
"Aku ingin gaun yang longgar dan tidak menonjolkan bentuk tubuh istriku," kata Ameer pada teman Hana yang bernama Alena itu, desainer muda yang katanya masih merintis karir, tetapi harus Ameer akui desain gaun yang diberikan padanya sebagai contoh sangat lah bagus.
"Bisa," jawab Alena sambil tersenyum. "Kapan kalian membutuhkan gaun nya?"
"Kami belum menentukan tanggal," kekeh Meizia.
"Tapi pasti dalam waktu dekat," Ameer menimpali.
"Buat gaun terbaik untuk dia, Al," seru Hana. "Pernikahan ini harus menjadi sejarah untuk sahabat ku." Lanjutnya.
"Baiklah, aku akan berusaha memberikan yang terbaik," kata Alena. "Meizia, biar aku ukur dulu tubuh mu." Alena berdiri dari tempat duduk nya, begitu juga dengan Meizia. Namun, tiba-tiba Meizia merasa pusing bahkan ia kehilangan keseimbangan tubuh nya. Untung lah Ameer langsung menangkap Meizia sehingga sang istri tidak jatuh.
"Kenapa, Meizia?" tanya Hana cemas.
"Kamu kenapa, Sayang? Pusing? Apa mau pulang saja?" tanya Ameer yang juga terlihat panik, apalagi wajah Meizia sedikit lebih pucat dari biasa nya.
"Aku tidak apa-apa," jawab Meizia sembari memegang kepala nya yang entah kenapa tiba-tiba terasa pusing.
"Tapi kamu pucat, Sayang, sebaiknya kita pulang, ya." Ameer membujuk dengan lembut. Namun, Meizia menggeleng lemah.
"Tidak apa-apa, mungkin aku hanya kurang minum," jawab Meizia.
Ameer pun pasrah, tetapi ia tetap memegangi Meizia saat Alena mengukur tubuhnya. Alena mengulum senyum melihat cinta Ameer yang tampak begitu tulus itu, apalagi Ameer terlihat sangat menjaga Meizia.
Setelah selesai mengurus gaun, Ameer membawa Hana dan Meizia pulang. Selama dalam perjalanan, Meizia tampak sangat lemas, ia hanya diam saja dan memejamkan mata.
"Harus kah kita ke rumah sakit, Sayang? Aku khawatir dengan keadaan mu," kata Ameer sembari menggenggam tangan Meizia dengan satu tangan nya, sementara tangan yang lain tetap berada di setir.
"Tidak perlu, aku hanya sedikit pusing," tolak Meizia.
"Tangan mu dingin sekali." Ameer membawa tangan Meizia ke bibir nya, memberikan kecupan lembut seperti biasa.
Hana yang ada di belakang hanya bisa berdeham, hingga Meizia menarik tangan nya kembali. "Maaf, Han," lirih Meizia malu.
"Aku yang harus minta maaf karena sudah menjadi obat nyamuk," kekeh Hana. "Nanti turunkan aku di restoran Mbak Riana, aku mau bantu-bantu di sana."
"Memang nya kamu tidak lelah, Han?" tanya Meizia. "Kemarin kamu pergi seharian sama Ummi, hari ini kamu menemani aku menemui Alena, terus habis itu kamu masih ke restaurant."
__ADS_1
"Aku melakukan nya dengan senang hati, jadi aku tidak merasa lelah," jawab Hana. "Lagi pula aku tidak punya pekerjaan lain, paling juga bantu-bantu mengajar di sekolah. Itu juga hanya sebentar."
Meizia meringis, ia menarik napas panjang kemudian berkata, "Aku tidak melakukan apa-apa, tapi entah kenapa aku mudah merasa lelah."
"Mungkin hamil," cetus Hana secara asal yang membuat Meizia terkejut, begitu juga dengan Ameer.
"Mungkin kamu memang hamil, Sayang," ujar Ameer penuh semangat.
"Aku rasa tidak," jawab Meizia. "Aku tidak mual-mual, aku hanya pusing," ujarnya.
"Benar juga," gumam Ameer yang tidak tahu apapun tentang orang hamil, begitu juga dengan Hana.
"Semoga setelah ini mual-mual, ya, biar segera hamil," kekeh Hana yang seketika membuat Meizia tertawa geli. Namun, ia tetap mengaminkan doa sang sahabat.
Setelah beberapa menit mengemudi, Ameer sudah sampai di restaurant Riana. "Kita turun juga, ya, aku mau makan," seru Meizia yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Ameer.
Ketiga orang itu masuk ke restaurant yang langsung disambut oleh Riana. "Mbak, aku ingin makan yang kuah-kuah, yang hangat," kata Meizia pada Riana.
"Okay, kalau kamu mau makan apa, Meer?"
"Kita makan bersama, ya," saran Riana. "Aku juga belum makan, dari tadi rame banget aku sampai tidak punya waktu untuk makan."
"Boleh," sahut Meizia.
Mereka pun pergi menuju ke ruang VIP.
Namun, langkah Meizia tiba-tiba terhenti saat ada yang menarik tangannya. Meizia menoleh dan seketika wajahnya pucat pasi melihat orang itu. Ameer menatap Ameer yang tetap melangkah pergi bersama Hana dan Riana.
Meizia kembali menatap orang itu dengan sorot mata yang tampak cemas, Seorang wanita yang merupakan teman Mami Lala. "Tolong lepaskan tangan ku," pinta Meizia dengan suara yang bergetar.
"Mei, kamu sudah banyak berubah," seru wanita itu. "Aku pikir kamu juga masuk penjara bersama Mami Lala."
Gita yang tak sengaja melihat Meizia dan wanita itu langsung mendekati Meizia, Gita menarik paksa tangan Meizia.
Bersamaan dengan itu, Ameer menyadari sang istri tak ada di sisinya.
"Mei, pergi saja!" bisik Gita.
__ADS_1
"Gita? Kamu juga di sini?" pekik wanita itu. "Wow, apakah kalian segerombolan kupu-kupu malam kini beralih profesi?"
Sontak orang yang dekat dengan mereka langsung menatap Meizia dan Gita saat mendengar ucapan wanita tersebut. "Pasti karena Mami Lala di penjara, ya? Kenapa kalian tidak datang pada ku? Aku bisa membantu kalian menemukan klien lain."
"Jaga bicaramu, Nyonya!" seru Ameer yang datang menghampiri Meizia. Sorot mata Ameer tampak begitu marah, sementara Meizia justru semakin terlihat pucat.
Hana dan Riana juga menghampiri Meizia.
Tatapan wanita juga tampak tak fokus. "Sayang, ayo kita pergi." Ameer merangkul Meizia tetapi tiba-tiba sang istri justru kehilangan kesadarannya.
"Meizia!" pekik Ameer yang langsung menggendong Meizia.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" seru Hana.
"Bu, sebaiknya Ibu pergi dari sini!" usir Gita tiba-tiba yang membuat Riana terkejut.
"Git?" tegur Riana.
"Bu Riana, dia ini teman Mami Lala," kata Gita setengah berbisik. "Seorang mucikari, bahkan mereka sering bekerja sama memperjual belikan perempuan."
Riana melongo mendengar pernyataan Gita, ia menatap paruh baya di depannya ini. "Kenapa? Kamu kenal dengan Meizia?" tanya wanita itu.
"Iya," jawab Riana. "Dia adik iparku," tambah nya yang membuat wanita itu terkejut. "Dia sudah bukan budak orang-orang seperti kalian lagi, jadi tolong hargai perubahan Meizia, Gita dan wanita yang lain nya," tegas Raian. "Dan satu hal lagi, makan lah di sini asal tidak membahas pribadi orang lain. Dan pergi lah dari sini jika Anda tetap ingin melakukan itu!" Riana berkata dengan tegas sambil menatap wanita itu dengan tajam.
Sementara itu, Hana menyetir dengan kecepatan yang cukup tinggi menuju rumah sakit terdekat. Sesekali ia melirik Ameer yang memangku Meizia di belakang, kaka sepupunya itu terlihat sangat cemas.
Sesampainya di rumah sakit, Meizia langsung ditangani oleh Dokter sementara Ameer mondar-mandir sembari sesekali menggumamkan istighfar.
Tak berselang lama, Dokter yang menanagani Meizia menghampiri Ameer.
"Dokter, apa istriku baik-baik saja?" tanya Ameer.
"Iya, istri Anda baik-baik saja, Pak."
"Tapi dia tiba-tiba pingsan," seru Hana yang juga tampak sangat cemas.
"Itu mungkin karena efek kehamilan nya, Bu."
__ADS_1