Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 40 - Malam Yang Berbeda


__ADS_3

Setelah melaksanakan sholat isya, Ameer memimpin dzikir yang kemudian dilanjutkan berdo'a dengan khusyu. Mereka tak berbicara apapun selain melantunkan pujian pada sang Pencipta.


"Ya Allah...." Ameer mengangkat tangan dan wajahnya mendongak. "Restuilah pernikahan ku dan Meizia, hujani pernikahan kami dengan rahmat-Mu. Jaga pernikahan kami dari badai yang tak sanggup kami hadapi, lindungi cinta kami agar tetap suci di atas nama-Mu. Dan aku memohon dengan sepenuh hati, karuniakan lah kepada kami, anak keturunan yang sholeh, berbakti dan taat kepada-Mu. Yang akan selalu membawa kebaikan, dan selalu menjauhi keburukan. Abadikan lah cinta kami sampai ke surga-Mu kelak."


" Ya Allah, hamba-Mu yang telah bermandikan dosa ini kembali datang menghadap Engkau." Meizia pun mengangkat tangannya yang bergetar."


"Aku datang dengan membawa hatiku yang kosong, meminta Engkau mengisinya dengan kebaikan. Aku menghadapmu dengan jiwaku yang penuh noda, berharap Engkau menghapusnya dengan cinta. Aku tahu, aku telah berputus asa sebelumnya dari rahmat-Mu, tetapi sekarang malaikat yang kau kirim untukku ini telah berhasil menarikku kembali pada fitrahku. Yaitu sebagai hamba yang akan selalu merindukan ampunan-Mu, belas kasih-Mu dan percaya bahwa Engkah akan selalu memberikan keduanya."


Air mata Meizia kembali jatuh, membasahi muke yang ia kenakan. Namun, itu bukan lagi air mata karena terluka, tetapi air mata itu seolah membawa keluar dalam hatinya.


"AAMIIN."


Setelah selesai, sepasang suami istri itu membereskan sajadah mereka.


Ameer terus memandangi Meizia yang kini justru sok sibuk di kamar Ameer, wanita itu membersihkan meja, melipat baju yang ada dalam koper Meizia. Padahal ia bisa melakukannya esok hari.


"Apa?" tanya Meizia yang melihat Ameer terus memandangnya sejak tadi.


"Sudah malam," kata Ameer, sebuah isyarat halus.


Meizia tahu apa yang suaminya itu inginkan, dan mungkin memang ini yang semua pria inginkan di malam pernikahan mereka. Sejak tadi Meizia pura sibuk-sibuk untuk menutupi rasa gugup dan takutnya, tetapi kini Meizia tak tahu ia harus menghadapinya.


"Kemarilah!" Ameer yang duduk di tepi ranjang mengulurkan tangannya pada Meizia. "Mau sampai kapan kamu mondar mandir, hem? Sampai besok? Atau besok malam?" kekeh Ameer yang seketika membuat wajah Meizia kembali merona.


Meski sedikit ragu, Meizia menyambut uluran tangan Ameer dan suaminya itu langsung menarik Meizia hingga ia duduk di sisi Ameer.


"Kamu tahu 'kan apa yang harus kita lakukan malam ini?" tanya Ameer dengan senyum samar di bibirnya.

__ADS_1


Meizia hanya bisa tertunduk, jantungnya berdebar hebat, hatinya bergetar. "Tatap mataku, wahai istriku."


Hati Meizia langsung berbunga-bunga mendengar bahasa yang begitu halus itu, perlahan ia pun mengangkat wajahnya.


Ameera tersenyum, ia menangkup pipi Meizia dengan sangat lembut sebelum akhirnya ia memberikan kecupan hangat di kening sang istri. Jantung Meizia berdebar semakin kencang, bahkan membuat ia sampai kesulitan bernapas.


Apalagi ketika Ameer mendekatkan bibirnya ke bibir Meizia, seketika bayangan masa lalu yang sangat mengerikan itu kembali menari dalam benak Meizia, bahkan seolah mengejek nya saat ini. Membuat Meizia langsung mendorong Ameer hingga sang suami menjauh darinya.


Ameer terlihat terkejut, ia menatap istrinya itu dengan nanar.


"Meizia, ada apa?" tanya Ameer dengan sangat lembut. Ia hendak menyentuh tangan Meizia tetapi wanita yang baru saja menjadi istrinya itu langsung menepis tangan Ameer.


Meizia berlari ke kamar mandi dan ia mengunci diri di sana, membuat Ameer semakin bingung. Ia pun langsung mengejar Meizia dan mengetuk pintu kamar mandi.


"Meizia, ada apa, Sayang?" tanya Ameer masih dengan sangat lembut.


"Meizia!" panggil Ameer sekali lagi. Suara isak tangis perlahan terdengar, begitu pilu, menggetarkan hati Ameer. "Aku tidak akan memaksa jika kamu tidak mau," kata Ameer yang merasa Meizia takut padanya.


Di dalam, Meizia memeluk lututnya sendiri, ia menyembunyikan wajah yang sudah lembab karena air mata itu di lututnya.


"Aku ... Aku tidak mau," lirih Meizia. "Aku ... Kotor, Ameer. Aku ... malu."


Hati Ameer terksesiap mendengar kata-kata itu, bahkan lutut Ameer juga terasa lemas dan ia pun menjatuhkan diri ke lantai, ia bersandar ke daun pintu.


"Jangan begini, Sayang," pinta Ameer memohon. "Bukannya kamu sudah bertekad akan melupakan masa lalu itu?"


Meizia menggeleng pelan, ia memang bertekad melupakan semua hal mengerikan itu tetapi nyatanya Meizia tak mampu melupakan masa-masa kelamnya.

__ADS_1


"Seharusnya aku tidak menikahimu," lirih Meizia dengan suara yang tercekat, dadanya terasa begitu sesak dan sakit. "Aku benar-benar malu." Tangis wanita itu semakin pecah, ia menjerit putus asa tetapi Meizia mencoba meredam suara jeritan it dengan membekap mulutnya.


Bahkan, sekarang ia bertanya-tanya apa yang membuat wanita seperti dirinya berani menikahi pria seperti Ameer.


Setan-setan seolah terus menanamkan keraguan itu dalam hatinya, mengingatkan Meizia pada masa lalu kelamnya.


"Kamu adalah wanita yang suci bagiku, Meizia," kata Ameer dengan lirih. "Aku tidak pernah menodaimu sebelum kita menikah, jadi bagiku kamu tetaplah suci."


Mendengar isak tangis sang istri, tanpa terasa Ameer ikut menangis. Ia bisa memahami apa yang Meizia rasakan sekarang, dan Ameer tidak tahu harus melakukan apa untuk meyakinkan wanita itu bahwa baginya dia tetap suci.


Sementara di dalam, kini Meizia berdiri di bawah shower, ia menyalakan shower dan menggosok tubuhnya sendiri dengan kasar.


Marah, sedih, jijik, merasa kotor dan najis, semua perasaan itu kembali bercampur menjadi satu. Bahkan, kini Meizia menjerit di bawah Shower, berharap suara dan air mata itu membawa trauma nya pergi.


Ameer yang mendengar suara gemericik air bercampur dengan tangisan dan jeritan Meizia hanya bisa terdiam, air mata semakin mengalir deras di pipinya.


Ameer pikir, Meizia mungkin akan sedikit melupakan masa lalunya setelah mereka menikah. Tetapi sekarang Ameer sadar, takkan semudah itu Meizia melupakan apa yang telah ia lewati.


Tak perduli seberapa banyak Ameer meyakinkan Meizia bahwa baginya dia tetaplah suci, itu takkan menghilangkan rasa kotor dan jijik pada dirinya sendiri.


Kini, Ameer memilih diam karena kata-kata takkan menenangkan hati sang istri. Ameer membiarkan wanitanya itu menangis di dalam sana sampai ia puas dan berhenti dengan sendirinya.


Di dalam, Meizia memang melepaskan tangisnya, ia tak mencoba menahannya lagi.


"*Apa yang harus aku lakukan sekarang, Tuhan? Baru saja aku meminta pada-Mu agar membersihkan jiwaku dari noda ini, tapi sekarang aku justru merasa jiwaku takkan bisa dibersihkan. Apakah itu benar?"


"Tidak, seharusnya itu tidak benar*."

__ADS_1


__ADS_2