Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 20 - Melangkahi Batas?


__ADS_3

Kedua lutut Ameer gemetar bahkan pelipis pria itu berkeringat dingin saat ia memasuki tempat yang penuh maksiat itu. Bahkan, Ameer seolah tak bisa bernapas di sana.


Ia terus menunduk dan berjalan di antara beberapa orang yang ada di sana. Jika saja bukan karena Meizia, Ameer takkan pernah menginjakan kakinya di tempat seperti ini. Namun, cinta yang ia miliki pada Meizia membuat Ameer nekat melakukan hal yang tak pernah ia duga.


Di tempat itu, ada banyak wanita dan pria yang berdekatan dengan tidak semestinya. Bahkan, beberapa wanita menyapa Ameer dengan genit yang membuat jantung Ameer seolah akan melompat dari tempatnya.


Ameer terus berjalan dengan menundukan kepala hingga di tartawakan oleh beberapa orang.


"Laki-laki datang ke sini untuk menikmati pemandangan indah dan kenikmatan duniawi, tapi dia terus menundukan kepala seperti pria culun."


"Ah, mungkin ini kali pertama pria itu mencari hiburan. Seharusnya kita membantu dia."


"Aku sudah melihat ada beberapa gadis yang mencoba menyapanya tetapi dia mengabaikan mereka semua."


Dan masih banyak yang mereka katakan tentang Ameer, hingga tiba-tiba Ameer menabrak seseorang orang karena terus menunduk.


"Kamu?"


Ameer langsung mendongak saat mendengar suara yang tak asing itu.


"Tante?" Ameer menggumam saat melihat Mami Lala. "Aku mencari Tante dan Meizia, di mana dia?" tanya Ameer dengan raut wajah yang tampak tegang. Entah karena terus mengkhawatirkan Meizia atau karena takut berada di tempat itu.


"Aku rasa Meizia tidak mau bertemu denganmu, sekarang dia pergi bersama klien Mami," kata Mami Lala sambil membuang muka.


Kata-kata Mami Lala itu berhasil membuat hati Ameer seperti tercubit, ia marah, kesal dan juga kecewa. "Tapi dia sudah berjanji akan ikut denganku, Tante," desis Ameer yang langsung ditertawakan oleh Mami Lala.

__ADS_1


"Apa di luar sana sudah tidak ada wanita lain sampai kamu terus mengejar anakku, huh?" cibir Mami Lala. "Dia itu anakku, asetku jadi sebaiknya kamu pergi dan silakan cari wanita lain," tegas Mami Lala.


"Oh, atau jangan-jangan kamu hanya penasaran dengan Meizia? Atau dia pernah melayanimu dan kamu menyukainya?" Darah Ameer mendidih mendengar tudingan itu. Tangannya mengepal dan seandainya yang berbicara seperti itu bukan wanita, sudah pasti Ameer akan menghajarnya habis-habisan.


"Bagiku Meizia bukan budak ****!" desis Ameer marah. "Jadi beri tahu aku dimana Meizia sekarang atau aku akan melaporkan Tante ke polisi!" ancamnya yang langsung membuat Mami Lala tampak marah.


"Sejak bertemu denganmu aku sudah tidak suka padamu," kata Mami Lala. "Kamu terlalu banyak ikut campur hidup kamu, sok pahlawan!"


Mami Lala memberi isyarat pada anak buahnya untuk mengusir Ameer. Namun, Ameer enggan pergi sebelum dia tahu di mana Meizia.


"Cepat pergi atau kami akan menghajarmu!" ancam salah satu anak buah Mami Lala.


"Aku tidak akan pergi sampai aku tahu di mana Meizia," sahut Ameer.


Tanpa berpikir panjang mereka pun menghajar Ameer secara bersamaan, awalnya Ameer bisa melawan dan mengelak pukulan mereka tetapi Ameer kalah jumlah dan kewalahan menghadapi mereka sehingga ia pun pada akhirnya babak belur.


Perkelahian itu mengundang perhatian Ameer, tak terkecuali Jenny. Wanita itu terbelalak melihat Ameer ada di tempat seperti itu dan Jenny tentu tahu apa maksud kedatangan Ameer.


"Masih tidak mau pergi?" desis Mami Lala sambil tersenyum sinis. "Atau masih menunggu Meizia?"


Ameer mengerang kesakitan tetapi ia tidak menampakkan rasa takutnya, sorot pria itu masih sama seperti tadi. Tegas dan tajam.


"Aku akan melaporkan tempat ini ke polisi," gertak Ameer tetapi Mami Lala justru tertawa.


"Polisi terkadang menjadi pelanggan teraktif kami," cibirnya yang membuat Ameer sedikit terkejut.

__ADS_1


Sementara Jenny kini langsung mencari akal bagaimana caranya memberi tahu Ameer keberadaan Meizia. Pandangan Jenny tertuju pada buku dan pena di atas meja, ia langsung mengambil dua benda itu dan menuliskan alamat rumah sakit tempat Meizia dirawat.


"Astagfirullah," gumam Ameer. "Apa Tante tidak kasihan pada gadis-gadis ini?"


"Mereka yang datang ke sini untuk mendapatkan uang," sahut Mami Lala tanpa rasa bersalah sedikitpun yang membuat Ameer hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Semoga Allah memberikan hidayahnya untuk Tante, karena dosa terbesar dalam hidup kita adalah zina."


"Pergilah ke masjid jika kau ingin ceramah, ini adalah tempat mencari uang dan kenikmatan."


Ameer tampak sangat kesal sekaligus prihatin pada Mami Lala, tak bisa ia bayangkan seperti apa Meizia tumbuh di bawah asuhan wanita yang tertutup hatinya seperti itu.


"Sekarang pergi atau kami akan melemparmu!" desis anak buah Lala.


Ameer melangkah perlahan dengan sedikit tertatih, badannya terasa akan remuk, apalagi ini kali pertama ia dikeroyok.


Orang-orang yang tadi mengerumuni mereka juga memberi jalan pada Ameer. Sementara Jenny sibuk mencari bagaimana memberikan kertas itu pada Ameer tanpa ketahuan Mami Lala.


"Dasar pria aneh!" geram Mami Lala kemudian ia juga bergegas pergi.


Bersamaan dengan itu, Jenny langsung berlari menghampiri Ameer dan tanpa berkata apapun ia menyelipkan kertas itu di tangan Ameer. setelah itu Jenny pergi begitu saja sebelum ia juga dihajar oleh mucikarinya itu.


Sementara Ameer kini membuka kertas itu dan ia terkejut karena itu alamat rumah sakit.


"Apa dia masuk rumah sakit? Apa jangan-jangan dia mencoba bunuh diri lagi?"

__ADS_1


__ADS_2