Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 98 - Haruskah Memulai Hidup Yang Baru?


__ADS_3

"Sayang?"


Ameer mengerang lirih saat mendengar suara lembut itu berbisik di telinganya. "Ayo bangun, Sayang?"


Perlahan Ameer membuka mata, seketika senyum lebar mengembang di bibirnya melihat wajah sang istri yang sangat ia rindukan. "Dingin, Sayang." Ameer menarik tangan wanita itu, kemudian ia bergelanyut manja di pelukan sang istri.


"Hem, aku juga dingin," kata Meizia sembari mengeratkan pelukannya pada sang suami.


Di luar, terdengar suara hujan yang bergemuruh, di iringi suara petir yang menyambar. Malam yang gelap terasa mencekam karena suara hujan dan petir itu. Namun, itu tak membuat Ameer dan Meizia terganggu.


Selama beberapa saat, keduanya berada dalam posisi itu, menikmati kehangatan satu sama lain di tengah malam yang dingin.


"Aku sangat merindukanmu, hatiku seperti selalu berteriak memanggil namamu," kata Ameer lirih sembari mendongak, menatap mata sang istri dengan sendu.


"Aku selalu ada di sini." Meizia menyentuh dada sang suami dengan lembut. "Hatimu pasti tahu itu, kan?"


Ameer tersenyum dan mengangguk, selama ini Meizia memang selalu ada dalam hatinya, tidak pernah sedetik pun ia bergeser dari tempatnya.


"Sayang, apa kau tidak mendengar suara itu?" tanya Meizia tiba-tiba yang membuat kening Ameer berkerut.


"Suara apa?" tanya Ameer.


"Seseorang mengetuk pintu," jawab Meizia.


Ameer semakin mengernyit bingung, yang terdengar dari luar hanya suara gemuruh hujan dan petir.


"Mungkin kamu salah dengar," kata Ameer sembari mendesakkan tubuhnya ke tubuh sang istri.


"Tidak, aku tidak salah dengar," bantah Meizia. "Bagaimana jika itu Hana?"


"Tidak mungkin, Sayang," kata Ameer.


"Coba lihat dulu," bujuk Meizia. "Ayo!" ia menarik paksa suaminya itu.


Ameer pun menuruti sang istri, keduanya turun dari kamar dan memeriksa siapa yang ada di luar dari jendela. Seketika Ameer terkejut, di luar memang ada Hana yang basah kuyup.


"Aku benar, kan?" Meizia menatap suaminya itu dengan sayu. "Apa kamu tidak mau membuka pintu, Sayang? Izinkan Hana masuk, dia kedinginan, dia butuh tempat untuk berteduh."


Ameer tak bisa menjawab, ia hanya menatap istrinya itu dengan nanar. "Sayang?" panggil Meizia.

__ADS_1


Tiba-tiba Ameer mendengar suara anak-anaknya, ia menoleh dan melihat si kembar di ujung tangga sana. Meizia pun menatap anak-anaknya itu dengan dalam.


"Mereka akan senang jika ada Hana di rumah," kata Meizia.


Ameer menatap si kembar, kemudian Meizia dan kemudian menatap Hana yang masih ada di depan rumahnya. Hingga Ameer mendengar si kembar memanggilnya.


"Abi?" panggil Asywaq.


"Bi?" Gadis kecil itu mengguncang pundak sang Ayah yang tertidur di atas sejadah nya.


"Abi?"


"Meizia?" teriak Ameer yang membuat Asywaq mengernyit bingung.


Ameer terbangun dengan napas yang terengah, ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. "Mimpi itu lagi," pikir Ameer.


Ia ada di kamarnya, hari pun sudah terang. Tak ada tanda-tanda hujan deras di luar sana.


"Abi kenapa memanggil nama Ummi?" tanya Asywaq penasaran. "Apakah Abi bermimpi bertemu Ummi?"


"Iya, Sayang," jawab Ameer sembari mengusap wajahnya.


Ia jatuh tertidur setelah sholat subuh tadi, dan lagi-lagi Ameer memimpikan hal itu.


"Tidak, Bi, kami main di rumah saja," kata Asywaq. "Di rumah ada Tante Hana dan Hafiz."


"Baiklah, Sayang, Abi juga akan bermain dengan kalian," kata Ameer. "Tapi sekarang Abi mau sholat dhuha dulu sebentar."


Asywaq mengangguk mengerti, setelah itu ia berlari ke halaman depan.


Di halaman rumah, Hana menemani Asywaq yang menggambar, sementara Hafiz bermain bola. Asywaq yang baru datang justru duduk santai di atas rumput sembari membaca buku kisah para Nabi, buku yang baru saja dibelikan oleh kakeknya.


"Tante, Adek boleh minta sesuatu tidak?" tanya Syauqi tanpa menatap Hana. Ia masih sangat fokus pada buku gambarnya.


"Minta apa, Sayang?" tanya Hana sembari memperhatikan gambar Syauqi.


"Tante 'kan tidak punya suami," celetuk Syafiq dengan polos nya, dan Hana sama sekali tidak tersinggung mendengar ucapan Syafiq, ia justru mengulum senyum.


"Lalu?" tanya Hana.

__ADS_1


"Kenapa tidak Abi saja yang Tante jadikan suami? Bukannya itu ide bagus? Adek sama Kaka jadi punya dua Ibu juga, satu di surga satu lagi di sini."


Hana terhenyak mendengar ucapan Syauqi, bahkan ia sampai kehilangan kata-kata. Namun, ia sadar itu hanya celotehan anak-anak.


"Tanpa menikah dengan Abi, Tante juga ibumu, Sayang," kata Hana.


"Tapi Ibu itu 'kan yang menemani kita tidur, main, makan, mengerjakan tugas dan mengantar ke sekolah," pungkas Syauqi. "Adek mau Ibu yang begitu, sama seperti teman-teman di sekolah." Lanjutnya sembari memberikan buku gambarnya pada Hana.


Hana memperhatikan buku gambar itu. "Ini Abi ...." Syauqi menunjuk gambar orang yang paling tinggi. "Ini Adek, ini Kakak, ini Ummi di surga dan yang ini Tante Hana di sini, di rumah."


Napas Hana tercekat saat melihat gambar bocah cilik itu.


"Tante tidak mau jadi Ibu kami di rumah?" tanya Syauqi lagi.


Hana masih terdiam, apalagi saat ia menatap kakinya yang bahkan tak bisa berpijak ke tanah.


"Tapi Adek 'kan tahu, Tante Hana tidak bisa menemani Adek bermain, lihat! tante Hana selalu ada di atas kursi roda," kata Hana dengan suara yang bergetar.


"Tapi Tante menemani Adek menggambar sejak tadi, bukan kah itu juga bermain?" celetuk Syauqi.


Hana tersenyum, jawaban Syauqi cukup cerdas untuknya.


"Tante Hana tidak bisa berjalan seperti ibu temanmu, Sayang," kata Hana lagi.


"Tapi Tante Hana bisa ke sekolah naik mobil seperti biasa, kan? Kursi roda Tante juga bisa jalan meski tidak di dorong orang, bukan kah itu sudah berjalan?"


Hana kembali kehilangan kata-kata, ia hanya bisa menatap Syauqi dengan nanar. Hingga tiba-tiba Hafiz memanggilnya, mengajak Syauqi bermain bola.


"Apa Kaka sudah selesai menggambar?" tanya Hafiz. "Ayo main bola!"


"Ayo!" sahut Syauqi. "Tante, ayo ikut main," ajak kemudian yang membuat Hana sedih.


"Sayang, Tante tidak bisa menendang bola," ujar Hana.


"Kita main lempar dan tangkap bola pakai tangan, Tante," kata Syauqi. "Adek juga tidak jago main bola, jadi kita main lempar bola saja."


Hana terenyuh mendengar kata-kata bocah itu, yang sangat mengerti dan memahami keadaannya.


"Ayo," ajak Hana kemudian sambil tersenyum lebar. Asywaq pun menutup bukunya dan bergabung dengan mereka.

__ADS_1


Tanpa Hana sadari, sejak tadi Ameer berdiri tak jauh dari sana dan pria itu mendengar semua yang Hana dan Syauqi bicarakan.


Ameer tak bisa berkata-kata, selama ini ia pikir ia sudah menjadi orang tua yang baik, ayah sekaligus Ibu untuk anaknya. Tapi ia lupa, bagaimana pun juga dua sosok itu sangat berbeda. Kebutuhan pada sosok Ibu tetap hanya akan terisi oleh seorang wanita sebagaimana semestinya.


__ADS_2