
"Itu mungkin karena efek kehamilan nya, Bu."
Ameer terperangah mendengar apa yang Dokter katakan, begitu juga dengan Hana.
"Ka-karena apa, Dok?" tanya Ameer terbata-bata.
"Hamil, Pak," jawab Dokter sambil tersenyum. "Ibu Meizia sedang mengandung, dan untuk tahu usia serta kondisi janin dalam rahimnya, saya sudah meminta Dokter kandungan untuk memeriksa nya, tunggu lah hasil nya sebentar lagi."
"Ya Allah, alhamdulillah," gumam Ameer yang langsung berkaca-kaca. Ia tak bisa mengungkapkan rasa senang nya dengan kata-kata. "Han, kamu benar, Meizia hamil," seru Ameer pada Hana.
"Aku turut gembira, Ameer," sahut Hana sambil tersenyum lebar. "Alhamdulillah, semoga Meizia dan calon bayi kalian baik-baik saja."
"Aamiin, ya Allah," ucap Ameer sepenuh hati. "Dokter, Apa boleh aku menemui istri ku sekarang?"
"Tentu boleh, Pak, silakan. Ibu Meizia juga sudah sadar dari pingsannya."
Tanpa membuang waktu, Ameer langsung ke ruang rawat Meizia. Di sana ia melihat Meizia yang masih terbaring lemas di atas ranjang. "Sayang?" panggil Ameer dengan begitu lembut, wajah pria itu berseri, mata nya berbinar terang.
"Kamu tahu apa kata Dokter?" tanya Ameer sembari memegang tangan Meizia kemudian mengecup nya dengan lembut, ia sungguh tak bisa menyembunyikan kebahagiaan nya sekarang.
"Aku tahu," jawab Meizia dengan suara lirih. "Kata nya aku hamil." Meizia mengatakan itu dengan raut wajah yang tidak tampak bahagia, padahal itu yang sangat ia harapkan sejak dulu.
"Kenapa kamu tidak terlihat bahagia?" tanya Ameer yang bisa merasakan perubahan raut wajah Meizia. "Ada apa, Meizia?"
__ADS_1
Air mata Meizia kembali tumpah, ia tertunduk sembari menggigit bibir nya yang bergetar. "Meizia?" Ameer mengapit dagu Meizia, memaksa wanita nya itu mendongak.
"Aku takut, Ameer," ucap Meizia dengan suara tercekat. "Perempuan yang tadi-"
"Lupakan perempuan itu, Meizia," tegas Ameer memotong ucapan sang istri.
"Aku bisa mengabaikan nya, aku bahkan mungkin bisa melupakan masa lalu. Tapi orang lain tidak akan pernah melupakan nya." Meizia berkata dengan emosional bahkan nada bicara nya cukup tinggi, membuat Ameer terkejut sekaligus bingung.
"Apa yang terjadi hari ini membuat ku sadar kalau sampai kapan pun aku tetap penuh noda di mata orang lain." Lanjut nya.
"Meizia, harus berapa ribu kali aku mengingatkan mu bahwa kita tidak perlu memikirkan apa kata orang lain?" desis Ameer tajam dan penuh penekanan. "Aku mohon berhenti membahas itu, Sayang." Ia meminta dengan melembutkan suara nya.
"Aku bisa berhenti lalu bagaimana dengan mereka? Bagaimana jika suatu hari nanti ada orang yang mengatakan pada anak ku bahwa ibu nya adalah seorang mantan pelacur?"
"Jika orang menghina ku, mungkin aku bisa menutup telinga, tapi bagaimana jika mereka menghina anak ku nanti?" lirih Meizia sembari menyentuh perut nya yang masih rata itu. "Selama ini aku terlalu naif, aku pikir akan sangat bahagia jika punya anak sehingga di setiap sujud aku meminta anugerah itu. Tapi sekarang aku sadar, apa yang akan anak ini alami saat terlahir ke dunia nanti."
Meizia tertunduk, isak tangis nya semakin menjadi. Bayangan gelap dari masa lalu seolah enggan lepas dari nya.
Hana yang berada di depan pintu mendengar ungkapan hati Meizia, membuat ia merasa tak tega pada sahabat yang sudah ia anggap adik sendiri itu.
"Sayang...." Ameer menarik Meizia ke dalam dekapan nya. "Jangan takut pada sesuatu yang belum terjadi, kita berdoa saja agar Allah menjauhkan anak kita dari hal buruk."
"Aku takut." Meizia langsung menumpahkan tangis nya di pelukan sang suami. "Bagaimana perasaan nya nanti jika ada orang yang datang pada ku dan mengingatkan aku pada masa lalu seperti tadi? Aku harus menjawab apa pada nya, Ameer?"
__ADS_1
"Tidak perlu mengatakan apapun," jawab Ameer sembari mengusap kepala Meizia. "Karena itu belum tentu terjadi, Sayang, jangan memkirkan hal yang tidak-tidak."
Meizia tak mampu berkata-kata, kini hidup nya seolah bercampur antara Noda dan cinta. Dua hal yang sangat berbeda, tapi menyatu dan melekat dalam dirinya.
Di luar, Hana menyeka air mata nya yang entah kenapa juga ikut tumpah membayangkan ketakutan Meizia. Bersamaan dengan itu, Dokter kandungan yang tadi memeriksa Meizia datang dan Hana langsung mempersilakan nya masuk.
Meizia yang masih menangis di pelukan sang suami langsung berhenti saat menyadari kehadiran Dokter, ia menyeka air mata yang membasahi pipi nya itu.
Ameer juga mengusap pipi Meizia dengan lembut sembari berkata, "Lebih baik sekarang kita fokus pada masa sekarang, Sayang, jangan terlalu memikirkan masa depan yang masih misteri itu."
Meizia mengangguk, meski hati nya terasa sesak tapi ia tak ingin membuat Ameer ikut tertekan karenanya.
"Bagaimana kondisi istri saya, Dok?" tanya Ameer kemudian.
"Kondisi Ibu Meizia baik sebenarnya tapi usia kandungan nya masih lemah, apalagi ini kandungan nya baru berusia dua minggu," tukas Dokter. "Jadi saya sangat menyarankan agar Ibu istirahat total, ya. Jangan sampai stres dan jangan lelah, kondisi kehamilan yang masih muda rentan sekali dengan keguguran."
"Kamu dengar apa kata Dokter, Sayang? Tidak boleh stres!" Ameer menekankan kata itu pada Meizia.
"Iya," jawab Meizia sembari tersenyum tipis.
"Dan perhatikan juga pula makan nya, ya. Itu sangat penting untuk pertumbuhan janin nya. Jangan lupa periksa juga secara rutin, agar kita sama-sama tahu perkembangan janin di rahim Ibu."
"Terima kasih, Dok," sahut Meizia pelan. Ia menyentuh perut nya. "Ya Allah, dia adalah buah cinta kami, anugerah dari Engkau yang selalu kami minta. Tapi kenapa aku justru takut akan keberadaan nya? Aku takut dia menderita karena aku."
__ADS_1
...🦋...