Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 37 - Janji Suci


__ADS_3

"Tante berhak menyingkirkan wanita pendosa ini dari putra Tante yang alim, wanita di hadapan Tante ini tidak akan keberatan."


Suara Meizia tercekat saat mengucapkan kalimat itu, ia tahu dirinya kini seolah sedang menantang Ummi Nayla untuk menyingkirkannya. Namun, itu jauh lebih baik dilakukan sekarang dari pada nanti setelah ia sah menjadi istri Ameer.


Sementara Ummi Nayla justru tampak bingung dengan perasaannya sendiri.


"Tante ...." Meizia menyentuh tangan Ummi Nayla dengan lembut. "Aku tahu, mungkin dalam bayangan Tante masa depanku dan Ameer pastilah sangat tidak mudah, apalagi ketika orang-orang tahu siapa aku. Itulah alasanku selalu menolak Ameer selama ini, aku tidak ingin namanya yang harum itu ternoda oleh namaku yang kotor." Meizia menarik napas panjang, ia mengerjap beberapa kali untuk menahan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya.


"Dan aku tahu, sebagai seorang Ibu Tante pasti ingin yang terbaik untuk Ameer. Tidak seperti ibuku yang justru melampiaskan semua kemarahannya padaku, aku akan sangat ikhlas jika Tante ingin aku meninggalkan Ameer."


Ummi Nayla menatap mata Meizia, ia terenyuh. Mata itu begitu sayu, menggambarkan kejujuran juga kerapuhan.


Tiba-tiba Ummi Nayla menarik Meizia ke pelukannya, membuat Meizia terkejut bahkan tubuhnya langsung menegang. "Tante minta maaf, Meizia," lirih Ummi Nayla. "Tante cuma masih takut, takut menghadapi masa depan Ameer akan seperti apa nanti." Ka berkata dengan suara rendah dan tenang.


"Tapi bukan berarti Tante mau kamu meninggalkan Ameer, Tante bisa melihat cinta tulus Ameer untukmu. Tante hanya ingin menguatkan dan memantapkan hati Tante, Sayang. maafin Tante."


Air mata Meizia jatuh begitu saja mendengar kata maaf dan sayang yang begitu tulus dan dalam dari bibir calon ibu mertuanya ini. Dua kata sederhana yang bahkan tak pernah terucap dari mulut Ibu kandungnya sendiri.


Meizia membalas pelukan Ummi Nayla dengan erat membuat calon Ibu mertuanya sedikit terkejut, apalagi ketika Meizia mulai terisak kecil.


"Tante tidak bermaksud mengungkit masa lalu kamu, Meizia, suatu hari nanti saat kamu sudah menjadi ibu, Kamu pasti pasti mengerti kenapa rasa takut dan cemas ini ada."


Meizia mengangguk mengerti, isak tangisnya semakin menjadi dan pelukannya pun semakin erat.

__ADS_1


"Mama .... mama bahkan tidak pernah mengucapkan kata sayang dan maaf padaku," lirih Meizia di tengah isak tangisnya. "Setelah menghancurkan hidupku, dia tidak pernah meminta maaf sekali pun. Padahal aku menyayanginya dengan tulus."


Hati Ummi Nayla seperti tercubit mendengar pengakuan Meizia, ia bisa mengerti betapa wanita itu mengharapkan yang terbaik dari ibunya.


Meizia melerai pelukannya sembari menghapus air mata yang terus mengalir di pipinya. "Aku tahu masa laluku tidak akan pernah bisa dihapus, Tante," ucap Meizia. "Tapi Ameer bilang hidup itu adalah pilihan, dan aku memilih fokus pada masa depanku. Biarlah masa laluku menjadi pelajaran dalam hidupku, atau mungkin orang lain."


Ummi Nayla mengangguk mengerti, ia membantu Meizia menyeka air matanya. "Tante cuma minta satu hal, Meizia, tolong jaga kebahagiaan Ameer. Dia satu-satunya putra Tante."


"Apa sudah sele—" Ummi Nayla dan Meizia menoleh saat mendengar suara Shafa. "Astaghfirullah, ada apa ini?" tanya Shafa yang langsung melangkah lebar mendekati Meizia dan Ummi Nayla. "Akadnya sudah mau dimulai, Ummi."


"Iya, Sayang, kami akan keluar." Ummi Nayla membantu Meizia berdiri.


"Kalian menangis? Ada apa?" Shafa bertanya dengan penasaran.


"Tidak apa-apa, Shafa." Ummi Nayla menjawab dengan tegas.


Namun, ketakutan Ameer menguap begitu saja saat ia melihat sang Ibu datang membawa Meizia. Senyum sumringah Ameer terbitan, sangat lebar dan matanya berbinar terang.


Hana dan yang lainnya juga tersenyum saat melihat sang pengantin wanita telah datang, Jenny yang juga hadir di sana langsung tersenyum lebar melihat temannya dalam balutan gaun pengantin. Bahkan, Jenny tak mampu membendung air mata harunya.


"Duduk di sini, Meizia."


Ummi Nayla meminta Meizia duduk di sisi Ameer, dan ia pun hanya patuh.

__ADS_1


"Bisa kita mulai?" penghulu karena mereka sudah menunda dari waktu yang seharusnya.


"Bisa, Pak," jawab Ameer dengan tegas.


"Baiklah, Nak Ameer, jabat tangan saya."


Penghulu mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Ameer, sementara Meizia hanya bisa terus menunduk dalam.


Siapa yang sangka ia akan ada di posisi ini sekarang? Semuanya terasa seperti mimpi.


"Sebelum akad, saya ingin mengingatkan satu hal pada kalian meskipun saya tahu mungkin kalian telah sangat memahami ini," kata penghulu yang akan menikahkan mereka. "Bahwa pernikahan bukanlah sebuah pencapaian dalam hidup kalian, tetapi justru perjalanan yang paling panjang dan berat. Bahwa rumah tangga bukanlah hal yang akan selalu memberikan kalian senyum kebahagiaan, kesenangan dan semacamnya. Tetapi justru rumah tangga adalah jalan yang penuh dengan air mata, pengorbanan, perjuangan.


"Semua akan indah dan mudah, jika kalian melakukan satu hal. Yaitu dengan membawa nama Allah, menikahlah kalian karena Allah. Maka Allah akan membantu saat rumah tangga kalian sedang diterpa badai."


Meizia tersenyum mendengar nasihat itu, begitu juga dengan Ameer.


"Inysaallah," sahut Ameer dengan yakin.


"Dan satu hal lagi, jadilah makmum yang baik untuk imam-mu, saudari Meizia. Begitu juga denganmu, Nak Ameer. Jadilah imam yang baik untuk Meizia, agar kelak kalian pergi ke surga-Nya bersama-sama. Membangun mahligai cinta kalian yang abadi di sana, bukan hanya di dunia."


"AAMIIN." Meizia dan Ameer menjawah bersamaan.


Penghulu yang bertindak sekaligus sebagai wali hakim untuk Meizia itu pun mulai mengucapkan ijah dengan lantang.

__ADS_1


"Saya nikahkan dan saya kawinkan kamu, wahai Ameer Alfatih dengan perempuan pinanganmu, Meizia, dengan mas kawin seperangkat alat sholat serta uang sebesar sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus rupiah, tunai.”


" Saya terima nikah dan kawinnya Meizia dengan mas kawin tersebut, tunai!"


__ADS_2