Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 61 - Sang Pangeran


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 10, sebagian tamu sudah pulang tetapi masih ada beberapa yang belum pulang. Namun, Ameer dan Meizia tetap di perbolehkan kembali ke kamar yang sudah mereka siapkan.


"Ummi tahu pasti kamu lelah," kata Ummi Nayla yang mengantar menantu nya itu ke kamar.


"Iya, aku juga mengantuk sekali, Ummi," ujar Meizia. Sejak beberapa menit yang lalu ia memang merasa sangat mengantuk, bahkan kelopak mata nya seperti akan segera tertutup sendiri.


"Terima kasih, Ummi," ujar Ameer setelah ia sampai di depan kamar nya dan Meizia.


"Selamat beristirahat," ucap Ummi Nayla sebelum akhir nya ia kembali ke ballroom.


Sesampainya di kamar, Meizia segera melepas cadar nya kemudian ia mengambil kapas untuk menghapus make up nya. Namun, seketika Meizia tersenyum dan ia menoleh pada Ameer yang kini melepas baju nya.


"Ameer?" panggil Meizia dengan sangat lembut.


"Iya, Sayang," sahut Ameer tak kalah lembut nya.


"Hampir dua jam aku di dandani, tapi kamu melihat wajah ku."


Kening Ameer berkerut mendengar pernyataan sang istri, dan seketika kedua nya tertawa menyadari hal itu.


"Oh, jadi sekarang kau ingin menunjukkan kecantikan mu itu, hm?" goda Ameer sembari mendekati Meizia.


"Aku hanya ingin kamu melihat make up ku, apakah aku semakin cantik?"


Meizia tersenyum manja, bahkan tatapan nya seolah menggoda. "Kau selalu cantik, tapi malam ini jauh lebih cantik," ujar Ameer.


Kini ia berdiri tegak di depan Meizia, membelai pipi sang istri dengan lembut dan berkata, "Kau luar biasa, Sayang."


"Terima kasih," ucap Meizia. "Karena kamu sudah melihat make up ku, maka sekarang aku menghapus nya." Seketika Ameer tertawa mendengar kata-kata Meizia.


"Ya Allah, perjuangan dua jam memperindah penampilan mu. Kemudian hasil nya di tutupi cadar dan aku hanya punya waktu beberapa detik untuk menikamati hasil make up ini. Benar-benar definisi sempurna dari arti kesenangan dunia itu sementara itu."


"Benar," jawab Meizia setengah menggumam. "Ya sudah, kamu mandi duluan, aku akan menghapus make up ku dulu."

__ADS_1


"Aku ingin kita mandi bersama, Sayang."


"Ameer."


"Tidak boleh membantah!"


...🦋...


Hana dan keluarga nya pulang ke rumah setelah menikamati pesta pernikahan Ameer dan Meizia, sesekali mereka juga membahas tentang pernikahan Hana kelak.


Hana tak menanggapi, hanya sesekali melempar senyum tipis. Sang Ayah juga sering membicarakan kebaikan dan kepintaran calon suami Hana. Seolah ia sangat bangga akan memiliki pria itu sebagai suami dari putri nya.


Saat hari semakin larut dan semua orang terlelap karena lelah, Hana masih terjaga dengan mata yang masih terasa segar.


"Kenapa keraguan ini begitu besar dalam hati ku, ya Allah." Hana menggumam sembari meletakkan tangan nya di dada. "Apakah ini pertanda tidak baik? Tolong berikan petunjuk-Mu sebelum semua nya terlambat."


...🦋...


Jika di awal-awal pernikahan Meizia harus selalu di bangunkan oleh Ameer, sekarang tidak lagi. Wanita itu akan bangun bersamaan dengan Ameer yang juga bangun dari tidur nya.


Kedua nya melaksanakan sholat, berdzikir dan berdo'a seperti biasa.


Ameer berdo'a dengan begitu khusyu, dan setelah selesai ia pun menoleh karena tak mendengar suara Meizia.


"Astagfirullah," gumam Ameer yang mendapati istri nya itu tertidur di atas sajadah. "Ya Allah, Meizia, padahal aku sengaja tidak membangunkan mu karena aku tahu kamu pasti sangat mengantuk," gumam Ameer sembari menggendong sang istri kembali ke ranjang.


Meizia megerang lirih saat Ameer membuka mukena nya. Ia membuka mata dan memanggil Ameer dengan manja, seolah protes karena tidur nya di ganggu.


"Buka dulu, Sayang, biar kamu nyaman tidur nya," kata Ameer.


Meizia hanya mengangguk, ia membiarkan Ameer melakukan apa yang pria itu mau setelah itu Meizia langsung kembali memejamkan mata.


Ameer hanya geleng-geleng kepala, ia segera menyusul, memeluk sang istri dengan lembut.

__ADS_1


...🦋...


Saat matahari telah menampakkan sinar nya, Hana keluar dari kamar dan hari ini dia berniat akan pergi ke restoran untuk menemani Riana.


Namun, tiba-tiba Hana mendapatkan telfon dari nomor asing yang bahkan bukan dari negara nya.


"Halo?" sapa Hana. "Siapa?"


"Assalamualaikum, Hana."


Hana melotot mendengar suara bass seorang pria dari seberang telfon, ia segera menjauhkan ponsel itu dari telinga nya, menatap nomor asing itu.


"Hana, kau mendengar ku?" tanya pria itu.


"I-iya," jawab Hana sedikit gugup. "Kau siapa? Dapat dari mana nomor telepon ku? Dan bagaimana kau tahu nama ku?"


Tak ada jawaban, hanya terdengar suara tawa dari pria itu. "Kenapa hanya tertawa? Jawab aku!" tegas Hana.


"Kau terus berbicara, bagaimana aku bisa menjawab mu?"


"Opss, maafkan aku."


"Baiklah, Hana, nama ku Shafiq Ahmad. Kita di jodohkan oleh orang tua kita, aku rasa kau tahu itu."


"Oh...." Hanya itu yang mampu Hana ucapkan sebagai tanggapan.


"Aku hanya ingin menyapa mu, jika kau tak keberatan."


"Hem." Hana hanya bisa menggumam.


"Dua minggu lagi aku akan pulang ke Indonesia, kita akan meluangkan sedikit waktu untuk saling mengenal."


"HAH?"

__ADS_1


__ADS_2