
Meizia sangat bahagia dengan apa yang Ameer lakukan dan berikan pada nya, sesuatu yang tak pernah ia duga sebelum nya. Setelah semua itu, harus kah Meizia masih lari dari kewajiban nya sebagai seorang istri?
"Ya Allah, aku memang tidak terlahir dari wanita yang ahli ibadah. Tapi aku mohon, izinkan aku melahirkan anak yang ahli ibadah, yang tawakal juga selalu merindukan kebiakan."
Meizia tersenyum saat meminta hal itu dengan sepenuh hati, ia memandangi kedua pergelangang tangan nya yang telah di penuhi gambar bunga, sangat indah. Bahkan, dia tidak pernah memikirkan hal seperti ini sebelum nya.
Tadi, ia juga sudah bertemu dengan ibu mertuanya dan Ummi Nayla memuji hena and di tangan Meizia. Bahkan, Ummi Nayla mengatakan hena itu seolah memperjelas bahwa Meizia adalah pengantin baru.
Hari sudah malam, Meizia menunggu Ameer dengan gugup.
Malam ini ia akan memberikan apa yang sudah seharusnya ia berikan untuk sang suami, lagi pula, sampai kapan ia akan terus menghindar?
Sekarang, Meizia bertekad akan memberikan semua yang ada pada nya untuk Ameer. Bukan hanya tubuh, tapi juga hati dan jiwa nya. Ia akan mengabdikan seluruh hidup nya untuk sang suami.
Tak berselang lama, Ameer masuk ke kamar dan pria itu mengernyit melihat Meizia yang tampak tersipu. "Apa kamu punya kejutan untuk ku, Sayang?" tanya Ameer sembari mengunci pintu.
"Kenapa pintu nya di kunci?" Meizia justru balik bertanya, untuk mengalihkan rasa gugup nya.
__ADS_1
"Karena sekarang aku sudah punya istri," kekeh Ameer. "Bagaiamana jika kita sedang melakukan sesuatu dan tiba-tiba Ummi atau Abi masuk, bisa bahaya, Meizia."
Meizia langsung meringis mendengar jawaban Ameer, apalagi ia juga tahu pertanyaan nya sangat konyol. "Kamu belum menjawab pertanyaan ku, Sayang, apa kamu merencanakan sesuatu?" tanya Ameer.
"Kenapa kamu bertanya begitu?" Meizia balik bertanya, membuat Ameer merasa gemas sekaligus kesal.
"Karena raut wajah kamu berbeda," jawab Ameer dengan jujur yang seketika membuat Meizia tersipu. Suami nya itu sudah sangat mengenal diri nya, pikir Meizia.
"Hem," jawab Meizia sambil menunduk malu.
"Apa itu?" Ameer mendekati Meizia kemudian berlutut di depan sang istri.
"Entah lah, Sayang, hanya mengikuti kata hati ku." Ameer menjawab sembari menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Meizia, agar tak menghalangi wajah nya. "Lalu? Apa kejutan mu? Aku sungguh tidak sabar," kata Ameer.
Bukan nya menjawab, Meizia justru terlihat bingung. Ia menggigit bibir, kedua tangan nya saling meremas dan Ameer tahu sang istri akan bertingkah begini saat gugup atau cemas.
"Kenapa?" Ameer langsung menyentuh tangan Meizia dan menggengam nya. "Kamu ingin mengatakan sesuatu? Ada masalah, Sayang?"
__ADS_1
"Aku ... aku mau jadi istri kamu sepenuh nya," cicit Meizia yang membuat kening Ameer langsung berkerut dalam.
"Kamu memang sudah menjadi istri ku, Zia," ucap Ameer sambil tertawa kecil. Namun, tawa nya terhenti saat ia menyadari apa yang Meizia maksud. "Sungguh?" tanya Ameer untuk memastikan.
Meizia hanya mengangguk pelan dengan wajah yang sudah semakin memerah.
"Kamu tidak akan menangis lagi?" tanya Ameer dan Meizia kembali mengangguk. "Kenapa? Aku tidak memaksa kalau kamu belum siap, Meizia."
"Aku mencintai mu," ucap Meizia yang seketika membuat hati Ameer berdebar kencang. "Seorang wanita tidak akan takut saat di sentuh oleh orang yang telah mengisi hati nya."
Meizia mendongak, ia menangkup pipi sang suami dengan lembut kemudian berkata, "Aku tidak sempurna, sebagai seorang wanita, aku sangat tidak sempurna. Dan aku minta maaf untuk itu."
Ameer tak merespon, ia hanya menatap Meizia dengan intens, dengan tatapan yang dalam. "Tapi aku akan mencoba yang terbaik dalam hal yang lain," tambah nya sambil tersenyum. "Menjadi istri dan calon ibu yang baik untuk anak kita kelak."
"Aamiin," sahut Ameer dengan cepat.
"Aku milik mu, Ameer, hati dan jiwa ku, aku serahkan semua nya pada mu."
__ADS_1
Mendengar kalimat penyerahan diri itu membuat Ameer langsung merasa terenyuh, ia mendekap Meizia dengan lembut. "Terima kasih, Sayang," bisik Ameer. "Aku mencintaimu, aku mencintai Meizia, istri ku."