
Keluarga Hana menyambut lamaran resmi dari keluarga Syafiq, meskipun hari pernikahan masih belum mereka tentukan karena Syafiq dan keluarga sudah berpindah domisili ke Mesir sejak beberapa tahun yang lalu. Ada banyak hal yang harus mereka urus, apalagi nanti Syafiq akan membawa Hana bersama nya.
Walaupun begitu, Syafiq terlihat sangat senang dengan rencana pernikahan nya begitu juga dengan Hana. Yeah, meskipun awal nya Hana merasa tidak suka dengan pria itu, tetapi Syafiq telah membuktikan bahwa dia pria yang sangat baik.
Syafiq menghargai Hana, menghargai keputusan dan keinginan Hana.
Bahkan, pria itu juga berbaur dengan keluarga Hana yang lain, termasuk dan Ameer. Ia juga membantu mengajar di sekolah Ameer.
Seperti saat ini, Syafiq sedang mengisi jadwadl Ameer dan tampak nya pria itu berhasil merebut hati para santri dengan mudah.
Selain tampan, pria itu rupa nya juga sangat pandai dalam menjelaskan suatu materi hingga sangat mudah di mengerti.
Sementara di sisi lain, keluarga Ameer sedang menyiapkan acara syukuran setelah Ameer memberi tahu bahwa Meizia akan melahirkan anak kembar.
Dugaan Ameer juga sangat benar, kedua keponakan cilik nya sangat gembira setelah tahu mereka akan punya adik kembar.
"Tante, nanti adik nya laki-laki dan laki-laki, perempuan dan perempuan atau campur-campur?" celetuk Adiba yang membuat kening Meizia berkerut dalam.
"Campur-campur bagaimana, Sayang?" tanya Meizia.
"Laki-laki di campur perempuan," cetus Amina dengan polos nya.
"Astagfirullah, lebih tepat nya laki-laki dan perempuan, Amina, bukan di campur," kata Meizia menjelaskan.
"Adiba yang bilang di campur," dalih Amina.
"Lalu apa nama nya kalau bukan di campur? Laki-laki dan perempuan 'kan nama nya di campur," celetuk Adiba tak mau kalah.
"Begini ...." Meizia menarik kedua bocah cilik itu ke hadapan nya. "Yang di campur itu cuma benda, Sayang, seperti makanan. Nasi di campur mie, ayam dan sebagai nya."
"Seperti es krim rasa vanilla yang di campur rasa cokelat!" seru Adiba dengan mata berbinar, membuat Meizia terkekeh dan mengangguk pelan.
"Seperti es campur juga?" tambah Amina dan Meizia kembali mengangguk.
__ADS_1
"Benar juga, kalau manusia di campur kan jadi aneh," gumam Amina kemudian.
"Iya, jadi kata-kata yang pantas adalah laki-laki dan perempuan," ujar Meizia.
"Jadi adik bayi nya laki-laki dan perempuan, Tante?" tanya Adiba, mata bulat anak itu menatap Meizia dengan rasa penasaran.
"Inysaallah, Sayang," jawab Meizia.
Sementara di dapur, Ummi Nayla dan kedua anak perempuan dan kedua keponakan perempuan nya sedang sibuk memasak untuk acara syukuran yang akan mereka adakan malam ini.
Mereka mengudang semua santri dan wali santri, juga tetangga mereka dari ujung ke ujung. Bahkan, mungkin acara syukuran ini lebih besar dari acara resepsi pernikahan Ameer dan Meizia. Beda nya, mereka mengadakan syukuran ini di rumah, bukan di hotel.
"Jangan sampai ada yang ada yang kurang, Shaf, semua nya harus di cek lagi," seru Ummi Nayla mengingatkan.
"Iya, Ummi, jangan khawatir," jawab Shafa.
"Ummi akan pergi membeli buah, urusan dapur Ummi percayakan sama kamu dan adik-adik kamu," tukas nya lagi.
"Iya, Tante, jangan cemas!" seru Riana. "Aku jago nya mengurus masakan, acara putri kesayangan Tante ini insyaallah akan sukses." Lanjut nya yang hanya di tanggapi senyum tipis oleh Ummi Nayla.
Entah karena Meizia akan memberikan cucu kembar, atau karena dia merasa kasihan pada Meizia yang tak mendapatkan kasih sayang yang layak sejak kecil.
Apa pun alasan nya, Ummi Nayla tulus mencintai menantu yang dulu sempat ia pandang sebelah mata.
"Sekarang kita sibuk mengurus Meizia, sebentar lagi kita akan sibuk mengurus pernikahan Hana," celetuk Marwa.
"Tapi waktu pernikahan Hana belum di tentukan." Riana menimpali. "Masih banyak yang harus kita urus."
"Tidak apa-apa, kita akan sabar menunggu," kata Shafa. "Meskipun sebenarnya aku sangat tidak sabar menunggu keturunan Syafiq dan Hana lahir, pasti anak mereka sangat tampan."
"Benar," seru Marwa dengan semangat. "Aku tidak menyangka Syafiq ternyata sangat tampan, wajah nya seperti terpahat hampir sempurna. Hana sangat beruntung mendapatkan nya."
Hana tak menanggapi godaan kakak-kakak perempuan nya itu, ia terus fokus pada pekerjaan nya sekolah tak mendengar obrolan mereka. Padahal, Hana sedang menahan gejolak yang tak biasa di dada nya.
__ADS_1
Menikah dengan Syafiq?
Entah kenapa dia merasa tidak sabar menunggu hari itu tiba.
Tak berselang lama, Meizia muncul dengan senyum lebar di bibir nya.
"Akhirnya Tuan putri datang juga," seru Shafa sambil tertawa kecil.
"Maaf aku tidak bisa membantu banyak, Mbak," ucap Meizia menyesal, bukan nya ia mau bersenang-senang sementara saudara nya yang lain bekerja, tetapi Ameer dan Ummu Nayla melarang Meizia bekerja.
"Tidak apa-apa, Dek," balas Marwa. "Kamu 'kan lagi hamil, memang lebih baik kamu tidak melakukan pekerjaan yang berat. Takut berbahaya untuk si kembar."
"Benar sekali," sambung Riana. "Sebaiknya kamu temani Adiba dan Amina."
"Anak-anak itu sedang asyik nonton kartun sama Mas Faruq," jawab Meizia, ia menghampiri Hana yang sedang sibuk membuat kue basah. "Hana, kenapa kamu diam saja sejak tadi?"
"Oh, aku hanya__"
"Sibuk memikirkan calon suami," goda Riana yang seketika membuat wajah adik nya itu merona merah.
"Bukan, Mbak," bantah Hana dengan cepat.
"Nanti kita buat acara syukuran seperti ini kalau Hana hamil," kata Meizia dengan semangat. "Aku yang akan membuat kue nya." Lanjut nya dengan semangat.
"Bagaimana kalau mereka mengadakan syukuran di Mesir?" celetuk Marwa.
"Ya kita pergi ke sana," jawab Meizia dengan enteng. "Pokoknya aku mau selalu ada saat Hana merayakan kebahagiaan nya."
"Baiklah adik ku tercinta," kata Hana sambil tertawa kecil.
obrolan para wanita itu terus berlanjut, semua saling menggoda satu sama lain hingga tak terasa pekerjaan mereka hampir selesai.
Ameer yang baru pulang dari kantor langsung pergi ke dapur karena dia mendengar suara Meizia dari dapur, Ameer tersenyum lebar melihat semua saudara nya tampak bersenang-senang.
__ADS_1
"Semoga kebahagiaan ini tak pernah ada akhir nya, ya Allah. Seperti air sungai yang mengalir tanpa henti."