Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 84 - Malaikat Tak Bersayap


__ADS_3

"Kamu adalah malaikat tidak bersayap yang datang dalam hidupku, Han, aku benar-benar beruntung telah mengenalmu."


Hana tersenyum sambil menatap Meizia, kemudian ia bertanya, "Kenapa harus tidak bersayap? Padahal aku ingin punya dua sayap agar aku bisa terbang ke mana pun aku mau."


"Aku tidak mau kamu punya sayap," tukas Meizia dengan cepat, bahkan wanita itu cemberut sambil bergelanyut manja di lengan Hana.


"Kenapa begitu?" tanya Hana sembari melirik Meizia.


"Karena nanti kamu terbang jauh dan aku tidak bisa menyusulmu." Meizia menjawab juga sembari menatap Hana.


"Aku selalu bertanya-tanya bagaiamana rasanya punya adik, dan sekarang aku merasakannya," kekeh Hana sembari mengusap kepala Meizia.


"Kamu tidak bisa terbang, tapi kenapa kamu seperti jauh sekali, Han?"


"Hana?"


"Hana? Kamu bisa mendengarku, Nak?"


Abi Thohir panik, tiba-tiba Hana mengeluarkan air mata dan kelopak matanya bergerak, seolah ia ingin membuka mata.


Ia segera menekan tombol yang ada di sisi ranjang, berharap Dokter segera datang untuk memeriksa putrinya.


"Hana, Sayang!" Abi Thohir berbisik di telinga sang putri. "Bangun, Nak, kami menunggumu." Air mata pria paruh baya itu jatuh. Bersamaan dengan itu, Dokter juga suster datang untuk memeriksa Hana dan mereka meminta Abi Thohir menunggu di luar.


"Tolong bangunkan dia sekarang," pinta Abi Thohir dengan suara tercekat, membuat Suster yang melihat itu juga menitikan air mata tanpa sadar. Melihat penantian seorang ayah menunggu anaknya bangun dari koma selama satu bulan lebih. Begitu setia, bahkan hingga lupa mengurus dirinya sendiri.


"Dia akan bangun, Pak," kata Suster itu sambil tersenyum sebelum akhirnya ia menutup pintu.


Abi Thohir menyeka air matanya kemudian ia segera menghubungi Ilyas dan Riana, memintanya datang ke rumah sakit sekarang juga.


Sementara itu, kedua orang tua Syafiq sedang membujuk putra mereka untuk membatalkan pernikahannya dengan Hana dan tentu mereka tak dapat memberi tahu alasan yang sebenarnya.

__ADS_1


Seiring berjalannya waktu, kondisi Syafiq semakin membaik tapi tidak dengan hatinya yang terus diliputi rasa bersalah apalagi setelah ia tahu bahwa ternyata calon ibu mertuanya tidak bisa diselamatkan.


"Apapun yang terjadi, aku akan tetap menikahi Hana karena itu lah alasan ku datang ke sini!" Syafiq berkata dengan tegas dan penuh penekanan.


"Tapi bagaimana jika Hana lumpuh?" Akhirnya kata itu keluar dari sang Ibu, membuat Syafiq terhenyak.


"A-apakah Hana lumpuh?" tanyanya dan seketika air mata jatuh begitu saja.


"Iya," jawab sang Ayah dengan lirih. "Mungkin permanen."


Syafiq terdiam, air mata semakin deras mengalir di pipinya. Rasa bersalah semakin menyelimuti hatinya, setelah membunuh calon ibu mertuanya, jadi ternyata sekarang ia juga membuat calon istrinya lumpuh?


"Akan aku habiskan sisa hidupku untuk merawatnya," ucap Syafiq yang seketika membuat sang Ibu melongo.


"Syafiq, apa kamu tahu apa yang kamu katakan?" lirihnya, merasa tak percaya dengan apa yang dikatakan Syafiq.


"Aku tahu dengan pasti," jawab Syafiq tanpa ragu. "Bahkan, jika aku harus menjaganya selama 24 jam tanpa henti, aku akan melakukannya."


Lagi-lagi Syafiq terhenyak dan kali ini ia tak dapat berkata-kata. Sebesar itu kah akibat dari kecelakaan yang disebabkan olehnya?


"Kalau kamu mau menerimanya, Abi akan merestui kalian," tukas Abi Ahmad.


"Syafiq, lumpuh dan tidak bisa memiliki anak adalah kekurangan yang begitu besar," desis sang Ibu. Namun, apa yang dikatakan oleh Syafiq selanjutnya justru membuat ia terdiam.


"Aku penyebab wanita sempurna seperti Hana menjadi memiliki kekurangan yang begitu besar, aku akan tetap menikahinya."


...🦋...


Sementara itu, Meizia yang saat baru selesai mandi tiba-tiba merasakan sakit diperutnya. Ia segera duduk di lantai karena takut terjatuh.


"Ameer!" Ia memanggil sang suami dengan suara lantang.

__ADS_1


"Ameer!" Meizia kembali memanggilnya saat tak ada respon.


Di bawah, Ameer sedang membantu ibunya memasak ayam mentega karena Meizia ingin makan malam menu ayam kesukaan Ameer itu.


"Padahal Hana juga menyukai menu ayam ini," gumam Ameer dengan lirih, teringat masa-masa kebersamaannya dengan adik sepupunya. "Kapan Hana akan bangun ya, Ummi?"


"Ummi juga tidak tahu, Meer," sahut sang Ibu. "Ummi sampai tidak tega melihat ayah Hana, dia benar-benar kurus, sampai seolah yang tersisa di tubuhnya hanya tulang dan kulit."


"AMEER!"


Ameer langsung mendongak saat mendengar panggilan dari istrinya itu. "Meer, itu suara Meizia," tukas Ummi Nayla.


Tanpa berkata apa-apa, Ameer segera berlari naik ke kamarnya. "Zia, ada apa, Sayang?" Ameer segera menghampiri Meizia yang duduk di lantai kemudian ia langsung menggendongnya.


"Ameer perutku sakit," ringis Meizia.


Ameer langsung berpikir apakah istrinya itu akan melahirkan? Padahal Dokter mengatakan kemungkinan hari kelahiran anak-anak mereka masih dua minggu lagi.


"Kita ke rumah sakit sekarang." Ameer langsung membawa Meizia turun dengan hati-hati, Ummi Nayla yang melihat hal itu juga merasa panik dan ia segera mengambil kunci mobil Ameer.


"Sepertiny mereka mau keluar," kata Meizia sembari memegang perutnya.


"Sabar, Sayang, kita akan segera ke rumah sakit," kata Ameer sembari mendudukan Meizia di kursi belakang,Ummi Nayla pun menyusul, ia duduk di sisi Meizia untuk menjaga sang menantu.


Sementara Ameer menyetir. "Hati-hati, Nak!" seru sang Ibu yang teringat dengan kecelakaan Hana. "Pelan-pelan yang penting selamat."


"Iya, Ummi," sahut Ameer yang sebenarnya ingin melajukan mobilnya dengan cepat karena cemas dengan keadaan Meizia. Namun, mengingat kecelakaan yang merenggut nyawa Bibi-nya, membuat Hana lumpuh selama lebih dari satu bulan membuat Ameer merasa apa yang dikatakan ibunya itu benar.


Sementara di rumah sakit, perlahan Hana membuka matanya tetapi pandangannya masih buram. Dokter dan Suster yang melihat Hana kini sudah siuman langsung mengucap syukur dengan begitu tulus, seolah mereka juga menantikan hari ini tiba.


"Cepat kabari keluarganya!" seru Dokter dengan senyum lebar.

__ADS_1


Suster pun segera keluar dan menyampaikan kabar bahagia itu pada Abi Thohir, yang seketika membuat ayah Hana itu langsung melakukan sujud Syukur.


__ADS_2