Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 85 - Pilihan


__ADS_3

"Abi!" Riana memanggilnya sang Ayah dengan antusias, bahkan ia terus berlari hingga hampir jatuh, tetapi dengan sigap Ilyas memegangnya.


"Pelan-pelan, Ri," pinta Ilyas meski sebenarnya ia juga tak sabar untuk melihat adik iparnya.


"Aku tidak sabar ingin melihat Hana, Mas," kata Riana dengan senyum lebar.


Ia melangkah lebih cepat dan sang Ayah pun menyambutnya dengan pelukan hangat. "Hana sadar, Ri, adik mu sudah bangun." Abi Thohir memberi tahu dengan begitu semangat, air mata haru juga tak mau berhenti mengalir di pipinya.


"Aku mau melihat Hana, Bi," pinta Riana yang kini juga menitikkan air mata, tetapi dengan cepat ia menyekanya, tak ingin lagi ada kesedihan di saat Hana sudah sadar.


"Abi juga belum menjenguk Hana, Ri, kata Dokter tunggu sebentar."


"Tidak apa-apa, kita tunggu sebentar."


Riana menyeka air mata sang Ayah dengan lembut. "Jangan menangis lagi, Bi, sekarang Hana sudah bangun. Kita sudah tidak punya alasan untuk bersedih."


"Benar, Sayang, semuanya sudah berakhir." Abi Thohir menyeka air matanya meski sebenarnya masih ada satu ketakutan dalam hatinya.


Tak berselang lama, Dokter keluar dan mempersilakan salah satu dari mereka masuk. "Hanya boleh satu orang ya, Pak, agar tidak mengganggu pasien," tukas Dokter.


"Baik, Dok, terima kasih," ucap Riana sambil tersenyum samar. "Abi yang masuk, ya. Hana pasti ingin melihat Abi."


Abi Thohir tentu tak menolak, ia langsung masuk ke ruang rawat Hana. Berusaha keras menahan air matanya karena tak ingin menangis di depan Hana.


Sementara Hana yang terlihat begitu lemah dan lemas hanya bisa mengulum senyum samar saat melihat sang Ayah.


"Sayang?" Abi Thohir duduk di sisi Hana, memegang tangan putrinya yang semakin kurus itu. "Abi di sini."


Hana tak mampu bersuara, ia hanya bisa menitikkan air matanya. "Kamu akan baik-baik saja." Abi Thohir mengusap kepala Hana dengan lembut. "Kami semua menunggumu, kami merindukanmu."

__ADS_1


Kami, mendengar kata itu mengingatkan Hana pada ibunya. Ia teringat kembali pada kejadian sebelum kecelakaan itu terjadi.


"Um ... mi?" lirih Hana yang bahkan tidak bisa mendengar suaranya sendiri.


"Kenapa, Sayang? Kamu ingin sesuatu?" tanya Abi Thohir sembari mendekatkan telinganya ke depan mulut Hana.


"Um ... mi?" tanya Hana sekali lagi yang seketika membuat Abi Thohir terhenyak, seketika otaknya blank, tak tahu harus menjawab apa.


"Bi?" panggil Hana dengan suara yang tercekat.


"Ummi ... baik-baik saja, Sayang," kata Abi Thohir akhirnya dengan terbata-bata. "Dia sedang tidur."


Hana yang mendengar hal itu hanya bisa tersenyum samar, merasa sedikit lega hingga ia juga teringat dengan Syafiq.


"Bi?" panggilnya dengan suara yang masih sama, hampir tak terdengar. "Syafiq?"


"Apa, Sayang?" tanya Abi Thohir yang memang tidak mendengar suara sang putri.


"Dia baik-baik saja, sudah sehat," kata Abi Thohir tersenyum karena keadaan Syafiq memang sudah sehat.


"Sudah, jangan pikirkan yang lain lagi, kamu harus beristirahat." Abi Thohir memberi tahu dengan tegas, tak ingin putrinya terbebani dengan keadaan yang lain.


Sementara di sisi lain, Meizia kini sudah berada di ruang persalinan dengan ditemani Ameer. Sementara Ummi Nayla sibuk menghubungi suami, anak dan menantunya, memberi tahu bahwa sebentar lagi si kembar akan lahir, meminta mereka datang ke rumah sakit jika bisa.


Cemas tapi sekaligus senang, membayangkan sebentar lagi hidup Ameer dan Meizia akan sempurna. Dan tentu itu juga kesempurnaan untuk hidup keluarga mereka.


Ameer terus menggengam tangan Meizia dengan erat. Menyemangatinya dan memintanya tenang. Saat ini keduanya masih berada di ruang rawat biasa karena Dokter mengatakan masih pembukaan ke tujuh.


Tadinya, Dokter menyarankan agar Meizia melahirkan secara cecar, agar ia tidak terlalu tersiksa. Melahirkan satu anak saja begitu menyakitkan, apalagi dua sekaligus.

__ADS_1


Namun, Meizia menolak. Dengan alasan ia tidak takut dengan rasa sakit selama itu untuk anak mereka. Apalagi Dokter juga mengatakan posisi kedua bayi aman jika pun Meizia ingin melahirkan secara normal.


"Hasan, dan Hasanah. Zaire dan Zamir. Syauqi, dan Asywaq. Yang mana yang lebih bagus menurutmu?" tanya Meizia yang membuat Ameer terkekeh.


Mereka memiliki beberapa pilihan nama untuk si kembar, tapi sampai sekarang Meizia dan Ameer belum memutuskan akan mengambil nama yang mana.


"Kita pikirkan itu nanti, Sayang, setelah anak kita lahir dengan selamat," ucap Ameer sembari mengusap kening Meizia. "Kamu dingin," gumamnya saat menyadari tubuh Meizia terasa dingin.


"Aku gugup," ucap Meizia sambil mengeratkan genggaman tangannya pada sang suami. "Bisa kamu memeluk ku, Sayang?" pinta Meizia.


Tanpa berpikir dua kali, Ameer pun membantu sang istri duduk hanya untuk memeluknya, menyalurkan kehangatan tubuhnya ke tubuh Meizia.


Meizia memejamkan mata sambil tersenyum, ia melingkarkan lengannya di pinggang Ameer dengan begitu erat. "Aku selalu suka pelukanmu," bisik Meizia. "Pelukan pertama yang terasa begitu hangat, penuh kasih sayang dan cinta. Pelukan yang selalu aku rindukan selama 22 tahun aku ada di dunia ini."


"Dan aku akan terus memeluk mu sampai kita tua nanti," sahut Ameer kemudian mengecup kening Meizia dengan lembut.


Saat Ameer menyudahi ciumannya, tiba-tiba Meizia ingin dicium lagi, membuat pria terkekeh. "Sekali lagi, aku menyukainya," rengek Meizia dengan manja.


Ameer tersenyum kemudian ia mengecup seluruh wajah Meizia dengan lembut, membuat jantung istrinya itu berdebar kencang, seolah itu pertama kalinya ia dicium oleh sang suami.


"Senang?" goda Ameer yang melihat wajah Meizia memerah.


"Jadi, mana nama yang paling bagus?" tanya Meizia.


"Bagaimana dengan Syauqi dan Asywaq? Yang berarti rindu? Seperti kita yang selalu saling merindukan."


"Itu ide yang bagus."


Meizia mengusap perutnya, yang sebentar lagi akan kembali kempes. "Zaire dan Zamir, kalian akan menjadi anak-anak yang luar biasa."

__ADS_1


"Inysaallah, Sayang," sahut Ameer.


Bersamaan dengan itu, Dokter kembali datang untuk memeriksa Meizia. Setelah itu, mereka pun bersiap untuk dibawa ke ruang persalinan.


__ADS_2