Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 47 - Semakin Manis


__ADS_3

"Jadi kamu mau berhenti bekerja?" tanya Hana saat Meizia bercerita tentang apa yang di katakan oleh ibu mertua nya.


"Sebenarnya aku masih bingung, Han, kalau misal nya aku tidak bekerja, apa yang harus aku lakukan seharian di rumah?"


"Banyak," jawab Hana secara spontan. "Ibu mertua kamu itu bisa di bilang seorang Nyai, dia selalu punya aktifitas, kajian ke mana - mana, bahkan bisa sampai ke luar kota. Sering juga di undang ke berbagai acara," pungkas Hana panjang lebar. "Jadi, kalau kamu berhenti bekerja pun kamu tidak akan hanya menganggur di rumah karena kamu bisa ikut tante Nayla."


"Bener sih," gumam Meizia. "Kemarin saja seharian Ummi tidak ada di rumah, beliau pergi sama Abi, hari ini juga kata nya ada acara."


"Dan yang pasti, acara yang mereka datangi itu bukan cuma kumpul-kumpul dan bergosip, Meizia." Hana menambahkan. "Kalau tidak kajian, berceramah, ya biasa nya jadi jemaah kajian. Itu saja kegiatan mereka."


"Kamu tahu banyak tentang mereka, Han, pantas saja mereka ingin menjodohkan kamu dengan Ameer."


Ada nada getir di suara Meizia, seolah ia kembali merasa minder pada Hana.


"Aku putri mereka," kekeh Hana. "Jadi tentu saja aku tahu seperti apa keluarga ku, dan soal perjodohan itu, mereka hanya berpikir kami cocok karena sejak aku dan Ameer dekat. Hanya itu, Meizia, Ameer milik mu."


Meizia tersenyum tipis mendengar ucapan Hana. "Bagaiamana jika seandainya Ameer milik mu, Hana? Apa kau akan bahagia?"


Hana terkejut mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh Meizia, begitu juga dengan Meizia. Ia tak tahu kenapa pertanyaan seperti itu lolos begitu saja dari bibir nya.


Tiba-tiba suasana menjadi sedikit canggung hingga Ameer tiba untuk menjemput sang Istri karena hari memang sudah sore.


"Sudah selesai, Sayang?" tanya Ameer.


"Hem." Meizia hanya menggumam, ia segera menarik tas nya. "Aku pulang dulu, Hana," kata Meizia.


"Hati-hati di jalan," ujar Hana sambil melempar senyum kaku.

__ADS_1


Ameer menyadari hal itu. "Ada apa?" bisik Ameer saat mereka sudah menjauh dari Hana. "Kalian terlihat canggung, apa ada masalah?"


"Tadi aku tidak sengaja melontarkan pertanyaan yang mungkin konyol," kekeh Meizia.


"Pertanyaan apa, Sayang?"


"Aku bertanya bagaimana jika seandainya kamu milik Hana, bukan milik ku."


"Meizia, kenapa kamu bertanya begitu?"


Ameer terlihat tidak suka mendengar penuturan sang istri. "Aku tidak tahu," jawab Meizia jujur.


"Ck, lain kali jangan di ulang." Ameer memperingatkan dengan tegas. "Aku mencintai mu dan aku menyayangi Hana sebagai adikku, aku tidak mau kalian berdua sakit karena aku."


Meizia hanya mengangguk sambil tersenyum tipis, meski ia masih bertanya-tanya bagaimana bisa pertanyaan itu muncul begitu saja.


Sementara itu, Hana hanya bisa tersenyum tipis sembari geleng-geleng kepala mengingat pertanyaan Meizia. Meski sebenarnya ia pun sempat berandai-andai, bagaimana jika Ameer menjadi milik nya? Tentu saja Hana akan merasa sangat bahagia.


Suara Riana cukup mengejutkan Hana, bahkan sampai membuat jantung wanita itu berdetak cepat. "Astagfirullah, Mbak!" seru Hana kesal.


"Pulang, yuk. Udah sore," ajak Riana yang hanya di jawab anggukan kepala oleh Hana.


...🦋...


Meizia masih memikirkan saran ibu mertuanya untuk berhenti bekerja, ia juga teringat dengan pria yang mendatangi nya di restaurant. Meizia yakin, cepat atau lambat kejadian hal serupa akan terulang. Alhasil, kini ia sudah memutuskan akan tetap berada di rumah saja. Untuk menghindari orang yang mungkin akan mengenali nya, juga untuk memperbanyak belajar ilmu agama bersama ibu mertuanya.


"Malam ini Abi sama Umiu tidak akan pulang kata nya," ujar Ameer sembari merangkak naik ke atas ranjang.

__ADS_1


"Mereka ke mana?" tanya Meizia penasaran, apalagi sejak mereka sampai rumah, rumah memang sepi.


"Ke luar kota, kata nya mendadak. Jadi mungkin akan pulang besok atau lusa." Meizia mengangguk mengerti.


Ameer meletakkan kepala nya di pangkuan Meizia yang saat ini sedang duduk bersandar ke kepala ranjang. Meizia menyambut sang suami dengan senyum hangat, bahkan ia langsung mengusap kepala Ameer dengan lembut.


"Ameer, aku ingin mengatakan sesuatu," ujar Meizia.


"Katakan saja, Sayang," sahut Ameer yang kini memejamkan mata, menikmati sentuhan tangan sang istri.


"Aku akan berhenti bekerja," ucap Meizia yang membuat Ameer langsung membuka mata.


"Kenapa?" tanya Ameer penasaran.


"Sekarang aku sudah menjadi istri kamu, aku ingin menghabiskan waktu pengabdi sama kamu dan belajar ilmu agama. Ikut Ummi kajian, apa boleh?" Meizia menatap Ameer penuh harap. "Aku sangat terlambat mempelajari ilmu agama, jadi sekarang aku ingin memaksimalkan waktu ku untuk belajar."


"Itu juga ide yang bagus," kata Ameer. Jawaban suami nya itu tentu saja membuat Meizia langsung tersenyum sumringah. "Tapi aku tidak mau kamu ikut Ummi jika ke luar kota, seperti sekarang. Aku tidak mau ditinggal istri ku."


Meizia tertawa kecil mendengar permintaan Ameer itu. "Tidak, aku akan tidak akan pergi ke mana pun kalau kamu tidak mengizinkan."


"Bagus, memang begitu seharusnya."


Meizia menunduk dan memberanikan diri memberikan kecupan hangat di kening Ameer. "Aku mencintaimu," ucap Meizia dengan tatapan yang dalam.


"Aku juga mencintai mu, Sayang," balas Ameer. "Apa bisa kita melakukan nya sekali lagi? Aku rasa Ummi dan Abi akan senang jika segera ada bayi."


Wajah Meizia langsung merona mendengar kata-kata Ameer, dan tentu saja ia tak bisa menolak meski sebenarnya juga tak bisa menjawab iya. Meizia terlalu malu untuk menjawab pertanyaan seperti itu.

__ADS_1


"Boleh, tidak?" desak Ameer.


"Aku milik mu," jawab Meizia. "Lakukan saja apa yang kamu mau, Sayang." Ia berkata dengan malu-malu. "Kamu berhak memiliki tanpa meminta."


__ADS_2