Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 95 - Kesempurnaan Di Balik Kekurangan


__ADS_3

Ameer bernapas lega karena ia sampai tepat waktu, bahkan pria itu langsung melambaikan tangan pada putrinya yang sedang di atas panggung.


Kini, Asywaq mendapatkan semangatnya kembali setelah melihat sang Ayah. Ayah yang membuat Asywaq merasa tetap punya sosok Ibu meski sebenarnya tak punya.


Ameer langsung pergi ke kursi depan, menemui keluarganya yang kini melemparkan tatapan tajam pada duda tampan itu. Tak terkecuali Hana, yang menatap kakak sepupunya itu dengan kesal karena hampir terlambat.


"Aku dari Bandara langsung ke sini supaya aku tidak melewatkan lomba ini, lalu bagaimana bisa kamu terlambat padahal tempat kerjamu tidak jauh dari sini?" gerutu Hana.


"Macet, Han," ringis Ameer. Ia pun duduk di sisi s bungsu yang kini justru cemberut, mengingat teman-temannya kembali mengejek Karena Ameer datang terlambat.


"Ada apa, Sayang?" tanya Ameer dengan lembut. Namun, belum sempat Syauqi menjawab, suara si sulung sudah terdengar dari atas panggung. Suara yang begitu merdu melantunkan ayat-ayat suci Al-qur'an yang berhasil gadis itu hafal.


Sesuai keinginan Meizia dulu, menjadi seorang pengjafal Al-Qur'an.


Kini semua mata tertuju pada gadis kecil yang sangat cantik, pintar dan tentu punya adab yang baik itu. Kecantikan yang diturunkan dari sang Ibu, dan budi pekerti yang diajarkan dari sang Ayah, kombinasi yang sempurna di balik kekurangan yang selalu menjadi cibiran orang tentang wanita yang melahirkannya.


Semua orang terpukau dengan suara Asywaq yang merdu, ia bisa malafalkan semua huruf dengan baik dan benar di usia yang masih dini itu.


Ameer tak kuasa menahan air mata haru nya, bangga melihat sang putri ada di posisi ini.


Selama sepuluh menit Asywaq di panggung, juri memintanya membaca ayat dari surat secara acak, dan gadis itu tak pernah melakukan kesalahan saat menjawabnya.


Sehingga saat gilirannya selesai, semua orang bertepuk tangan dengan sangat meriah. Tak terkecuali teman-teman yang mengejek mereka.


"Aneh sekali," gumam Syauqi secara tiba-tiba yang membuat Ameer mengernyit.


"Aneh apanya, Dek?" tanya Ameer.


"Orang-orang, Bi." Syauqi menatap sang Ayah dengan serius. "Kadang mereka membicarakan kami, kadang juga mengejek kami sampai kami sedih, Tapi sekarang semua orang sepertinya bahagia melihat Kakak menyelesaikan lomba dengan baik, bukan kah itu aneh? Mereka seperti koin, punya dua sisi yang berbeda."


Ameer terhenyak, begitu juga dengan Hana yang tanpa sengaja mendengar ocehan bocah cilik itu.


Kini, Ameer dan Hana saling memandang dengan bingung, seolah sama-sama ingin bertanya jawaban apa lagi yang harus mereka berikan pada pangeran kecil itu?


"Itu lah manusia, Sayang," ujar Hana kemudian. "Apa kamu pernah melihat bunga mawar yang ada di taman belakang rumahmu itu?" tanya Hana dan Syauqi langsung mengangguk.


"Nenek menyiramnya setiap hari, adek sering menemani jadi adek tahu bunga mawar itu saat mekar. Bentuknya cantik dan aromanya wangi."


"Pernah memegangnya?" tanya Hana lagi.


"Iya, sampai jari Adek terluka karena ternyata ada durinya. Ish, itu perih."

__ADS_1


"Seperti itu juga manusia, Sayang, mereka indah, menyenangkan, tetapi juga menyakitkan."


Syauqi terdiam, mencoba mengerti apa maksud dari Tante-nya itu. Hingga tiba-tiba Asywaq yang sudah turun dari panggung kini datang.


"Kakak keren!" seru Syauqi sembari mengangkat kedua jempolnya.


"Sshtt, jangan berisik!" bisik Asywaq saat MC kini memanggil peserta yang lain.


Hana memberi isyarat pada Asywaq agar duduk di sisinya, dan mereka kembali menyaksikan semua peserta lomba hingga selesai.


Saat pengumuman pemenang, Syauqi tampak gugup, bahkan beberapa kali ia menarik napas panjang. Ia sangat berharap sang Kakak memenangkan lomba ini lagi.


Beda halnya dengan sang Kakak yang justru tampak biasa saja, dan ia hanya melempar senyum tipis pada sang Ayah yang menatapnya dengan bangga.


Pengumuman dari juara harapan, juara dan dan tiga sudah disebutkan. Hingga saat juara satu disebutkan....


"Asywaq Hasanah Alfatih!"


Seketika seluruh keluarga Ameer dan tentu pihak dari sekolah Asywaq bersorak lantang, mereka bertepuk tangan dengan meriah sambil lberdiri, kecuali Hana yang hanya bisa bertepuk tangan di atas kursi roda nya. Namun, mereka semua tersenyum bahagia. Terutama si bungsu yang sampai naik ke atas kursinya hanya untuk berselebrasi.


"Adek, tidak boleh naik ke kursi!" tegur Ameer yang langsung menurunkan putra kecilnya itu.


Saat menerima piala dan hadiah yang berubah sejumlah uang itu, Asywaq terus menatap sang Ayah yang kini menyeka air matanya. Setelah itu Asywaq melirik kedua orang tua pemenang yang lain, Ibu dan Ayah mereka berpelukan dan terlihat sangat bahagia.


...🦋...


"Dapat piala lagi!"


Seru Syauqi sambil melompat girang, ia memegang piala itu seolah dirinya yang memenangkan lomba ini. Bahkan, bocah itu bersikeras ingin membawa pialanya ke rumah.


"Hati-hati, nanti pialanya jatuh lho!" seru Shafa sambil terkekeh.


"Tidak, Adek memegangnya dengan kuat, Tante!" seru Syauqi.


"Itu nanti di simpan sekolah, jangan lupa!" goda Hana sambl tertawa kecil.


"Kata Ibu guru boleh dipinjam sebentar, lagian yang menang lomba Kakak. Bukan sekolah," sanggah si bungsu itu.


"Tapi 'kan mewakili sekolah, Sayang!" tegas Ummi Nayla.


"Tidak apa-apa," sambung wali kelas Asywaq yang menemani mereka ke parkiran. "Semenjak kami mengirim mereka ke beberapa lomba, nama sekolah kami jadi lebih harum dan orang-orang punya pandangan yang sangat baik pada sistem pendidikan kami. Dulu Syauqi memenangkan lomba bahasa Arab dan puisi, sekarang memenangkan lomba menghafal Qur'an. "

__ADS_1


"Terima kasih atas pengertiannya," kata Ameer yang sebenarnya merasa tak enak hati.


Saat di parkiran, Syauqi bertemu dengan teman-teman jahilnya yang juga akan pulang, Ia kembali terlihat kesal tetapi mencoba menahannya.


"Masuk ke mobil, Dek!" seru Ameer yang membukakan pintu mobil di belakang.


Syauqi hendak masuk, tetapi tiba-tiba ia mengurungkan niatnya, Kini ia justru melangkah mendekati teman jahilnya itu.


"Dek?" panggil Asywaq, khawatir adiknya melakukan sesuatu karena kesal.


"Adek cuma mau bilang sesuatu sama mereka!" seru Syauqi dengan lantang sembari menatap teman-temannya itu.


Ameer dan yang lainnya tentu bingung dengan aksi Syauqi, begitu juga dengan orang tua teman-temanya itu.


"Kalian punya Ibu, kan? Tidak seperti kami yang tidak punya Ibu!" seru Syauqi dengan tegas yang seketika membuat Ameer melotot.


"SYAUQI!" tegur Ameer dengan tegas. Sementara teman-temannya itu hanya melongo bodoh.


"Adek cuma mau kasih tahu kok, Bi, tidak apa-apa kami tidak punya Ibu di rumah, tapi kami masih punya Abi, kakek, nenek, Om dan tante."


"Meskipun kami tidak punya Ibu seperti yang selalu kalian katakan, kami tetap jadi anak yang baik, tidak membuat teman sedih. Dan kami rajin juga belajar. Bahkan, adek sama kakak ranking di kelas. Adek dan Kaka juga menang lomba, terus kenapa kalau tidak punya Ibu? Kan masih ada Abi yang mengajari Adek dan Kakak?"


"Sedangkan kalian punya ayah, Ibu, kakek, nenek, Om dan tante. Lebih lebih lengkap dari kami, tapi kenapa kalian tidak menjadi anak yang baik? Bukan kah yang mengajari kalian lebih banyak?"


Seketika semua orang terhenyak mendengar ocehan polos dan apa adanya dari bocah berusia 7 tahun itu, tak hanya Ameer dan keluarganya, tetapi juga kedua orang tua teman-teman Syauqi terhenyak.


Mereka baru menyadari bahwa anak-anak mereka mengejek anak lain dan itu adalah sesuatu yang sangat sensitif.


"Ma-maafkan putra ku," ucap Ameer setelah hanya bisa terdiam selama beberapa saat.


"Tidak, kami yang minta maaf," ucap salah ayah anak itu. "Kami janji putra kami tidak akan melakukan hal itu lagi."


"Lagi pula putra mu benar," sahut seorang Ibu di sana. "Anak kami punya kehidupan yang sempurna tapi kenapa tetap ada nilai yang kurang dalam diri mereka? Itu pasti salah kami."


"Sayang, ayo masuk ke mobil!" ajak Ameer, tetapi putranya itu diam saja sambil menatap teman-temannya yang hanya bisa tertunduk itu.


"Dek, kita janji mau mendengarkan kata Abi." Asywaq mengingatkan dengan lembut, dan adiknya itu pun langsung masuk ke mobil.


"Tolong jangan ambil hati yang dikatakan adikku," kata Asywaq kemudian pada para orang dewasa itu. "Dia hanya sedikit kesal karena ... teman sekolah sering sekali mengatakan kami tidak punya ibu sambil tertawa."


Hana menatap Asywaq yang tersenyum tipis, untun menyembunyikan kesedihannya. Kedua tangannya saling bertaut dan gadis kecil itu berkedip cepat. Hana tahu, dia menahan air matanya.

__ADS_1


" Persis seperti Meizia."


__ADS_2