
Ameer menatap wajah putra dan putri nya dengan seksama, membuat senyum samar terbit di bibirnya. "Abi janji akan merawat kalian seperti yang ummi kalian mau," ucap Ameer penuh keyakinan dan tekad. "Kita akan membuat ummi bangga, ya?"
Hari ini Dokter sudah memperbolehkan Ameer membawa si kembar, membuat Ameer merasa jauh lebih tenang. Bahkan, semalaman ia tidak tidur demi menjaga anaknya.
Ameer menengadah ke atas, agar air mata yang kembali menggenang di pelupuk matanya tak kembali tumpah. "Abi sangat mencintai kalian, ummi juga pasti akan mencintai kalian."
Anak perempuannya itu merengek, tangannya bergerak seolah ingin menggapai sesuatu, dan kakinya pun menendang udara.
Ameer memasukkan jari kelingkingnya ke tangan putrinya yang langsung digenggam dengan sangat erat oleh putrinya. Seketika senyum Ameer mengembang lebih lebar, hatinya kembali terasa merasakan sentuhan dari tangan mungil itu.
"Terima kasih, Sayang," bisik Ameer. "Terima kasih karena sudah membuat hati Abi menghangat."
Kini Ameer menatap putranya yang justru masih terlelap, tetapi Ameer tetap memasukkan jarinya ke dalam genggaman tangan mungil putranya itu. "Terima kasih sudah menggenggam tangan Abi." Mata Ameer kembali berkaca-kaca, kali ini karena merasa bahagia dan terharu.
Namun, kesedihan masih menyapa saat ia mengingat Meizia, dan ia yakin anak-anaknya itu pasti akan sangat senang jika Meizia juga menggenggam tangannya.
"Tidak apa-apa," lirih Ameer. "Meskipun ummi tidak bisa menggenggam tangan kalian, tapi ummi akan selalu ada di hati kita semua."
Ameer mencium kening kedua anaknya itu dengan lembut dan penuh kasih sayang, dan ia teringat dengan permintaan terakhir Meizia beberapa saat sebelum melahirkan.
"Aku selalu suka pelukanmu."
"Pelukan pertama yang terasa begitu hangat, penuh kasih sayang dan cinta. Pelukan yang selalu aku rindukan selama 22 tahun aku ada di dunia ini."
"Sekali lagi, aku menyukainya."
Ameer mengulum senyum, meski air mata kembali jatuh karena ternyata itu pelukan terakhirnya, juga permintaan terakhir Meizia padanya.
"Ragaku mungkin tidak bisa lagi memelukmu, Sayang, tapi hatiku akan selalu memelukmu dengan doaku."
__ADS_1
...🦋...
Hana menyeka air matanya sembari menatap foto anak-anak Meizia, ia sudah mendapatkan kabar duka tentang sahabatnya itu. Rasanya begitu menyakitkan, dada Hana kembali terasa sesak. Namun, ia mencoba menerima semua itu sebagai takdir yang tak dapat ditawar.
Menjadi Hana terasa begitu menyakitkan. Hanya dalam dua hari setelah ia bangun dari komanya, Hana disambut dengan kabar duka yang begitu menyakitkan.
"Aku tidak mengerti kenapa takdir bisa membuat kejutan seperti ini," lirih Hana sembari meletakkan kembali ponselnya.
"Kita tidak diajarkan menebak takdir, Dek," kata Riana. "Kita hanya diajarkan untuk menerima takdir sepahit apapun itu."
Riana berkata lirih, merasa tidak tega melihat keadaan Hana yang sekarang. Dan ia tak sanggup membayangkan akan seperti apa reaksi Hana nanti setelah tahu keadaan dirinya sendiri.
"Assalamu'alaikum?"
Hana dan kakaknya langsung menatap pada asal suara itu, Syafiq datang dengan membawa sebuket bunga dan sekeranjang buah.
"Waalaikum salam," jawab Hana dan Riana bersamaan.
"Bagaimana keadaanmu, Han?" tanya Syafiq sembari meletakkan bunga dan buahnya di atas meja.
"Alhamdulillah jauh lebih baik," jawab Hana sambil tersenyum tipis untuk menghargai kedatangan Syafiq, senyum yang sebenarnya tak sampai ke matanya.
Siapa yang bisa tersenyum setelah tahu ia kehilangan Ibu dan sahabatnya?
Bersamaan dengan itu, Dokter dan Abi Thohir datang. Dan ayah Hana itu terlihat tidak suka dengan kedatangan Syafiq.
"Aku rasa kamu sendiri masih dalam masa pemulihan Syafiq, bukankah seharusnya kamu tidak keluyuran dan tetap istirahat di rumah?" sarkas Abi Thohir.
"Aku hanya ingin melihat Hana, Om," jawab Syafiq lirih.
__ADS_1
"Dokter ingin melakukan pemeriksaan lagi," kata Abi Thohir kemudian sambil menatap Riana dan Syafiq.
"Kami akan keluar," kata Riana yang segera keluar dari kamar sang adik. Namun, tidak dengan Syafiq.
"Apa yang kau tunggu di sini?" tanya Abi Thohir.
"Aku ingin berbicara dengan Hana, Om," jawab Syafiq.
"Nanti, setelah Dokter selesai memeriksa Hana."
Syafiq menatap Hana, dan gadis itu memberi isyarat keluar saja. Mau tak mau ia pun segera keluar.
"Bukankah baru tadi pagi aku diperiksa?" tanya Hana kemudian. "Apakah hasilnya sudah keluar?"
Dokter menatap Abi Thohir, dan ayah Hana itu memberi isyarat agar berbicara saja apa adanya.
"Ada apa, Bi?" tanya Hana.
"Kami ingin memberi tahu tentang kondisimu, Sayang," jawab Abi Thohir sembari menggenggam tangan putrinya dengan erat. "Apapun yang terjadi, Abi harap kamu sabar dan ikhlas, Nak."
Hana tak menjawab, tapi rasanya ia sudah menduga apa yang akan Dokter katakan.
"Cidera pada tulang belakangmu menyebabkan kelumpuhan permanen padamu, Hana."
Seketika Hana menahan napas, matanya berkaca-kaca dan kini ia yang menggenggam tangan ayahnya dengan begitu erat.
"Sepertinya ... begitu," cicit Hana dengan suara tercekat.
Sejak membuka mata, Hana tahu ada yang salah dari tubuhnya. Ia tak bisa menggerakkan tubuh bagian bawahnya, meski awalnya ia berharap itu hanya dugaan saja. Namun, sekarang Dokter sudah memastikan itu memang faktanya.
__ADS_1
Hati Hana semakin sakit, tetapi ia tahu tak ada pilihan lain selain sabar dan ikhlas.
"Dan ...." Dokter melanjutkan sembari menatap Hana dengan sendu. "Selain tulang belakangmu yang cidera, tulang punggungmu juga cidera berat dan itu ... itu menyebabkan kau tidak bisa melahirkan."