sangat tidak sabar ingin tahu jenis kelamin nya," bisik Ameer.
Saat ini mereka sedang berada di ruang tunggu, menunggu giliran untuk di panggil Dokter.
"Aku rasa laki-laki," jawab Meizia sembari mengelus nya.
"Aamiin ya Allah," sahut Ameer dengan semangat karena ia tahu semua orang berharap anak Meizia laki-laki. Kedua orang tua Ameer sudah memiliki dua cucu perempuan, jadi sekarang mereka pasti ingin cucu laki-laki.
"Ameer!" Meizia menggenggam tangan suami nya itu, ia menatap mata nya. "Beberapa malam terakhir aku bermimpi melihat merpati terbang di atas awan yang sangat terang, entah kenapa aku merasa itu seperti pertanda yang sangat baik."
Ameer tersenyum mendengar pengakuan sang istri. "Insyaallah itu memang pertannda baik, Sayang," ucap Ameer. "Mungkin itu pertanda anak kita akan memiliki kehidupan yang sangat indah."
"Aamiin." Meizia mengaminkan dengan cepat.
__ADS_1
Tak berselang lama, terdengar panggilan atas nama Meizia, membuat Ameer semakin semangat dan ia langsung merangkul sang istri menuju ruang pemeriksaan.
"Bagaimana perasaan Anda, Ibu Zia? Apa ada keluhan?" tanya Dokter sembari membimbing Meizia tidur di ranjang kecil itu.
"Tidak ada, Dok," jawab Meizia. "Hanya napsu makan ku terus bertambah, jadi rakus, hehe," kekeh Meizia yang membuat Dokter tertawa kecil.
"Itu sangat normal," ujar Dokter. "Jangan di tahan dan jangan khawatir dengan berat badan, semua Ibu hamil mengalami hal yang sama," pungkas nya.
"Apa sudah kelihatan jenis kelamin nya, Dok?" tanya Ameer dengan semangat setelah Dokter mengoleskan gel ke perut sang istri.
"Tidak begitu jelas," jawab Dokter sembari menatap monitor sementara tangan nya memegang alat yang ia usapkan di permukaan perut Meizia.
"Oh, begitu," gumam Ameer yang tampak kecewa.
"Aku akan meneliti lagi nanti untuk melihat jenis kelamin nya," tukas Dokter tetapi tiba-tiba kening Dokter itu berkerut. "Haruskah aku katakan bahwa bayi kalian kembar?" Dokter berkata sambil tersenyum, sementara Ameer dan Meizia terbelalak mendengar apa yang di katakan oleh Dokter itu. Mereka terlihat sangat senang, tapi juga merasa tak percaya apa yang mereka inginkan benar-benar akan terjadi.
"Apa maksud nya, Dokter? Apa bayi ku benar-benar kembar?" pekik Ameer.
"Sayang, bayi kita benar-benar kembar." Meizia menggenggam tangan Ameer dengan erat. "Itu benar 'kan, Dok?"
"Aku sudah menduga ini di pemeriksaan terakhir kita," kekeh Dokter, tentu saja ia merasa juga sangat bahagia melihat kebahagiaan Ameer dan Meizia. "Dan sekarang aku sudah mengkonfirmasi dugaan ku, inysaallah bayi kalian benar-benar kembar."
"Ya Allah," gumam Ameer dengan mata yang sudah berkaca-kaca, tak kuasa menahan haru atas kabar bahagia ini.
"Pantas aja jenis kelamin nya tidak terlihat jelas, karena janin nya ada dua dan salah satu anggota tubuh mereka menutupi kelamin si janin."
"Tidak apa-apa kita tidak tahu jenis kelamin nya, Dok, mengetahui anak kita kembar sudah membuat kamu sangat bahagia," kata Meizia sembari menatap sang suami dengan tatapan yang sangat dalam.
"Ini impian kami, Dok," lirih nya kemudian.
"Benar," jawab Ameer. Ia menunduk dan mengecup kening sang istri dengan sangat lembut. "Allah tak henti-henti nya memberikan kita anugerah yang kita harapkan, Sayang."
Meizia mengangguk, ia menitikkan air mata nya tanpa sadar, begitu terharu atas anugerah indah yang Allah berikan dalam hidup nya. "Aku tidak sabar memberi tahu Adiba dan Amina kalau adik mereka adalah kembar," tukas Meizia.
"Mereka akan sangat senang."
__ADS_1
"Tapi aku rasa Ibu Meizia lebih pandai menjaga diri," seru Dokter. "Jangan terlalu lelah, jangan stres juga."
"Insyaallah, Dok."