Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 14 - Level Tertinggi Dalam Cinta


__ADS_3

"Yang penting jangan bawa wanita itu sebagai menantu ke rumah ini."


Kata-kata ayahnya itu terus terngiang dalam benak Ameer, membuat ia bertanya-tanya perasaan apa yang sebenarnya ia miliki untuk Meizia.


Awalnya ia memang sangat yakin untuk meminang wanita itu, tetapi setelah identitas Meizia terungkap dan juga penolakan orang tuanya, Ameer justru semakin bingung dan ragu akan isi hatinya.


Namun, meskipun Ameer tak menemui Meizia, pria itu mencoba mencari tahu latar belakang keluarga Meizia diam-diam.


Sulit menemukannya, yang bisa Ameer dapatkan hanya informasi bahwa Meizia anak dari seorang mucikari dan tak ada yang tahu siapa ayahnya. Sebuah fakta yang membuat Ameer tercengang, terpukul dan bersimpati.


Sekarang Ameer mengerti kenapa Meizia bisa terjebak di dunia malam itu.


Mengetahui fakta ini, keinginan Ameer untuk membawa gadis itu keluar dari dunia kelam itu semakin besar. Bahkan, perasaan cintanya pun semakin terasa.


Bukankah itu aneh? Ameer yang seharusnya menjauh justru ingin menggengam tangan wanita itu dan membawanya mencari cahaya harapan.


Tak hanya mencari jawaban lewat jalur bumi, Ameer juga mencari jawaban dari langit dengan rutin melakukan sholat malam dan meminta petunjuk pada sang pemilik hati.


Seperti malam ini, di cuaca yang dingin dan keadaan yang sunyi. Saat semua orang sedang tertidur, Ameer melantunkan doanya dengan lirih. Meminta petunjuk dan bimbingan dari-Nya.


"Ya Allah, berikan petunjuk-Mu dan bimbinglah aku menentukan jalan hidupku ini!"


"Jangan biarkan aku berjalan di atas hawa nafsu, sementara aku tidak menyadarinya."


"Dan aku memohon dengan sangat kepada-Mu, wahai yang pengasih. Kasihinilah Meizia, bukalah pintu pertaubatan untuknya dan orang-orang yang hidup sepertinya."

__ADS_1


"Berikan kehidupan yang jauh lebih baik untuk mereka, hidup yang Engkau berkahi."


"Sesungguhnya, tidak ada yang tidak mungkin bagi-Mu dan aku percaya sesungguhnya Engkau tidak pernah menempatkan seseorang pada jalan buntu."


...🦋...


Di saat Ameer berusaha mencari tahu lebih dalam tentang diriny, Meizia justru mencoba tak memikirkan Ameer yang kini tak pernah lagi muncul di hadapannya.


Meskipun sebenarnya ada sedikit harapan di hati Meizia, tetapi ia sadar akan siapa dirinya. Takkan ada satupun lelaki yang mau menerimanya sebagai pasangan hidup.


Hari sudah pagi, Saat ini Meizia sedang sarapan bersama Jenny di restauran tempat ia bertemu dengan Ameer.


Mata Meizia melirik ke berbagai sudut, seolah ia mencari seseorang.


"Kamu tidak sedang janjian dengan seseorang 'kan, Mei?" tanya Jenny dan Meizia langsung menggeleng sambil mengulum senyum.


"Tidak apa-apa."


"Tidak sedang mencari Ameer, kan?"


"Tidak."


Meizia mengelak tetapi tatapan wanita itu sudah menjelaskan jawaban yang sebenarnya.


"Kenapa kamu tidak mencobanya, Mei? Kalau aku jadi kamu, aku akan mengambil ini sebagai kesempatan emas," tukas Jenny.

__ADS_1


"Ameer tidak pernah lagi datang menemuiku," ujar Meizia.


"Karena kamu terus menolaknya," kata Jenny.


"Aku sudah kenyang, ayo kita pulang," ajak Meizia. Jenny pun mengangguk, ia pun segera membayar makanan mereka setelah itu bergegas pergi.


Sementara di sisi lain, Ameer kembali menemui sang Kakek untuk berkonsultasi sekali lagi tentang perasaannya.


"Aku bingung menentukan apakah keinginanku hanya hawa nafsu atau cinta yang tulus, Kek," lirih Ameer. Sang Kakek pun menjadi pendengar yang baik. "Saat tahu siapa Meizia, asal usulnya. Aku terpukul, ada rasa kecewa juga kenapa dia harus seperti itu. Tapi ... tapi entah kenapa aku justru ingin menggengam tangannya, Kek. Aku ingin membawa dia bersamaku, aku ingin memberi tahu bahwa masih ada cahaya di dunia ini untuknya."


Kakek menatap wajah Ameer yang tampak sangat serius dan emosional saat bercerita, menunjukan setiap kata yang cucunya ucapkan itu memang berasal dari hatinya.


"Aku bingung kenapa dia seperti magnet yang membuat ku semakin ingin mendekat, Kek." Ameer berkata dengan lirih. "Aku takut ini hanya hawa nafsu."


"Apa yang kau inginkan darinya, Ameer?" tanya sang Kakek dengan lembut.


"Aku ingin membawanya bersamaku, memberikan kehidupan yang lebih baik dan mengajarkan norma kehidupan yang baik," jawab Ameer.


"Bagaiamana dengan masa lalunya? Kamu mampu menerima dia?"


"Aku tidak tahu apakah aku mampu atau tidak, Kek. Tapi yang pasti, aku ingin dia tahu bahwa dia berhak mendapatkan hidup yang lebih baik dan aku bersedia memberikan itu padanya."


Kakek tersenyum mendengar jawaban cucunya itu, ia menepuk pundak Ameer kemudian berkata, "Level tertinggi mencintai adalah ikhlas, Ameer. Ikhlas melepaskan demi kebahagiaan dia atau ikhlas menerima semua kekurangan dan keburukan dia. Kau sungguh mencintainya, Nak. Kakek yakin itu bukan nafsu. Perjuangkan dia."


Ameer menatap sang Kakek, mencoba memahami apa yang baru saja dijelaskan oleh pria lansia itu.

__ADS_1


"Haruskah aku perjuangkan dia sekali lagi, Kek?" tanya Ameer.


"Kita akan perjuangkan dia bersama," kata Kakek. "Ayo kita temui ibunya dan kita minta Meizia secara baik-baik."


__ADS_2