Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 41 - Malam Yang Berbeda 2


__ADS_3

Tak ada yang bisa Meizia lakukan untuk menumpahkan segala rasa sakitnya selain menangis dan menangis, tetapi pada akhirnya ia merasa lelah sendiri dan tangis nya pun terhenti.


Entah sudah berapa lama Meizia menangis di bawah guyuran air shower, sekarang ia merasa menggigil, pusing dan lemas.


Sementara di luar, Ameer masih setia menunggu sang Istri menenangkan hati. Hingga tak berselang lama kemudian, terdengar suara kunci yang diputar dari dalam. Ameer langsung berdiri bersamaan dengan pintu yang terbuka.


"Meizia?" panggilnya.


Meizia tak menyahut, ia hanya memeluk dirinya sendiri yang semakin menggigil. "Tunggu sebentar, Sayang, aku akan mengambil handuk."


Ameer langsung mengambil handuk baru, sekaligus bajunya yang tebal dan panjang setelah itu ia kembali pada Meizia yang hanya berdiri di ambang pintu.


Saat Ameer mendorong Meizia kembali ke kamar mandi, istrinya itu menolak. "Jangan membantah, Meizia!" bentak Ameer.


"Aku ... aku akan melakukannya sendiri," cicit Meizia.


"Apa kamu tahu wajahmu sudah membiru?" desis Ameer. "Sudah cukup kamu menghukum diri kamu sendiri." Lanjutnya sembari melepas pakaian Meizia.


"Kalau kamu tidak mau menghargai diri kamu sendiri, tidak apa-apa, biar aku yang melakukannya karena sekarang kamu istriku, milikku yang berharga."


Meizia hanya terdiam pasrah, meski sebenarnya ia merasa sangat malu karena Ameer memperlakukannya seperti anak kecil yang perlu diurus. Namun, ia tak sanggup menghentikan Ameer karena ia memang merasa tidak punya tenaga untuk bergerak.


Setelah mengeringkan tubuh Meizia dengan handuk, Ameer memakaikan bajunya ke tubuh Meizia.


"Maaf," kata Meizia tertunduk sembari menggigit bibirnya yang masih bergetar. Mata Meizia bengkak,, wajahnya sembab. "Aku merepotkanmu." Lanjutnya.


Ameer tersenyum lembut, ia merangkul istrinya itu dengan lembut kemudian membawanya ke tepi ranjang. "Sangat merepotkan," kata Ameer. "Sejak kita bertemu, kamu selalu membuatku melakukan sesuatu yang bahkan tidak pernah aku pikirkan sebelumnya."


Ameer mengeringkan rambut Meizia dengan handuk karena ia tak punya hairdryer di kamarnya. "Aku bisa melakukannya sendiri," kata Meizia sekali lagi.


"Malam pernikahan kita sungguh berbeda," ucap Ameer tanpa memperdulikan ucapan Meizia sebelumnya. "Aku harus mengurusmu seperti bayi." Meizia langsung tertunduk malu, wajahnya yang pucat kini mulai bersemu mendengar ucapan Ameer.


"Maafkan aku," lirih Meizia. "Tiba-tiba aku merasa sangat takut, aku seperti .... " Hati Meizia kembali bergetar.


"Jangan diingat, jangan diungkit." Ameer memperingatkan dengan tegas. "Apa kau tahu sebuah kisah tentang seorang pembunuh yang membunuh 100 orang?" tanya Ameer kemudian dan Meizia hanya menggeleng.

__ADS_1


"Aku akan bercerita padamu, dengarkan baik-baik dan pahami apa yang coba aku sampaikan."


Meizia hanya mengangguk, sementara Ameer kini pergi menjemur handuk. Setelah itu, ia kembali ke ranjang, merebahkan diri dan menarik Meizia ke pelukannya.


Meizia kembali gugup, tetapi sekarang ini mencoba menahan diri. "Tenang lah!" seru Ameer sembari melingkarkan tangannya di pundak Meizia, seolah ingin mengatakan bahwa ia akan melindungi Meizia.


"Aku suami mu, tidak ada yang salah dengan posisi kita sekarang." Meizia kembali tersipu dan ia mengangguk mengerti.


"Bagaiamana kisah itu?" tanya Meizia, suaranya terdengar serak, bahkan seolah hampir menghilang karena ia menangis cukup lama.


"Ada seorang pria, dia membunuh 99 orang. Kemudian dia ingin bertaubat, dia berkonsultasi pada seorang ulama dan mengakui dosanya itu, tetapi ulama tersebut mengatakan dosanya terlalu banyak, dia tidak akan di ampuni."


Kening Meizia berkerut dalam mendengar cerita Ameer yang belum selesai itu, ia langsung mendongak, menatap suaminya dengan nanar dan penuh kecemasan.


"Ceritaku belum selesai," kekeh Ameer sembari mengusap rambut Meizia yang masih setengah basah.


"Apa dia benar-benar tidak akan di ampuni?" cicit Meizia.


"Kemudian ...." Ameer melanjutkan. "Pria itu tidak terima dan marah atas perkataan ulama tersebut, dia pun menghunuskan pedangnya dan membunuh ulama itu."


"Dan mungkin itu yang akan kamu alami di langkah pertama mu saat ingin hijrah, Meizia, orang akan menghakimi kesalahan mu dan memvonis kamu adalah pendosa," tukas Ameer.


"Lalu?" bisik Meizia yang semakin merasa takut.


"Lalu dia kembali menemui seorang ulama dan berkonsultasi tentang keinginannya untuk bertobat, dia juga mengakui sudah membunuh 100 orang."


"Lalu?" Meizia bertanya dengan tak sabar.


"Ulama itu bilang bahwa pertobatan akan tetap diterima selama nyawa belum ada di tenggorokan, lalu dia meminta pria itu harus pindah ke lingkungan yang baru, karena lingkungan tempat dia sebelumnya memang penuh dengan tindakan kriminal." Ameer kembali bercerita sembari menatap wajah sang istri yang mendengarkan dengan sangat serius.


"Kamu tahu 'kan pengaruh lingkungan itu sangat kuat? Sulit bertahan tetap pada kebaikan jika lingkungan itu penuh dengan keburukan, akan selalu ada godaan dan cobaan."


Meizia mengangguk mengerti.


"Lalu?" Dia terus melontarkan pertanyaan yang sama, membuat Ameer terkekeh.

__ADS_1


"Lalu, dia pun bergegas pergi ke tempat yang disarankan oleh ulama itu, karena dia memang sangat ingin bertobat, dia bertekad untuk memperbaik diri. Namun, di tengah perjalanan maut datang."


Seketika tubuh Meizia menegang, bahkan ia menahan napas.


"Apa kah artinya dia tidak jadi bertaubat?" Dia kembali mencicit, matanya sudah berkaca-kaca, takut hal itu terjadi padanya.


"Inysaallah taubatnya di terima," kata Ameer yang membuat kerutan di kening Meizia semakin dalam.


"Dia baru dalam perjalanan," ujar Meizia.


"Allah berfirman begini (QS An - Nisa ; 100) Dan barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak."


Ameer membacakan penggalan dari surat itu sembari tersenyum. "Itu lah mengapa kita tidak boleh takut berhijrah ke jalan yang baik, meski orang bilang ini dan itu, apalagi jika mengancam soal rezeki."


"Benar," gumam Meizia. "Lalu?"


"Lalu selanjutnya dalam surat itu Allah berfirman" 'Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."


"Benarkah?" pekik Meizia dengan bola mata yang melebar.


"Benar, Sayang," sahut Ameer dengan cepat. "Saat seseorang memilih bertaubat, menyesali perbuatannya, bertekad akan memperbaiki diri, mendekatkan diri pada-Nya, merengek memohon ampunan-Nya. Maka dia seperti bayi yang baru lahir, suci."


Meizia menatap mata Ameer, dan entah mengapa kini hatinya terasa lebih tenang dan ringan.


"Apa aku juga punya kesempatan yang sama?" lirih Meizia.


"Semua orang punya kesempatan yang sama selama nyawa belum sampai di tenggorokannya," sahut Ameer dengan cepat. "Jika kamu punya 100 dosa, Allah punya 1000 ampunan untukmu. Asal kau benar-benar kembali ke jalan-Nya dan menyesali dosa yang sebelumnya."


...🦋...


Note


Bisa tambahkan *atau koreksi jika aku salah, btw, cerita ini pasti sangat familiar untuk kita. Aku memang hanya menceritakan intinya saja, bisa panjang kalau detaill.


Thank you*.

__ADS_1


__ADS_2