Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 46 - Warna Baru


__ADS_3

Ameer tak bisa menghentikan senyum sumringah di bibir nya, kedua mata pria itu berbinar terang. Malam ini mungkin adalah malam terindah dalam hidup nya, di mana ia menyerahkan hati, jiwa dan tubuh nya untuk seorang wanita yang sangat ia cintai.


Hal yang sama di rasakan oleh Meizia, wanita itu merasa ada suatu beban yang terangkat dari pundak nya setelah ia melaksakan kewajiban sebagai seorang istri. Ia juga merasakan kebahagiaan yang luar biasa, seolah dunia ini menjadi milik nya.


Malam sudah semakin larut, orang-orang sudah pasti bergelut dengan mimpi mereka. Sementara Ameer dan Meizia menikmati sisa-sisa keindahan duniawi yang baru mereka rengkuh bersama.


"Tidur lah, Sayang," kata Ameer sembari mengusap keringat di pelipis Meizia yang membuat rambut nya menempel di sana.


"Kamu juga," balas Meizia. "Ini sudah malam."


Ameer tersenyum, ia semakin merengkuh Meizia, memberikan kecupan hangat di kening sang istri. "Terima kasih untuk malam ini," bisik Ameer yang membuat wajah Meizia langsung memerah. "Aku mencintaimu."


"Aku juga," balas Meizia yang semakin mendesakan tubuh nya ke tubuh Ameer, mencari kehangatan dan kenyamanan dari pelukan sang suami.


"Juga apa?" goda Ameer.


"Juga mencintai mu," sahut Meizia dengan suara lirih, ia menguap dan mata nya sudah mulai tertutup karena mengantuk.


Ameer tertawa kecil, ia kembali mengecup kening Meizia seolah itu sudah menjadi candu bagi nya. "Baiklah, Sayang, ayo kita tidur."


...🦋...


Saat pagi hari, Meizia terlihat lebih ceria begitu juga dengan Ameer.


Tingkah si pengantin baru rupanya terbaca oleh Ummi Nayla dan Abi Zaid saat mereka berkumpul untuk sarapan.


"Kalian ingin pergi ke suatu tempat?" tanya Ummi Nayla tiba-tiba.

__ADS_1


"Tidak, Ummi, kenapa?" Ameer balik bertanya.


"Setiap pengantin biasanya pergi ke suatu tempat untuk berbulan madu, kalian tidak ingin memaksimalkan waktu kalian?" Ummi Nayla menatap Meizia dan Ameer bergantian.


"Kamu ingin pergi ke suatu tempat, Sayang?" tanya Ameer.


"Aku tidak tahu harus pergi ke mana," jawab Meizia yang memang tidak pernah ingin ke suatu tempat.


"Seperti nya kita harus memikirkan itu nanti," pungkas Ameer. "Aku akan berbicara dengan Rizal dulu, untuk mengatur jadwal ku."


Meizia mengangguk setuju. "Oh ya, hari ini aku akan kembali bekerja, sudah beberapa hari aku tidak bekerja, apa boleh?" tanya Meizia yang langsung di jawab anggukan kepala oleh Ameer. Sebab, ia juga harus mulai kembali bekerja.


"Padahal kalau kamu tidak bekerja juga tidak apa-apa, Mei," sambung Ummi Nayla, apalagi sekarang Meizia adalah istri Ameer, di mana semua kebutuhan nya sudah menjadi kewajiban Ameer untuk memenuhi nya. "Sekarang kamu istri Ameer, semua yang kamu butuhkan sudah menjadi tanggung jawab Ameer. Istri itu akan lebih baik ada di rumah."


Meizia yang mendengar pernyataan ibu mertuanya itu tampak bingung, apalagi Ummi Nayla seolah meminta Meizia berhenti bekerja tetapi dengan bahasa yang halus.


"Aku akan memikirkannya kembali," ujar Meizia kemudian.


Setelah sarapan, Ameer mengajak Meizia berangkat bersama.


"Kami pergi bekerja dulu, Tante," ujar Meizia sembari mencium tangan Ummi Nayla mengikuti apa yang Ameer lakukan.


"Ummi," panggil Ameer. "Menantu Ummi manggil Tante lho, memang nya itu tidak terdengar sedikit lucu dan aneh?" tanya Ameer.


Ummi Nayla tertawa kecil mendengar pertanyaan putra nya itu. "Lucu sih, tapi mau bagaimana lagi? Meizia tetap memanggil kami Om dan Tante, Ummi mau minta dia meminta memanggil kami Ummi dan Abi takutnya dia tidak nyaman."


Ameer menghela napas berat, sementara Meizia hanya meringis.

__ADS_1


"Dia menunggu Ummi memintanya memanggil Ummi," kata Ameer. "Dan Ummi menunggu Meizia punya inisiatif sendiri memanggil Ummi, kalian ini bagaiamana?"


Ummi Nayla dan Meizia hanya bisa tertawa kecil, rupanya mereka sama-sama menunggu. Ameer bisa memahami kecanggungan yang ada di antara dua ratu nya itu. Meizia yang mungkin masih merasa minder, dan Ummi Nayla yang mungkin masih merasa tak sepenuh nya bisa menerima masa lalu Meizia.


"Kalau begitu kami pergi ... Ummi." Meizia melemparkan tatapan lembut nya pada sang Ibu mertua.


"Hati-hati, Nak," ujar Ummi Nayla yang juga tersenyum.


"Masyaallah, ini pemandangan yang indah," puji Ameer sambil terkekeh.


Ameer pun mengantar Meizia ke restaurant Riana, tak lupa ia berpesan agar Meizia menghubungi nya jika sudah saat nya pulang nanti.


Di sana juga sudah ada Hana, wanita itu menyambut Meizia dengan hangat. "Wow, Hena di tangan mu bagus," puji Hana.


"Aku juga merasa ini sangat bagus," kata Meizia.


"Siapa yang menggambar nya? Aku lihat sepertinya Hena itu tidak ada saat kamu menikah dengan Ameer."


"Ameer baru melukis nya kemarin nya kemarin siang," jawab Meizia. "Katanya untuk menutupi bekas luka ku."


"Ameer yang melakukan nya?" pekik Hana tak percaya. "Wah, kakak sepupu ku yang satu itu lumayan juga, ya," kekeh nya.


"Aku juga terkejut dia melakukan ini," kata Meizia. "Tapi aku senang." Ia berkata dengan mata yang berbinar terang.


"Zia, sepertinya sekarang hidup mu sudah penuh warna, ya?" goda Hana. "Tidak menunda nomongan, kan? Biar warna nya lebih cerah."


"Tidak," jawab Meizia. "Kami juga berharap akan segera ada bayi."

__ADS_1


"Aamiin."


__ADS_2