
Hari terus bergulir, semua sumber kebahagiaan datang dari arah yang tak pernah mereka duga. Hidup Meizia dan Ameer kini hampir sempurna, begitu juga dengan hidup Hana.
Syafiq juga tak pernah lagi menghubungi nya, pria itu menghilang seperti bayangan, meninggalkan rasa penasaran yang teramat besar dalam diri Hana.
Ia menunggu waktu dua minggu dengan cemas, gugup tapi juga semangat. Apalagi ia sangat penasaran dengan rupa dari pria yang mungkin akan menjadi imam nya nanti.
Di sela semua rasa yang ada dalam hati nya itu, Meizia terus mengambil kesempatan untuk menggoa Hana, sampai membuat wanita tak bisa lagi berkata-kata. Bahkan, semakin menggoda nya, semakin Hana penasaran dengan sosok sang pangeran.
Hingga akhirnya hari yang Hana tunggu tiba, kepulangan Syafiq.
"Apa yang akan kami bicarakan saat kami bertemu nanti?" tanya Hana pada Ayah, tentu saja Abi Thohir mengernyit mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh putri bungsu nya.
"Itu terserah kalian," jawab Abi Thohir. "Kalian bisa membicarakan apapun yang ingin kalian ketahui satu sama lain, asal tetap pada batasan nya."
Hana mengangguk mengerti.
Tak berselang lama, Riana dan suami nya keluar dari kamar. "Sudah siap pergi?" tanya Riana pada sang adik.
Hana kembali hanya mengangguk.
"Kenapa lemas begitu? Tidak semangat bertemu calon suami?" goda Riana.
"Hanya sedikit gugup," jawab Hana dengan jujur.
"Dia tidak akan memakan mu, Dek," goda suami Riana. "Lagi pula kami akan menemani kalian."
"Iya sih," gumam Hana. "Boleh kalau aku ajak Meizia sekalian?" pinta Hana kemudian.
"Kamu serius?" pekik Riana. "Kalau kamu mengajak Meizia, sama saja kamu mengajak Ameer karena Ameer tidak akan membiarkan istri nya pergi sendiri. Apa kalian tidak akan canggung jika harus mengobrol di depan banyak orang."
"Meizia dan Ameer hanya dua orang, Mbak," balas Hana yang membuat sang kakak melongo, sementara kedua orang tua dan kakak ipar nya justru tertawa geli.
"Ya sudah, ajak saja mereka jika itu bisa mengurangi kegugupan mu," ujar sang Ayah yang membuat Hana senang. Tanpa membuang waktu ia langsung menghubungi Meizia dan mengutarakan keinginan nya untuk mengajak wanita itu pergi menemui Syafiq.
"Aku izin dulu sama Ameer, ya, dia masih di kantor," kata Meizia dari seberang telfon.
"Okay, kita mau bertemu di restoran Mbak Hana kok, jadi nanti kalian langsung ke sana, ya."
"Iya, Hana. Semoga saja Ameer mengizinkan, aku juga penasaran setampan apa calon imam mu."
Hana tersipu mendengar ucapan Meizia, teman nya itu memang tidak akan pernah berhenti menggoda, pikir Hana.
"Ya sudah, aku tunggu di sana."
__ADS_1
Setelah mengucapkan kalimat itu Hana memutuskan sambungan telfon nya, ia pun berpamitan pada orang tua nya sebelum pergi.
"Semakin hari aku melihat Hana semakin dekat dan bergantung pada Meizia," ujar ibunya Hana pada sang suami. "Dia bahkan lebih dekat dengan istri Ameer dari pada dengan kakak nya sendiri. Kok bisa ya, Bi?"
"Aku juga tidak tahu, Ummi," sahut sang suami yang memang meras merasakan perubahan sikap Hana. "Tapi itu tidak apa-apa, selama pertemanan mereka tidak membawa hal buruk, dan justru membawa hal baik, Abi rasa itu justru bagus."
"Iya sih, mereka memang tidak melakukan hal buruk. Semoga saja seterus nya begitu."
...🦋...
Ameer yang saat ini sedang sibuk bekerja terpaksa menghentikan aktivitas nya saat ada telfon masuk dari sang istri.
"Ada apa, Sayang?" tanya Ameer dengan lembut.
"Hana mengajak kita makan siang bersama, kata nya sekalian mau bertemu dengan calon suami nya," jawab Meizia yang membuat kening Ameer berkerut.
"Kenapa kita? Memang nya tidak ada yang menemani Hana?" tanya Ameer lagi.
"Mbak Riana sama suami nya menemani dia, tapi aku rasa tidak masalah jika kita juga menemani nya, dia mengajak kita."
"Baiklah, tunggu sebentar lagi, Sayang, aku akan menjemput kamu."
"Okay, aku siap-siap dulu, ya."
"Ameer?" panggil Meizia sebelum Ameer memutuskan sambungan telfon nya.
"Iya, Sayang?"
"Aku ingin sekali makan jagung bakar, bisa kau belikan?"
Kening Ameer berkerut dalam, ia melirik arloji nya yang menunjukkan pukul setengah 12 siang. "Siang, tidak ada yang menjual jagung bakar sekarang," kata Ameer.
"Tapi aku ingin sekali, apa benar-benar tidak ada yang menjual nya sekarang?"
"Biasa nya di dekat kantor ada, tapi kalau sudah sore. Nanti sore aku belikan, ya."
"Ck."
Pupil mata Ameer melebar mendengar Meizia yang berdecak, ini kali pertama istri nya itu berdecak kesal pada nya.
"Meizia Sayang, nanti sore ya," bujuk Ameer.
"Ya sudah, cepat pulang nanti Hana kelamaan menunggu!"
__ADS_1
Ameer melongo, Meizia berbicara dengan nada yang sedikit tinggi dan kesal. Bahkan, istri nya itu memutuskan sambungan Teflon tanpa mengucapkan salam.
"Aneh sekali, apa dia sedang datang bulan sampai sensi begini?" gumam Ameer.
Ameer segera menyelesaikan pekerjaan nya setelah itu ia menemui Rizal. "Mau pulang?" tebak Rizal.
"Istri ku mengidam jagung bakar, Rizal, kamu tahu di mana ada orang yang menjual jagung bakar?" tanya Ameer tanpa menjawab pertanyaan Rizal sebelum nya.
"Di dekat kantor setiap sore biasa nya ada," jawab Rizal.
"Istri ku mau nya sekarang, sekarang juga." Ameer memberi tahu penuh penekanan, membuat Rizal terkekeh.
"Orang hamil kadang memang begitu, Bro, pengen sekarang mau dapat nya juga sekarang," kekeh nya. "Coba cari di dekat taman anak-anak tuh, biasa nya di sana banyak orang jualan."
"Benar juga," gumam Ameer. "Ya sudah, aku pulang dulu, ya. Selesaikan pekerjaan mu dengan baik."
...🦋...
Sudah tiga puluh menit Meizia menunggu sang suami pulang dari kantor, tapi suami nya tak kunjung datang. Membuat Meizia merasa kesal, apalagi seperti nya sekarang dia tidak akan bisa makan jagung bakar yang dia mau.
"Biasa nya aku selalu di tanya ngidam apa, sekarang aku ngidam jagung bakar tapi tidak di belikan, aneh sekali," gumam Meizia penuh kekesalan.
"Sabar ya, Nak." Ia mengusap perut nya yang mulai sedikit buncit. "Biasa nya ayah kamu itu selalu memanjakan kita, tapi tidak tahu kenapa sekarang dia tidak memenuhi keinginan kita."
Tak berselang lama, terdengar suara klakson mobil Ameer dari luar. Biasa nya Meizia akan segera keluar untuk menyambut Ameer, tetapi sekarang ia tidak melakukan itu.
Tak berselang lama, pintu kamar nya terbuka." Assalamualaikum, Sayang," sapa Ameer.
"Lama sekali," gerutu Meizia tanpa menjawab salam Ameer.
"Sayang, menjawab salam itu wajib." Ameer mengingatkan sembari terkekeh, apalagi setelah melihat raut wajah kesal sang istri.
"Waalaikum salam," ucap Meizia ketus.
"Nah gitu dong," seru Ameer sembari duduk di sisi sang istri. "Jagung yang kamu mau!" Ameer menyerahkan kresek putih yang langsung di sambar oleh Meizia, apalagi setelah mendengar kata jagung.
"Kata nya tidak ada jagung bakar?" tanya Meizia sembari mengeluarkan satu jagung bakar itu dari bungkusan koran dengan semang semangat..
"Tadi aku cari sampai dapat," jawab Ameer.
"Terima kasih, Sayang, kamu baik sekali." Meizia langsung memeluk Ameer bahkan mencium nya berkali-kali. Membuat Ameer hanya bisa tertawa kecil.
"Jadi, sekarang kita masih mau menemui Hana atau tidak?"
__ADS_1
"Temui Hana, dia sudah menghubungi ku sejak tadi," jawab Meizia. "Nanti aku makan jagung nya di mobil."