Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 7 - Tak Pantaskah?


__ADS_3

"Mei tidak bisa punya pacar, hidupnya milik pria yang berani membayarnya dengan mahal."


Ameer seperti disambar petir di siang bolong saat mendengar pernyataan Mami Lala, begitu juga dengan kedua orang tua Ameer yang kini mengerti siapa Meizia.


Mereka tak bisa menyembunyikan keterkejutannya bahkan wajah Ameer langsung pucat.


Bersamaan dengan itu, Meizia keluar dari kamarnya dan ia hanya bisa tercengang melihat Ameer dan kedua orang tuanya ada di rumahnya.


"Mei, apa dia kekasihmu?" tanya Mami Lala saat menyadari kehadiran Meizia. "Minta dia meninggalkanmu karena sepertinya Kalian tidak cocok," tukas Mami Lala sambil memperhatikan penampilan Ameer dan kedua anaknya orang tuanya. "Mereka terlihat seperti orang suci, tidak cocok untuk pelacur seperti kita." Lanjutnya sambil tersenyum sinis.


Deg


Detak jantung Ameer seolah berhenti, begitu juga dengan kedua orang tuanya. Mereka berdua langsung menatap Ameer yang kini hanya bisa tercengang bahkan juga menahan napas.


"Meizia?" panggil Ameer dengan suara gemetar. "A-apa yang terjadi?" tanyanya dengan suara terbata-bata, berharap apa yang dikatakan Mami Lala tidak benar.


Namun, alih-alih menjawab pertanyaan Ameer, Meizia justru mengusir pria itu.

__ADS_1


"Pergi dan jangan pernah datang lagi!" desis Meizia penuh penekanan yang membuat hati Ameer mencelos.


"Ameer, sebaiknya kita pergi!"


Ummi Nayla langsung menarik Ameer bahkan tanpa mau mendengarkan jawaban Meizia. Meskipun Ameer masih ingin jawaban itu, tetapi Ameer tak bisa melawan saat Sang Ibu menyeretnya pergi. Dia terlalu terkejut, sampai tak tahu harus melakukan apa.


Sementara Meizia, air mata gadis itu tumpah begitu saja saat melihat raut wajah Ameer dan kedua orang tuanya.


Baru kali ini Meizia sakit hati, malu dan hidupnya seolah berakhir saat ada orang yang tahu siapa dirinya sebenarnya.


"Mei, apa dia tidak tahu kalau kamu seorang pelacur?" Pertanyaan itu meluncur dengan begitu lancar dari mulut Mami Lala, tanpa beban sedikitpun. "Astaga, Mei. Jangan lah kamu menipu orang," tegur Mami Lala sambil tersenyum mengejek yang membuat hati Meizia seperti tercabik-cabik. "Sekarang lihat yang dia lakukan? Dia pergi setelah tahu kamu adalah seorang pelacur!"


Mami Lala geleng-geleng kepala, ia mendekati Meizia kemudian menepuk pundak putrinya itu. "Sadar diri, Mei. Tidak akan ada pria yang mau menikahi seorang pelacur, sekali pelacur selamanya akan begitu."


Meizia langsung berlari masuk ke kamarnya, dia meringkuk di kaki ranjang dan menangis sejadi-jadinya.


...🦋...

__ADS_1


"Dia seorang pelacur, astaghfirullah!" gumam Nayla sambil memegang dadanya yang bergemuruh, ia dan suaminya sungguh menyangka Ameer bisa jatuh cinta pada seorang wanita seperti itu.


Sementara Ameer masih bungkam, ia seperti orang kehilangan akal. Sementara Abi Zaid yang kini menyetir menggantikan Ameer.


"Lupakan wanita itu, Ameer!" seru sang Abi. "Dia tidak pantas untuk kamu, sebaiknya kamu menikahi Hana karena dia jauh lebih baik dari Meizia!"


Ameer masih bungkam, ia teringat kembali pertemuan pertama dan keduanya dengan Meizia. Apakah itu alasan Meizia tampak tertutup dan selalu menghindari Ameer?


"Ummi tidak mengerti kenapa kamu bisa memilih wanita seperti itu, Ameer. Astagfirullah," gumam Ummi Nayla yang tampak nya masih sangat kecewa dengan gadis pilihan Ameer.


"Ameer juga tidak tahu, Ummi," sahut Abi Zaid.


"Dan gadis itu pasti tidak mengaku, kan? Dia pasti sengaja menyembunyikan identitas dirinya supaya Ameer terjebak dengannya," gerutu Ummi Nayla.


"Ameer!" seru Abi Zaid karena Ameer pasti seperti orang linglung bahkan tatapan pria itu tampak kosong. "Kenapa kamu diam saja?"


"Abi, Meizia—"

__ADS_1


"Lupakan gadis itu dan menikahlah dengan Hana!" potong Ummi Nayla dengan tegas. "Dia tidak pantas untuk pria sepertimu, Ameer!"


...🦋...


__ADS_2