Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 31 - Meyakinkan Mereka.


__ADS_3

Jika selama ini Meizia hanya hidup bersama ibunya dan orang-orang seperti sang ibu, kini ia justru berada di tengah orang-orang yang bertolak belakang seperti lingkungan sebelumnya.


Meizia sudah sangat senang dan berterima kasih atas segala bantuan Ameer, dan baginya itu sudah lebih dari cukup. Namun, sekarang Ameer justru memberikan yang lebih lagi dengan mengundang Meizia makan malam bersama keluarganya. Ia ingin menolak, tapi Hana justru ikut membujuk dan mengatakan mereka akan makan di restoran Riana bersama kedua kakak Ameer, suami mereka dan tentu anak-anak mereka. Ah, jangan lupakan kakek yang juga pasti bergabung.


Alhasil, di sinilah Meizia sekarang. Di antara keluarga Ameer juga Hana, orang yang sangat tahu cara memperlakukan orang lain dengan baik, bahkan pada orang asing seperti Meizia


"Setelah ini apa rencanamu, Meizia?" tanya Ummi Nayla yang langsung membuat Meizia menatap wanita paruh baya itu.


"Aku akan mencari pekerjaan," jawab Meizia dengan suara yang sangat rendah.


"Hanya itu?" tanya Ummi Nayla lagi dan Meizia hanya mengangguk pelan.


"Semoga berhasil," tukas Ummi Nayla kemudian.


"Terima kasih," ucap Meizia yang kini bisa sedikit menyunggingkan senyum.


"Kerja di sini saja, Zia," saran Hana. "Aku juga kerja di sini, bantu-bantu Mbak Riana aja sih." Lanjutnya.


"Apa di sini butuh karyawan?" tanya Meizia.


"Iya, kami butuh di bagian kasir," sahut Riana.


"Tertarik?" tanya Ameer yang justru tampak lebih semangat dari Meizia.


"Aku akan pikir-pikir dulu," kata Meizia.


"Apalagi yang perlu di pikirkan?" Kakek menyela. "Bekerja saja di sini, Nak, apalagi kamu sudah mengenal Hana dan Riana. Mereka bisa membantumu dalam segala hal." Tentu saja Meizia mengerti yang dimaksud Kakek bukan hanya pekerjaan, tapi juga proses hijrahnya.


"Memilih lingkungan pekerjaan itu sangat penting, Meizia," ujar Kakek lagi. "Itu sangat berpengaruh dalam hidupmu."


Meizia melirik Ameer dan Hana, kedua orang itu melempar senyum seolah meyakinkan agar Meizia mau menerimanya.

__ADS_1


"Baiklah," ujar Meizia kemudian sambil tersenyum. "Kapan aku mulai bisa bekerja?"


"Besok juga bisa," kata Riana. "Datang saja jam 9 pagi."


"Terima kasih," ucap Meizia lagi.


Ia terharu, kedua matanya bahkan berkaca-kaca dan Meizia teringat apa kata Ameer, ada begitu banyak jalan dan pilihan di atas hidup ini. Bahkan, ketika ia merasa tidak pantas dan putus asa sebelum melangkah, Tuhan justru mengantarkan pilihan itu ke hadapan matanya.


Setelah makan malam usai, Meizia pulang ke rumahnya dengan naik taksi. Begitu juga dengan keluarga Ameer dan Hana.


"Kamu sebenarnya kenapa sih, Dek?" Hana menaikan ujung alisnya mendengar pertanyaan Riana yang tiba-tiba itu. "Kenapa kamu seperti ingin mendekati Meizia? Bahkan kamu mengajak dia bekerja sama kita, Memangnya kamu tidak cemburu sama dia?"


"Cemburu sih, makanya aku mendekati dia," jawab Hana yang cukup membuat Riana melongo.


"Di mana-mana, orang itu akan menjauh kalau cemburu pada seseorang," kata Riana. "Kenapa kamu malah mendekat?"


"Supaya aku terbiasa, Mbak," jawab Hana sambil terkekeh. "Supaya aku bisa dekat dengan dia sebagai teman, aku yakin perlahan perasaan cemburu itu akan musnah. Selain itu, aku merasa kasihan pada Meizia. Dia butuh teman di saat seperti ini, yang bisa membuatnya nyaman dan tetap istiqomah di jalan yang dia pilih."


"Aku tidak tahu apa kata orang tentangku, Mbak, yang aku tahu apa yang hati aku mau."


...🦋...


Di sisi lain, Kakek kembali membujuk kedua orang tua Ameer agar mau merestui cinta yang Ameer miliki untuk Meizia.


"Aku tahu memang sulit menerima masa lalu Meizia, tapi yang terpenting adalah apa yang wanita itu rencanakan untuk masa depannya, kan?"


"Abi membujuk kami seolah Meizia satu-satunya wanita yang ada di dunia ini," tukas Ummi Nayla. "Aku tahu dia mencoba memperbaiki diri, tapi bukan berarti harus dinikahi oleh Ameer, kan?"


"Siapa bilang dia harus dinikahi oleh Ameer hanya untuk memperbaiki diri?" sanggah Kakek. "Ameer ingin menikahinya karena Ameer mencintainya, Nay," tukas kakek. "Yang kalian permasalahkan adalah masa lalunya maka dari itu aku bilang kalau dia merencanakan kebaikan untuk masa depannya. masa lalu dia sudah dikubur, ditinggalkan."


"Tapi apa kata orang nanti kalau mereka tahu Ameer menikahi mantan pelacur, Bi?" sambung Abi Zaid.

__ADS_1


"Apa kata Allah kalau kamu memandang rendah orang yang bertaubat, Zaid?" Kakek balik bertanya. "Apakah seorang Ustadz hanya boleh menikahi seorang Ustadzah? Apakah itu sebuah kewajiban?"


Abi Zaid terdiam, begitu juga dengan istrinya. "Jika kamu punya menantu yang baik, yang kata orang ahli ibadah. Apakah itu sebuah kebanggaan untuk kalian? Aku rasa tidak," pungkas Kakek. "Tapi jika kalian mau berlapang dada menerima mantan pendosa, bukankah itu sebuah kemuliaan? Kita semua sama di mata Allah. Mungkin kemarin Meizia terkurung di lembah dosa, tapi mungkin juga hari ini Allah sudah mengangkat derajatnya. Dan mungkin di mata penduduk bumi dia adalah pendosa, tapi mungkin juga taubatnya di terima oleh Allah dan dia di puji oleh penduduk langit."


Kedua orang tua Ameer masih terdiam, di satu sisi apa yang dikatakan Kakek memang benar, tetapi di sisi lain tentu saja mereka takut dengan apa kata orang apalagi mereka orang yang cukup terpandang.


Namun, apa artinya pandangan orang lain sementara mereka sendiri belum tentu lebih baik dari yang dipandang buruk?


...🦋...


Keesokan harinya ....


Meizia sedang bersiap pergi ke restaurant Hana, begitu juga dengan Jenny yang harus pergi ke toko Shafa.


Meizia menceritakan pengalaman pertamanya ikut kajian secara langsung, termasuk acara makan malamnya dengan keluarga Ameer dan Meizia.


"Tidak sesulit yang kita bayangkan kok, Jen," kata Meizia karena Jenny tidak ikut kajian karena masih merasa ragu untuk berbaur dengan orang yang sangat berbeda dengannya. "Kita semua sama di sana, lain kali ikut, ya?" ajak Meizia.


"Okay deh," jawab Jenny sambil tertawa kecil. "Apa tidak ada yang bertanya pekerjaan kamu apa?" tanya Jenny.


"Tidak ada, mereka cuma sempat bertanya tentang bekas lukaku." Meizia menjawab sambil menyentuh bekas lukanya.


"Terus kamu jawab apa?"


"Khilaf, dan sekarang aku ingin memperbaiki diri."


Jenny mengangguk mengerti.


Tak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu dari luar. "Mungkin Ameer mau jemput," goda Jenny yang membuat Meizia tersipu.


"Tidak mungkin," jawabnya sembari bergegas membuka pintu.

__ADS_1


"Tante?" gumam Meizia pada ibunya Ameer datang ke rumahnya sendirian.


__ADS_2