
"Tapi jika kalian sudah selesai, tolong hubungi aku, Meizia, seperti nya aku membutuhkan kamu malam ini."
Darah Ameer langsung mendidih mendengar apa yang dikatakan oleh pria itu, tanpa basa-basi ia langsung berdiri dan....
BUGGHHHH
Satu pukulan keras dengan sempurna di wajah pria itu yang langsung membuat semua orang terkejut, tak terkecuali Meizia. Bahkan, pria itu sampai terjungkal ke lantai, ia mengerang kesakitan sembari mengusap sudut bibir nya yang berdarah.
"Berani sekali kau!" geram Ameer yang hendak kembali memukul pria itu, tetapi dengan cepat Meizia mencegah nya.
"Kita pergi dari sini," ajak Meizia dengan suara yang bergetar, bahkan air mata wanita sudah tumpah membasahi pipi nya.
Melihat sang istri menangis, amarah Ameer semakin menjadi. "Aku mohon," lirih Meizia. "Semua orang melihat kita, aku malu," cicit nya. Hati Ameer terkesiap, ia menghapus air mata Meizia dengan lembut.
"Okay, kita pergi, tapi berhenti menangis, Hem?" Meizia hanya mengangguk.
Sebelum Ameer pergi, ia menarik leher baju pria itu dan mendesis tajam. "Hargai wanita, kawan. Karena kamu terlahir dari wanita dan ...." Ameer melihat cincin pernikahan di jari pria itu, membuat Ameer langsung tersenyum sinis kemudian melanjutkan. "Kamu sudah menikah, apa istri mu tidak cukup di rumah, huh? Atau harus kah ibu nya menjual nya juga?"
"HEYYY!" Pria itu berteriak marah mendengar apa yang di katakan Ameer.
"Kau bisa marah, aku juga. Dan Meizia yang sekarang bukan Meizia yang dulu, sekarang dia istri ku bukan lagi budak kalian." Ameer mendorong pria itu dengan kasar sebelum akhir nya ia membawa Meizia pergi, meninggalkan banyak makanan yang tadi nya ingin Ameer bungkus.
Ameer membayar makanan itu ke kasir dan meminta kasir itu memberikan makanan mereka pada orang yang membutuhkan.
Setelah itu, Ameer menarik Meizia kembali mobil. Istri nya itu masih terus menangis tetapi kali ini tanpa suara, air mata terus mengalir di pipi nya meski Meizia sudah berkali-kali menyeka nya.
__ADS_1
"Kemari lah!" Ameer menarik Meizia ke pelukan nya.
"Maaf," ucap Meizia lirih. "Aku membuat kamu malu, Ameer, maafkan aku." Suara Meizia teredam dada Ameer.
"Aku tidak malu," jawab Ameer untuk menenangkan hati Meizia. "Aku justru merasa bangga karena kamu mau memperbaiki diri."
Ameer mengusap kepala Meizia dengan lembut. "Sekarang lebih baik kita pulang, ya."
Meizia hanya mengangguk pelan. "Jangan menangis, nanti Ummi mengira kita bertengkar lagi seperti tadi," kekeh Ameer sembari mengusap pipi Meizia.
"Bagaiamana kamu tahu tadi Tante bilang kita bertengkar?" tanya Meizia.
"Tante?" Kening Ameer berkerut mendengar Meizia memanggil ibunya dengan sebutan Tante. "Dia ibu mertua mu, Meizia, bagaimana bisa kamu memanggil nya tante?"
Ameer melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang menuju ke rumah, kedua nya sudah tidak mood untuk makan siang.
"Ummi, Sayang, dia juga ibu mu."
"Tapi tante tidak meminta ku memanggil Ummi, aku malu kalau tiba-tiba memanggil nya begitu."
Ameer hanya tertawa kecil mendengar apa yang di katakan oleh istri nya itu.
Sepanjang perjalanan, Ameer terus mengajak Meizia mengobrol agar tak terus teringat dengan kejadian tadi, meski sebenarnya itu tak cukup berhasil.
Meizia masih sering merenung, apa yang terjadi tadi seolah kembali memberikan gambaran hitam dalam hidup nya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Ameer dan Meizia langsung membawa belanjaan mereka ke kamar. "Kita susun itu nanti, ya. Aku mau melakukan sesuatu sekarang," ujar Ameer menarik Meizia duduk di sofa yang ada di dekat jendela.
"Mau melakukan apa?" tanya Meizia penasaran.
"Menutupi bekas luka mu." Ameer menjawab sembari menyingkap lengan baju Meizia, kemudian ia mengeluarkan hena dari saku nya.
"Kamu beli hena?" pekik Meizia tak percaya.
"Yaps, aku akan melukis di tangan mu, mungkin ini bisa sedikit menyamarkan luka mu," jawab Ameer yang membuat Meizia bingung sekaligus penasaran dengan tingkah suami nya itu.
"Apa kamu bisa melakukan nya?" tanya Meizia.
"Bisa, Sayang." Ameer menjawab dengan semangat dan kini ia mulai menggambar bunga di pergelangan tangan kiri Meizia.
"Kamu pernah melakukan ini sebelum nya?" tanya Meizia penasaran karena Ameer tampak mahir menggambar.
"Pernah," jawab Ameer. "Saat sekolah dulu, tapi membuat kaligrafi."
"Wow, kamu punya jiwa seni," puji Meizia sambil tersenyum manis.
Ameer tersenyum melihat senyum yang kembali terbit di bibir sang istri, ia mengecup telapak tangan Meizia dengan lembut.
"Kenapa kamu begitu baik, Ameer?" lirih Meizia. "Saat seseorang memperlakukan aku sebagai budak yang bisa di perjual belikan, kamu justru memperlakukan aku seperti seorang ratu."
"Karena setiap istri adalah ratu suami nya, Meizia sayang. Dan sudah kewajiban seorang suami memperlakukan istri nya dengan baik."
__ADS_1
Meizia terenyuh mendengar kata-kata manis Ameer. "Lalu apa yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikan dan ketulusan mu ini? Sementara aku tidak punya apapun."
"Berikan aku seorang anak yang sholeh."