
Ameer dan Meizia terus menggoda Hana yang kata nya tak menyukai sang calon suami tetapi terus membicarakan pria itu. Alhasil, Hana hanya bisa cemberut di balik cadar yang menutupi sebagian wajah nya itu.
Saat ini, ketiga insan itu sudah ada di toko buah. Meizia dengan semangat memilih beberapa jenis buah, sementara Ameer hanya bisa mengekori sang istri sembari membawa keranjang.
"Ummi juga minta pisang," kata Meizia saat teringat dengan permintaan ibu mertua nya.
"Ambil saja, Sayang," kata Ameer sembari tertawa kecil.
"Okay." Meizia mengambil pisang dan setelah itu ia juga mengambil buah jeruk dan apel.
"Tidak mau mangga?" tanya Ameer saat ia melihat ada mangga.
"Tidak," jawab Meizia yang membuat Ameer sedikit bingung..
"Aku pikir orang hamil pasti ingin mangga," gumam nya, beberapa kali ia menawarkan mangga pada sang istri tetapi selalu di tolak.
"Hana, kamu ingin membeli buah apa?" tanya Meizia pada Hana yang sejak tadi hanya sibuk dengan ponsel nya.
"Tidak perlu, di rumah masih ada buah," jawab Hana.
Meizia menanggapi nya dengan anggukan kepala, setelah itu ia menggandeng tangan Ameer. "Aku juga mau buah naga, ya," pinta nya dengan manja.
"Iya, Sayang, ambil saja." Ameer mengulum senyum, padahal Meizia cukup mengambil apapun yang dia mau, tetapi sejak tadi istri nya itu teris saja minta izin.
"Seperti nya kamu berbeda dengan orang hamil lain nya, Zia," cetus Hana saat mengintip isi keranjang. "Biasa nya orang hamil mengidam mangga muda yang kecut, atau sesuatu pedas, tapi kamu membeli buah yang manis semua dann suka makanan yang tidak pedas."
"Mungkin anak ku mau jadi orang manis," celetuk Meizia. "Oh ya, Ameer ingin anak kita kembar. Bantu do'a, ya. Seperti nya aku juga ingin anak kembar."
"Aamiin ya Allah, itu pasti sangat menyenangkan," seru Hana yang juga tampak antusias. Tanpa mereka sadari, beberapa orang di tempat itu memperhatikan mereka sejak tadi dengan tatapan yang tak biasa, mereka menduga bahwa dua perempuan yang bersama Ameer adalah kedua istri nya.
__ADS_1
"Hebat banget ya bisa akur begitu," bisik seorang wanita pada teman nya.
"Kata nya kalau ikhlas di poligami bisa masuk surga, mungkin karena itu mereka ikhlas di poligami," bisik yang lain.
"Kalau aku sih mending cari surga yang lain," kekeh yang lain lagi.
"Sayang, sudah," ujar Meizia dengan manja.
"Baiklah, kita bayar sekarang." Meizia mengangguk, ia kembali menggandeng tangan Ameer dengan manja kemudian kedua nya berjalan di depan Hana. Bahkan, sesekali Ameer mengatakan sesuatu sambil tertawa.
Hal itu tak luput dari pandangan orang-orang di sana, membuat mereka kembali berbisik satu sama lain.
"Istri yang satu nya super sabar."
"Benar, kalau aku sih tidak akan sanggup. Melihat suami ku menyebut nama wanita lain saja sudah membuat ku kesal, apalagi kalau harus melihat suami ku bermesraan dengan wanita lain."
...🦋...
Meizia yang sudah merasa lapar langsung duduk di meja makan, bahkan ia hendak mengambil ayam itu dengan tangan nya tetapi langsung di cegah oleh Ummi Nayla.
"Jangan cuci tangan, Mei," ujar nya mengingatkan.
"Oh ya, aku sampai lupa." Meizia hanya cengengesan sembari berlari ke dapur untuk mencuci tangan.
"Jangan lari, Mei!" Ummi Nayla berteriak antara kesal dan gemas pada menantu nya itu.
"Jangan lari, Sayang," seru Ameer yang juga mengingatkan.
"Iya!" Meizia menjawab sambil berteriak.
__ADS_1
Meizia mencuci tangan dengan semangat, Hana pun melakukan hal yang sama, setelah itu mereka kembali ke meja makan dan mereka pun menikmati makan siang bersama.
"Hem, enak sekali," gumam Meizia yang tampak menikmati ayam mentega buatan sang ibu mertua.
"Makan yang banyak, Sayang, biar anak kita tumbuh sehat." Ameer menambahkan nasi dan sayur ke piring Meizia.
Meizia mengangguk, ia makan dengan sangat lahap. "Kamu juga, Han," sambung Ummi Nayla.
"Iya, Tante," jawab Hana.
"Oh ya, gimana dengan calon suami kamu, Han?" tanya Ummi Nayla yang membuat Hana langsung berhenti mengunyah makanan nya. "Apa kamu sudah di kasih kesempatan berbicara dengan nya?"
"Sudah, Ummi," jawab Meizia mendahului Hana. "Kata nya Hana tidak suka, tapi tadi dia terus membicarakan nya," kekeh Meizia.
"Meizia," geram Hana yang merasa malu.
"Syafiq itu baik kok, dia juga sholeh, serasi banget sama wanita sholehah seperti kamu," ujar Ummi Nayla.
"Ah, Tante bisa aja," celetuk Hana sembari mencoba menghindari tatapan tante nya itu.
"Ummi tahu calon suami Hana?" tanya Ameer penasaran.
"Tahu dong," jawab Ummi Nayla. "Dulu beberapa kali kami bertemu saat kami sama-sama ke Mekkah, dia sangat tampan dan sangat sopan."
"Cocok dengan Hana yang cantik dan juga sopan," goda Meizia.
"Inysaallah, Abi kamu tidak salah memilihkan calon suami untuk kamu, Han," kata Ummi Nayla.
Hana hanya tersenyum tipsi menanggapi pujian Ummi Nayla. Ia sudah tahu nama calon suami nya, sudah mendengar suara nya dan sudah mendengar sedikit cerita tentang nya. Dan sekarang Hana penasaran dengan rupa pria itu.
__ADS_1
" Kira-kira dia seperti apa, ya?"