
Abi Thohir memberi tahu sang kakak bahwa Hana kini sudah di jodohkan dengan putra teman nya yang tinggal di Mesir, tentu saja semua orang bahagia mendengar kabar itu. Tak terkecuali Ameer dan Meizia.
Namun, Meizia sedikit sedih saat mengetahui setelah menikah Hana kemungkinan besar akan ikut suami nya ke Mesir.
Akan tetapi, untuk saat ini mereka tak mau memikirkan hal itu karena pernikahan Hana masih cukup jauh. Sekarang mereka sedang berfokus pada pesta pernikahan Meizia dan Ameer.
Semua nya telah siap, kedua kakak perempuan Ameer sudah memastikan tak ada yang tertinggal.
Saat ini, Ameer mengajak Meizia dan Ummi Nayla fitting baju untuk terakhir kali nya. Alena juga sudah menambahkan cadar untuk wanita itu.
"Menurut kamu ada yang kurang, Sayang?" tanya Ameer setelah melihat baju yang sudah jadi itu.
"Tidak ada," jawab Meizia sembari menyentuh gaun pengantin itu dengan lembut. "Ini sangat cantik."
"Menurut Ummi ini juga sudah sempurna," sambung Ummi Nayla. "Bisa di coba sekarang 'kan, Al?" tanya nya pada Alena karena ia sudah tak sabar ingin melihat gaun itu di tubuh menantu nya.
"Boleh, Tante, kita bisa pergi ke ruang gant." Alena meminta salah satu karyawan nya membawa gaun Meizia ke ruang ganti.
"Kau tidak boleh ikut!" seru Alena saat Ameer hendak mengikuti Meizia ke ruang ganti.
"Aku suami nya," ujar Ameer.
"Sayang, jangan ikut!" pinta Meizia sembari menarik Ameer dan meminta pria itu duduk di sofa, "Tunggu di sini, okay? Nanti aku akan keluar."
Ameer mengangguk pasrah, meski sebenarnya ia sangat ingin ikut masuk.
Meizia di temani Ummi Nayla untuk mencoba gaun pengantin nya di ruang ganti. "Masyaallah, ini cantik sekali," puji Ummi Nayla setelah Meizia mengenakan gaun cantik itu. "Kamu seperti bidadari, Mei."
__ADS_1
"Terima kasih, Ummi," kata Meizia sembari mengulum senyum manis. Ia berputar di depan cermin, dan harus ia akui pantulan diri nya terlihat sangat cantik.
"Dan ini cadar nya!" Alena memasangkan cadar Meizia, hingga hanya memperlihatkan kedua bola mata indah wanita itu. "Kamu memiliki mata yang sangat cantik, Meizia," puji Alena yang seketika mengingatkan Meizia pada pujian Ameer. Suami nya itu bahkan mengatakan mata Meizia seperti anak panah, tajam, bahkan bisa berbahaya.
"Pantas saja Ameer mengatakan jatuh cinta pada mu saat pertama kali melihat mu," ucap Ummi Nayla yang seketika membuat Meizia tersipu.
"Oh ya, karena sesui sesui permintaan Ameer, maka gaun ini sangat longgar. Tidak membentuk lekuk tubuh sama sekali," kata Alena. "Tapi aku pastikan gaun ini tetap cantik dan sempurna di tubuh, Meizia."
"Terima kasih banyak," ucap Meizia. "Dan mungkin sebentar lagi kamu akan membuat kan gaun pengantin untuk Hana."
"Maksud nya?" tanya Alena.
"Dia tidak memberi tahu mu kalau dia akan segera menikah?" tanya Meizia yang tentu saja membuat Alena terkejut.
"Dia akan segera menikah? Dengan siapa?" pekik Alena yang terlihat antusias akan pernikahan Hana.
"Seorang pangeran dari negeri piramida," kekeh Meizia.
"Aamiin," sambung Ummi Nayla. "Oh ya, Sayang, mau keluar? Siapa tahu kamu ingin memperlihatkan penampilan mu pada Ameer dan meminta pendapat nya."
Meizia mengangguk setuju.
Ummi Nayla pun membawa Meizia menemui Ameer, seketika Ameer terpana melihat penampilan sang istri. Ia tak mampu berkedip meski sebentar saja. Tatapan Ameer begitu dalam, seperti melihat sesuatu yang mungkin belum pernah dia lihat sebelum nya. Hal itu membuat Meizia salah tingkah, dada nya berdebar dan wajah nya terasa panas. Sudah pasti pipi nya yang terhalang kain cadar itu merah merona.
"Bagaimana, Meer?" tanya Ummi Nayla. Namun, Ameer yang masih terpukai akan kecantikan sang istri seolah tak mendengar dan tak melihat apapun selain istri nya.
Perlahan, Ameer mendekati sang istri yang masih berdiri mematung tak jauh dari nya. "Bagaimana?" cicit Meizia.
__ADS_1
Ameer menggenggam tangan Meizia dengan perlahan, kemudian mengecup nya dengan sangat lembut, membuat darah Meizia berdesir. "Masyaallah, sangat cantik," puji Ameer.
"Tidak ada yang kurang?" tanya Meizia sembari berputar.
"Tidak, ini yang aku mau." Ameer menjawab dengan tegas.
Ummi Nayla ikut tersenyum melihat binar kebahagiaan di mata Ameer, ia berharap binar itu tak pernah padam.
Sementara di sisi lain, Hana memilih di rumah saja selama beberapa hari ini. Entah kenapa ia merasa ragu untuk perjodohan nya sekarang, apalagi ia tak mengenal pria itu sama sekali.
"Haruskah aku meminta nomor telpon nya pada Abi?" gumam Hana. "Tapi itu tidak mungkin, apa yang akan pria itu pikirkan nanti kalau aku menghubungi nya lebih dulu?"
Hana membuang napas kasar, ia pun segera keluar dari kamar nya untuk menemui sang Ayah.
"Abi di mana, Ummi?" tanya Hana.
"Pergi ke Madrasah," jawab sang Ibu. Hana langsung melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 3 sore.
"Oh, pantas," gumam nya.
"Kenapa?" tanya snag Ibu.
"Tidak apa-apa, tadi nya Hana mau bertanya soal anak nya Kiai Ahmad itu," cicit Hana malu-malu. "Entah kenapa Hana jadi kepikiran, Ummi, kami tidak pernah saling mengenal. Apa yang akan terjadi nanti?"
Sang Ibu tertawa kecil mendengar keluhan Hana. "Nanti 'kan kalian akan taaruf, kalian punya kesempatan saling mengenal."
"Benar juga." Hana kembali menggumam.
__ADS_1
"Jika kamu merasa tidak cocok setelah taaruf, kami tidak akan memaksa kok."
Hana terenyuh mendengar kata-kata sang ibu, seperti biasa tak pernah mengekang anak-anak nya. "Semoga saja cocok."