
"Selama ini aku selalu menyalahkan takdir, aku merasa Tuhan itu sangat tidak adil pada ku, Han."
Hana yang mendengar pernyataan Meizia itu langsung menoleh, menatap temannya itu dengan nanar. "Lalu? Bagaimana menurutmu sekarang?"
Meizia menghela napas panjang, kemudian ia berdiri dan mengulurkan tangannya pada Hana. Tanpa bertanya, Hana menerima uluran tangan Meizia.
Wanita itu membawa Hana berjalan, hingga mereka sampai di tepi sungai. Suara aliran sungai itu begitu indah, begitu menenangkan.
"Kemudian aku terus berpikir ...." Meizia melanjutkan sembari memasukan kakinya ke dalam air sungai yang sejuk itu. "Di bagian mana Tuhan tidak adil pada ku? Aku mengingat kembali perjalanan hidup ku, yang terjadi padaku. Namun, yang aku temukan bukan celah Tuhan. Tapi celah pada diri ku sendiri."
Hana mengernyit mendengar pernyataan Meizia, ia pun duduk di sisi sahabatnya itu. Kemudian juga memasukan kaki nya ke dalam air sungai, tetapi ia tak dapat merasakan sejuknya air sungai itu.
"Apa maksudnya kamu menemukan celah pada diri mu sendiri, Zia?" tanya Hana sembari mencoba memasukkan kaki nya lebih dalam, berharap ia bisa merasakan sejuknya air sungai itu.
"Aku tidak bisa sabar, tidak bisa bersyukur, dan tidak bisa ikhlas dengan takdir yang sudah ada pada ku," tukas Meizia. "Padahal aku ini milik-Nya, terserah Dia akan memberikan apapun padaku. Yang seharusnya aku lakukan adalah sabar atas segala cobaan-Nya, bersyukur atas segala pemberian-Nya dan ikhlas atas takdir-Nya. Yakin suatu hari nanti Dia akan memberikan hadiah yang besar, susuai janji-Nya."
"Yeah, ikhlas memang satu-satunya cara untuk mendapatkan ketenangan dalam hidup." Hana berkata lirih sambil tersenyum tipis.
"Meizia, aku tidak bisa merasakan kaki ku di dalam air sini," ungkap Hana kemudian.
"Benarkah? Bukankah sebelumnya kamu sudah sering ke sini dan merendam kakimu di sini?"
"Iya, tapi sekarang aku tidak bisa merasakan sejuknya air sungai ini."
...🦋...
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul satu malam, Hana sudah kembali tidur setelah Suster menyuntikan obat lewat infusnya. Riana juga dengan setia menjaga adiknya di sana.
Meski hari sudah malam, ia tidak merasa mengantuk sedikitpun karena terus memikirkan masa depan sang Adik.
Riana mendekati Hana yang tampak gelisah, ia melihat kening Hana yang berkerut dalam. Seolah ada yang sedang ia tahan. Dengan lembut Riana mengusap kening Hana, hingga perlahan kerutan itu hilang.
Sementara di sisi lain, Meizia sedang berjuang melahirkan kedua anaknya dengan ditemani oleh Ameer yang terus menggenggam tangannya.
Ameer mengusap kening Meizia yang sudah sangat basah karena keringat.
Dokter memberikan instruksi pada Meizia agar tenang, kemudian menarik napas dan menghembuskannya sebelum akhirnya Meizia kembali harus mengejan.
"Bismillah, Sayang, kamu bisa melakukannya." Ameer berbisik lirih di telinga Meizia. Meski panik dan cemas, ia tetap berusaha terlihat tenang agar Meizia juga tenang.
"Sabar sedikit, ya." Ameer mengusap kening Meizia. "Sebentar lagi sakitnya hilang," ujarnya meski ia tahu rasa sakit itu tidak akan hilang sampai Meizia selesai melahirkan.
Sementara Meizia yang mendengar ucapan Ameer hanya bisa tersenyum samar, merasa senang setidaknya suaminya masih bisa menghibur di saat seperti ini.
Meizia kembali mengejang mengikuti instruksi sang Dokter.
Di luar persalinan, mertua dan kakak-kakak iparnya menunggu sambil terus berdoa tanpa henti.
"Ya Allah, lama sekali," gumam Abi Zaid yang mulai cemas. "Seharusnya kita memilih jalan operasi saja, Meizia akan melahirkan anak kembar. Itu tidak akan mudah."
"Abi?" tegur Shafa. "Aku yakin melahirkan normal juga bukan pilihan yang salah, apalagi sebelumnya Meizia sudah berkonsultasi dengan Dokter."
__ADS_1
"Kita berdoa saja, Abi," sambung Marwa sembari menarik sang Ayah agar duduk, sejak tadi ayahnya itu memang mondar-mandir tanpa henti.
Beda halnya dengan Ummi Nayla yang lebih terlihat tenang meski sebenarnya dalam hati ia juga bergejolak.
Tak berselang lama, terdengar suara tangisan bayi yang membuat mereka semua saling memandang. Kemudian, mereka pun mengucapkan rasa syukur dengan serempak.
Wajah yang tadi tegang kini terlihat sedikit lebih tenang, bahkan senyum mulai terbit di bibir keluarga Ameer itu.
Sama halnya dengan Ameer dan Meizia yang langsung menitikkan air mata saat melihat anak pertama mereka lahir dengan selamat dan tak kekurangan apapun.
Dokter dan suster yang membantu kelahiran Meizia juga bernapas lega dan langsung menyerahkan bayi itu pada Ameer. "Dia cantik sekali, Sayang, sepertimu." Meizia menatap anaknya yang ternyata perempuan itu. Ia hendak menyentuhnya, tetapi tiba-tiba ia kembali merasakan sakit yang tiada tara. Bahkan, Meizia langsung menjerit secara spontan, membuat Ameer panik.
Dokter dan Suster pun langsung menangani Meizia yang akan melahirkan anak keduanya.
Sementara satu Suster di perintahkan untuk mengurus anak Meizia yang sudah lahir.
"Sayang, tenanglah!" pinta Ameer yang kini kembali menggenggam tangan Meizia meski tangannya sendiri berdarah karena memegang bayinya tadi.
Meizia masih terus menangis, tetapi ia mencoba mengejan sesuai instruksi Dokter. Namun, setelah beberapa saat, Dokter tak juga melihat kepala bayinya. Dokter kembali memberikan instruksi pada Meizia agar mengejang lebih kuat.
Meizia menatap Ameer dengan nanar, genggaman tangannya semakin kuat. Tanpa sadar, ibu juga menangis. Merasa tak tega melihat rasa sakit sang istri. Kini ia tak bisa lagi menyembunyikan rasa cemasnya.
Meizia kembali mengejang sekali lagi dengan kekuatan penuh, dan saat itu juga Dokter berhasil melihat kepala bayi. Namun....
"Dokter, pasian kehilangan kesadarannya!"
__ADS_1