
"Aku sudah sangat lapar, Ummi," rengek Meizia pada Ummi Nayla dengan manja.
Saat mendengar rengekan manja Meizia yang mengidam ayam mentega buatan ibu nya, Ameer langsung chcek out dari hotel detik itu juga. Dan saat ini Meizia sedang ada di dapur bersama Ummi Nayla, ia tak membantu memasak tapi terus merengek lapar pada sang Ibu mertua yang sedang sibuk.
Harus Ummi Nayla akui, kedua anak perempuan nya sendiri tak pernah semanja ini meskipun mereka sedang hamil atau sakit. Meizia membuat Ummi Nayla merasakan bagaimana rengekan anak yang sudah dewasa.
"Sabar, Sayang, masak ayam itu tidak semudah masak telur ayam," kekeh Ummi Nayla.
"Tadi dia sudah makan sepiring pasta, Ummi," seru Ameer yang baru saja masuk ke dapur setelah menyimpan barang-barang nya ke kamar.
"Nama nya juga orang hamil, Meer," sahut Ummi Nayla. "Dia bisa tidak selera makan sampai seperti anti makanan, bisa juga selalu lapar seolah makanan yang sebelum nya itu tidak masuk ke perut." Lanjut nya sambil tertawa.
Meizia membuka kulkas, mengobrak-abrik isi nya seolah ia mencari sesuatu. " Cari apa, Sayang?" tanya Ameer.
"Aku ingin makan kiwi," ujar Meizia. "Ah, tinggal satu!" Dia mengeluarkan satu buah kiwi dari dalam kulkas.
"Biar aku belikan untuk mu," kata Ameer.
"Tidak usah, satu saja sudah cukup." Meizia mencuci buah kiwi itu, mengupas nya kemudian memakan nya. "Aku rasa kita memang harus membeli nya," ujar Meizia kemudian yang merasa satu buah kiwi itu tak cukup untuk nya. Ameer yang mendengar hal itu hanya bisa tertawa, sungguh sikap Meizia semakin banyak berubah sekarang.
"Kalian pergi beli buah sana," seru Ummi Nayla, bagi nya ini kesempatan agar Meizia tak terus mengganggu nya.
"Ayo, Sayang," ajak sembari menggandeng tangan Ameer. "Kita hanya sebentar, Ummi, nanti aku akan bantu Ummi masak setelah pulang berbelanja."
Ummi Nayla hanya mengangguk pelan sambil tersenyum samar, seharusnya Meizia membantu sejak tadi jika memang ingin membantu, pikir nya. Tetapi tentu saja itu tak masalah bagi Ummu Nayla.
"Aku ambil dompet dulu, kamu tunggu di mobil."
"Bisa tolong bawakan cadar ku juga, Sayang?" pinta Meizia dengan manja.
"Sesuai permintaan Anda, Yang mulia," jawab Ameer yang seketika membuat Meizia tertawa kecil.
__ADS_1
Ummi Nayla yang melihat itu hanya bisa terkekeh, tak menyangka Ameer bisa menggombal juga.
"Beli pisang juga ya, Mei," pinta Ummi Nayla. "Abi suka sekali makan pisang saat pagi hari."
"Baik, Ummi." Tiba-tiba Meizia mengecup pipi Ummi Nayla, membuat wanita paruh baya itu sedikit terkejut. Lagi-lagi Meizia menunjukan sisi yang baru pada nya.
"Ayo!" seru Ameer yang sudah siap pergi.
"Kami pergi dulu, Ummi, Assalamualaikum." Meizia langsung berlari menghampiri Ameer tanpa menunggu jawaban salam dari ibu mertua nya.
"Semakin lama anak itu semakin normal," gumam Ummi Nayla. "Waalaikum salam," ucap nya saat menyadari ia belum menjawab salam Meizia.
Ummi Nayla takkan pernah melupakan seperti apa tatapan Meizia saat pertama kali bertemu, di lanjut pertemuan kedua dan ketiga. Tatapan kosong, senyum tipis dan raut wajah yang tampak tegang. Namun, perlahan kini semua nya berubah bahkan seolah bersinar.
Sorot mata nya, senyum dan raut wajah Meizia, semua nya berubah total. Bahkan, wanita itu kini sudah berani bersikap manja pada nya. "Mungkin itu karena dia tidak pernah di manja ibu nya dulu."
Sementara di sisi lain, Hana tertawa membaca pesan dari Meizia. Namun, Hana memilih tak membalas nya lagi. "Mereka masih pengantin baru, pasti ingin menghabiskan waktu berdua saja," gumam Hana.
Saat ia hendak menjaga kasir, tiba-tiba ada telfon dari teman yang baru saja ia pikirkan. Hana menjawab panggilan itu. "Assalamualaikum, Zia."
"Tidak, hanya bantu menjaga kasir seperti biasa," jawab Hana.
"Mau ikut kami berbelanja buah? Kami satu arah dengan restaurant."
"Em tidak, tadi malam kalian baru mengadakan pesta, bukan kah sebaiknya sekarang kalian menikmati waktu bersama?"
"Kami sudah pulang, soalnya aku ingin makan ayam mentega buatan Ummi. Kamu mau makan siang bersama kami?"
"Emm ...." Hana melirik ke kanan ke kiri, ia ingin menolak tetapi ia juga ingin makan bersama mereka.
"Kami sudah dekat dengan restaurant, dua menit lagi sampai. Siap-siap, ya. Aku tunggu di luar."
__ADS_1
"Tapi, Meizia-"
Tak ada jawaban, sambungan telfon nya terputus dan tak berselang lama terdengar suara klakson yang cukup nyaring.
"Katanya dua menit lagi." Hana menggumam sambil geleng-geleng kepala.
Sementara itu, Ameer hanya bisa melirik sang istri yang tampak semangat untuk mengajak Hana. Saat ini ia memang sudah sampai di depan restaurant, lebih cepat dari perkiraan Meizia yang kata nya dua menit lagi.
"Padahal Hana benar, kita bisa menikmati waktu sekarang berdua saja, Sayang," kata Ameer.
"Tapi sebentar lagi Hana akan pergi ke Mesir, jadi kita harus memaksimalkan waktu bersama dia juga," pungkas Meizia.
"Tapi itu masih lama, masih beberapa bulan lagi."
"Iya sih, tapi tetap saja setelah itu dia akan jarang pulang, bahkan mungkin hanya setahun sekali."
"Terserah kau saja." Ameer hanya bisa berucap pasrah, bersamaan dengan itu Hana datang dan langsung masuk ke mobil mereka. Ameer pun kini melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang.
"Tadi nya aku tidak ingin ikut," ujar Hana.
"Tidak boleh begitu," tegur Meizia. "Setelah menikah nanti kau hanya akan hidup untuk Ustazd Syafiq, jadi sekarang kau harus menghabiskan banyak waktu bersama kami."
Mendengar nama Syafiq membuat Hana teringat dengan kejadian tadi pagi, saat tiba-tiba pria itu menghubungi nya.
"Dia cukup menyebalkan," gerutu Hana. "Aku bahkan mulai berpikir untuk menolak perjodohan ini."
Hana kembalikan menceritakan apa saja yang Syafiq katakan hingga membuat nya kesal.
Ameer yang saat ini fokus menyetir justru tertawa kecil mendengar gerutuan adik sepupu nya. "Kenapa tertawa?" tanya Meizia.
"Hana bilang kesal pada Syafiq, tapi aku rasa dia justru menyukai nya," kekeh Ameer.
__ADS_1
"Itu tidak benar," bantah Hana.
"Kau tidak berhenti membicarakan nya, Hana, apa itu nama nya tidak suka?"