
Ameer tidak bisa melangkah mundur begitu saja.
Dia tak bisa melupakan Meizia kemudian pergi pada Hana begitu saja seperti yang diinginkan orang tuanya, selain karena Ameer sudah menjatuhkan hatinya pada Meizia, ia juga tak ingin menyakiti Hana. Menikahinya tanpa cinta.
Oleh karenaitu, setelah Ameer menyelesaikan pekerjaannya ia memutuskan untuk kembali ke rumah Meizia. Apapun yang terjadi nanti, yang ia inginkan adalah berbicara dari hati ke hati dengan Meizia.
Ameer menunggu ada yang membuka pintu setelah ia mengetuk pintu beberapa kali. Ia sedikit gugup apalagi mengingat bagaimana Mami Lala membuatnya shock tadi pagi.
Saat pintu dibuka dan yang muncul adalah Meizia, Ameer sedikit bernapas.
"Ameer?" gumam Meizia tampak lemah.
"A—"
BRRUKKK
"Meizia!" pekik Ameer saat gadis itu justru ambruk ke lantai, membuat Ameer panik apalagi wajah Meizia terlihat sangat pucat.
Bersamaan dengan itu Jenny datang dan langsung berteriak melihat ada pria asing di rumah temannya sedangkan temannya itu dalam keadaan pingsan.
"Hey! Penculik!" seru Jenny yang langsung memukuli Ameer dengan tasnya.
Ameer sudah membuka mulut untuk menjelaskan, tetapi Jenny terus berteriak dan memukulinya.
"Dasar pria jahat!"
"Kamu mau menculik temanku, huh?"
"Kamu membuat dia pingsan?"
"Aku akan melaporkanmu ke polisi!"
"Tunggu dulu, Mbak!" seru Ameer kemudian sembari mencoba menangkis pukulan Jenny.
__ADS_1
"Tunggu apa, huh? Tunggu polisi datang?" teriak Jenny lagi.
"Zia pingsan, Mbak! Wajahnya pucat, dia sakit!" seru Ameer akhirnya dengan suara lantang yang langsung membuat Jenny terdiam.
"Zia?" tanya Jenny karena tak ada yang memanggil Zia dengan nama belakangnya.
"Iya, lihat dia!" Ameer menunjuk Meizia yang masih tergeletak di lantai.
"Astaga, Mei!" jerit Jenny panik, ia langsung menghampiri Meizia dan menepuk pipi wanita itu berkali-kali. "Bangun, Mei! Bangun!"
"Kita harus membawa dia ke rumah sakit, wajahnya sangat pucat," kata Ameer.
"Ya cepat bantu angkat dia! Kamu pikir aku bisa gendong sendiri?"
...🦋...
"Kenapa kamu tidak mengiyakan saja permintaan Om sama Tante, Dek?" tanya Ariana pada Hana. "Padahal mereka sendiri loh yang memilih kamu untuk jadi Makmum Ameer, itu impian semua gadis tahu!" seru nya yang membuat Hana terkekeh.
"Tapi yang akan menjalani pernikahan ini aku dan Ameer, Mbak, aku tidak bisa masuk begitu saja dalam kehidupan Ameer tanpa izin darinya. Jadi aku akan berbicara dulu dengan Ameer," tukas Hana panjang lebar.
"Aku juga berpikir begitu, Mbak," gumam Hana. "Aku yakin Ameer pasti memilih wanita yang mendekati sempurna, tapi kenapa Om dan tante tidak setuju?"
...🦋...
Meizia mengerjap beberapa saat cahaya terang menyilaukan matanya. Sayup-sayup ia mendengar suara bass seorang pria, entah siapa tapi tak asing di telinganya.
"Pasien dehidrasi, bahkan dia juga kelaparan dan daya tahan tubuhnya sangat lemah. Jadi sangat penting memperhatikan asupan gizinya."
Meizia menatap ke sekelilingnya, ia berada di ruangan yang serba putih dan tak jauh dari tempatnya berbaring ia melihat seorang pria yang memungungginya. Pria itu sedang berbincang dengan seorang Dokter.
"Kau sudah sadar, Bu?" seru Dokter saat melihat Meizia sudah bangun, pria itu pun menoleh yang seketika membuat Meizia terkejut.
"Kau?" lirih Meizia.
__ADS_1
"Ada apa, Zia? Dokter bilang perut mu kosong, kau bahkan mengalami dehidrasi." Ameer berkata dengan cemas.
"Aku baik-baik saja," kata Meizia sembari berusaha turun dari ranjang rumah sakit itu.
"Mei!" teriak Jenny yang baru saja masuk ke ruang rawat Meizia. "Ah, Mei! Akhirnya kamu bangun juga, astaga. Kamu pingsan lama sekali," celoteh Jenny.
"Ayo pulang, Jen," ajak Meizia.
"Dokter menyarankan kamu dirawat setidaknya sampai besok pagi," kata Ameer. Namun, Meizia seolah tak mendengar suara Ameer bahkan ia juga seolah tak perduli dengan keberadaan pria itu.
"Zia!" seru Ameer dengan tegas.
"Tolong, Jen!" Meizia mengulurkan tangannya pada Jenny karena ia masih merasa pusing.
Akan tetapi, yang menyambut uluran tangannya itu justru Ameer yang seketika membuat Meizia tercengang.
"Aku bilang kamu harus dirawat setidaknya sampai besok pagi," geram Ameer yang bahkan langsung memaksa Meizia kembali ke ranjangnya. Tindakan Ameer itu membuat Meizia terhenyak, sampai ia tidak bisa berkata-kata apalagi melawan.
Sementara Jenny hanya bisa terdiam, ini kali pertama ada orang asing yang begitu perduli pada Meizia.
Sejak tadi, Jenny memperhatikan Ameer dan pria itu memang terlihat mencemaskan keadaan Meizia, saat ia bertanya apa hubungannya dengan Meizia, Ameer enggan menjawabnya.
"Sebaiknya kau memang tetap di sini setidaknya sampai besok pagi, Bu," kata Dokter akhirnya dan Meizia hanya menunduk dalam.
Tak berselang lama, seorang Suster datang membawakan makanan untuk Meizia. "Terima kasih," kata Ameer. "Biar kami yang mengurusnya."
Ameer meletakkan makanan itu di pangkuan Meizia dan menyuruh wanita itu memakannya. "Habiskan, Zia."
"Kenapa kamu lakukan ini?" tanya Meizia akhirnya.
"Aku perduli," jawab Ameer secara spontan.
"Kita hanya bertemu beberapa kali, kamu tidak perlu perduli," desis Meizia kemudian dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Aku juga tidak ingin perduli, tapi di sini...." Ameer menyentuh dadanya. "Di sini ada rasa perduli padamu, apakah itu berarti atau tidak untukmu atau tidak, aku tidak perduli. Aku hanya mengikuti apa yang hatiku rasakan!"