
Tak ada yang tak bahagia dengan pesta yang akan segera di gelar oleh keluarga Ummi Nayla untuk anak bungsu mereka, putra satu-satu nya dari Ummi Nayla dan Zaid.
Bahkan, Hana turut turun tangan untuk menyiapkan pesta pria yang pernah mengisi hati nya itu. Hana juga tampak semangat, seolah ini adalah pesta pernikahan suadara nya.
Ah, bukan kah Ameer memang suadara nya?
Seperti keinginan Ameer dan Meizia, pesta itu akan di adakan secara sederhana. Hanya mengundang teman dekat, kerabat dekat dan tentu beberapa tetangga.
Gaun pengantin yang Meizia inginkan sudah dibuat, undangan pun sudah mulai di sebar. Dan sisa nya akan menjadi tanggung jawab kakak-kakak tercinta Ameer.
Wajah Meizia selalu berseri menanti pesta pernikahan nya, tetapi sejak kejadian di restauran Meizia seolah enggan keluar rumah lagi. Ia selalu menolak saat Ameer mengajak nya makan di luar, atau sekedar berbelanja beberapa keperluan. Meizia seolah kembali takut bertemu orang. Walaupun begitu, ia tak memperlihatkan keterpurukan seperti dulu.
"Assalamualaikum!" seru Hana yang baru saja yang baru saja masuk ke rumah Ameer.
"Waalaikum salam, Han," balas Ummi Nayla yang langsung menyambut Hana dengan hangat.
Di rumah itu sudah ada Shafa dan Marwa, hari ini mereka sedang berbincang terkait menu makanan apa saja yang akan mereka sajikan nanti.
"Meizia di mana, Tanta?" tanya Hana yang mengikuti Ummi Nayla ke ruang keluarga.
"Di kamar nya," jawab Ummi Nayla. "Baru saja dia masuk ke kamar, kata nya merasa lemas."
"Kalau begitu aku ke atas ya, Tante, ada perlu," ucap Hana yang langsung di persilakan oleh Ummi Nayla.
"Aku tidak menyangka Hana bisa sedekat itu dengan istri nya Ameer," kekeh Marwa.
"Benar, Meizia lebih dekat dengan Hana dari pada dengan kita. Mereka seperti teman masa kecil," pungkas Shafa.
"Itu karena Hana yang terus mendekati Meizia, kalau tidak ... ya tidak mungkin mereka punya hubungan layak nya saudara seperti sekarang."
__ADS_1
Sementara Hana kini berlari kecil menuju kamar Meizia yang ada di lantai dua, gadis itu seolah tidak sabar untuk teman nya.
"Meizia, kamu di dalam?" Hana mengetuk pintu dengan pelan.
"Masuk, Han!" teriak Meizia dari dalam.
Hana pun membuka pintu dan ia mendapati Meizia yang sedang duduk bersandar di ranjang. "Bagaimana keadaan kamu, Zia?" tanya Hana sembari duduk di tepi ranjang.
"Baik, cuma kadang masih lemes, seperti tidak punya tenaga," ungkap Meizia. "Kamu bawa apa?" tanya Meizia karena Hana memang membawa dua paper bag.
"Hadiah buat kamu," kata Hana sembari menyerahkan satu paper bag pada Meizia. "Dan satu nya lagi untuk aku."
Mendengar itu Meizia langsung mengeluarkan isi dari paper tersebut dengan tidak sabar, kening nya berkerut dalam saat ia tahu isi nya adalah baju yang cukup besar menurut nya.
"Emm .... bajunya tidak kebesaran, Han?" cicit Meizia. "Atau baju ini khusus untuk orang hamil?"
Hana langsung tergelak mendengar pertanyaan Meizia. "Ini gamis sekalian sama cadar nya," kata Hana. Ia menarik Meizia berdiri kemudian memakaikan gamis itu dengan hati-hati.
"Aku tahu, kamu takut bertemu orang yang mungkin mengenal mu, kan?" Hana menebak sambil tersenyum, apalagi ia pernah mendengar sendiri saat Meizia mengatakan ketakutan nya itu pada Ameer di rumah sakit.
"Dengan memakai cadar, tidak akan ada yang mengenali kita." Kini memakaikan jilbab pada Meizia kemudian menutupi sebagian wajah gadis itu dengan cadar.
Hana juga berniat akan memakai cadar mulai sekarang, untuk menemui Meizia, untuk membuat wanita itu nyaman.
"Aku juga akan memakai nya saat keluar rumah, jadi kita kembaran deh," seru Hana yang kini juga memakai cadar nya.
"Wow!" seru Meizia takjub melihat Hana.
"Apa nya yang wow?" tanya Hana.
__ADS_1
"Mata mu cantik sekali." Meizia memuji dengan tulus sambil tersenyum, Hana memang tidak akan pernah bisa menyembunyikan kecantikan nya, pikir Meizia.
Kini kedua wanita itu berdiri di depan kaca dan seketika Meizia tertawa. "Kamu benar, dengan begini tidak akan ada yang mengenali ku," kata Meizia. "Bahkan aku pun sepertinya tidak akan mengenali my," kekeh Meizia sembari memperhatikan penampilan Hana.
"Jadi mulai sekarang kamu tidak perlu takut untuk bertemu dengan siapa pun." Hana menepuk pundak Meizia.
Meizia mengangguk membenarkan, ia juga merasa akan nyaman dengan gaya pakaian baru nya ini.
"Aku ke toilet sebentar," seru Meizia yang tiba-tiba ingin buang air kecil.
"Angkat gamisnya, Mei, nanti basah!" seru Hana yang langsung di patuhi oleh Meizia.
Hana hendak keluar kamar tetapi saat ia hendak membuka pintu, pintu kamar justru terbuka lebih dulu. Ameer datang dan tiba-tiba dia langsung mengecup pelipis Hana yang membuat Hana terkejut, kejadian itu begitu cepat sehingga Hana tak punya kesempatan mengelak.
"Kata Ummi kamu merasa lemas lagi, Sayang," kata Ameer yang tak menyadari wanita di depan nya ini bukan sang istri. Sementara Hana hanya bisa mematung, apa yang baru saja terjadi pada nya seolah membuat otak Hana blank.
"Ameer?" panggil Meizia yang seketika mengembalikan kesadaran Hana.
Sementara kini Ameer yang tercengang dan ia langsung menjauh dari Hana saat ia mendengar suara Meizia.
Hana langsung melepas cadar yang ia kenakan, membuat Ameer semakin terkejut.
"Astaghfirullah, Hana," gumam Ameer dengan dahi yang berkerut dalam. Bahkan, tubuh Ameer tiba-tiba seperti panas dingin, wajah nya langsung pucat, lutut dan kedua tangan nya gemetar.
Baru saja dia mencium wanita yang bukan istri nya.
"Ada apa?" tanya Meizia dengan lembut, ia mendekati Ameer dan menyentuh tangan suami nya itu yang terasa dingin.
"A-aku...." Hana seolah tak bisa bernapas atas kejadian yang tak terduga ini. "Aku mau ke bawah!"
__ADS_1
Hana langsung berlari turun, membuat Meizia bingung. "Ada apa dengan kalian?" tanya Meizia. "Kamu pucat, Hana juga tampak pucat."