
Apa yang telah Ameer lakukan pada Hana merenggut ketenangan pria itu, meski Ameer tak sengaja melakukan nya, selain itu bibir nya tak benar-benar menyentuh kulit Hana secara langsung. Sentuhan nya masih terhalang kain yang senantiasa menutupi kepala Hana.
Hari sudah malam, semua orang pasti sudah tertidur begitu juga dengan Meizia. Wanita itu tak pernah tidak lelap ketika Ameer memeluk nya.
Namun, tidak dengan Ameer. Pria itu masih di Bayang-bayangi kesalahan yang telah ia lakukan meski tidak ada unsur kesengajaan dalam hal itu.
"Kenapa belum tidur?" tanya Meizia dengan suara serak, wanita itu mengucek mata nya yang terasa berat untuk di buka.
"Aku melakukan kesalahan," lirih Ameer, ia mengusap kepala sang istri dengan lembut.
Kening Meizia berkerut saat mendengar pengakuan Ameer, kedua mata nya kini terbuka lebar. "Kesalahan apa, Sayang?" Meizia bertanya dengan bingung dan khawatir, apalagi setelah ia melihat raut wajah cemas Ameer.
Ameer sudah membuka mulut untuk memberikan jawaban yang sejujur nya, tetapi kemudian mengatupkan kembali bibir nya karena takut Meizia merasa cemburu.
"Sayang, kenapa diam saja?" tanya Meizia, ia menatap Ameer dengan tatapan yang dalam dan intens. "Katakan saja, mungkin itu akan mengurangi sedikit kecemasan mu meskipun aku tidak bisa membantu nya."
Ameer tersenyum, ia membelai pipi Meizia kemudian berkata, "Lain kali jangan pernah membawa wanita lain ke kamar pribadi kita."
Kerutan di kening Meizia semakin dalam mendengar permintaan Ameer, ia langsung teringat dengan Hana karena hanya Hana yang ia ajak memasuki kamar mereka.
"Termasuk Hana?" cicit Meizia yang langsung di jawab dengan anggukan kepala oleh Ameer. "Kenapa?" Meizia beranjak duduk, ia menatap suami nya itu dengan dalam.
Ameer pun juga duduk, ia menyalakan lampu yang ada di sisi ranjang. "Sayang, Hana itu adik sepupu ku, bukan adik kandung," ujar Ameer.
"Semua orang juga tahu itu," kekeh Meizia.
"Yang aku maksud adalah kami bukan mahram!" tegas Ameer yang seketika membuat Meizia terdiam. "Tadi dia ada di kamar kita, aku mengira itu kamu. Astaghfirullah!"
Ameer mengusap wajah nya dengan frustasi, terlihat jelas dia menyesali perbuatan nya itu.
"Lalu?" tanya Meizia dengan suara yang setengah berbisik, ia menelisik wajah Ameer.
__ADS_1
"Aku tidak sengaja mencium nya karena aku pikir itu kamu."
Deg
Seketika jantung Meizia seperti berhenti berdetak, ia menahan napas dan wajah nya tampak tegang.
"Dia menutup wajah nya, aku pikir itu kamu," lirih Ameer dengan suara rendah. "Maafkan aku, Sayang." Ia langsung menggengam tangan Meizia dengan lembut. "Aku janji itu akan menjadi kesalahan pertama dan terkahir ku." Ameer meyakinkan sang istri yang masih terdiam itu.
"Meizia, kamu marah?" Ameer menatap mata Meizia. "Kamu berhak marah, kamu juga berhak menampar ku jika mau."
Tiba-tiba Meizia tersenyum yang membuat Ameer bingung. "Kenapa tersenyum, Zia? Kamu tidak marah?" tanya Ameer.
"Tidak," jawab Meizia sembari mendorong Ameer hingga suami nya itu kembali merebahkan diri di atas ranjang, Meizia menyusul, ia meletakkan kepala nya di atas dada Ameer. "Aku tidak marah, hanya sedikit cemburu," papar Meizia.
"Maafkan aku." Ameer membelai rambut panjang Meizia dengan lembut.
"Berhenti meminta maaf, Sayang, lagi pula kamu melakukan nya dengan tidak sengaja," ujar Meizia yang membuat Ameer menghela napas lega.
"Terima kasih, Sayang," ucap Ameer dengan lembut. "Aku tidak bisa tidur karena terus merasa bersalah pada mu, aku merasa seperti sudah mengkhianati mu." Meizia tertawa kecil mendengar ucapan Ameer.
"Tidak mungkin seorang Ameer Alfatih mengkhianati istri nya," kekeh Meizia sembari mendongak, ia menatap wajah dengan tatapan yang manja. "Aku jadi berharap anak kita laki-laki, aku yakin dia akan punya sifat seperti mu."
"Dan bagaimana jika perempuan?" tanya Ameer.
"Dia akan mendapatkan suami yang punya sifat seperti mu."
Ameer langsung tertawa geli mendengar ucapan Meizia. "Jadi inti nya, kamu mengidolakan aku, hem? Sampai ingin anak kita punya sifat seperti ku atau punya pasangan seperti ku, hem?"
"Benar sekali," sahut Meizia tegas. "Karena pria seperti kamu adalah impian setiap wanita di dunia ini."
"Seperti nya begitu," gurau Ameer.
__ADS_1
Kedua nya tertawa kecil, Ameer merasa lega karena sudah melepaskan apa yang menjadi kecemasan nya. Sementara Meizia kini justru terbayang dengan anak nya.
Itu membuat Meizia semakin tidak sabar menanti kelahiran anak pertama nya.
"Sayang, kira-kira kamu ingin berapa anak?" tanya Ameer tiba-tiba.
"Sebanyak yang Allah kasih." Meizia memberikan jawaban bijaknya, sebab ia tak pernah memikirkan jumlah anak.
"Bagaimana kalau kita punya 5 anak?"
"Wow!" Meizia langsung berseri sambil tertawa kecil. "Aamiin ya Allah," ucap nya kemudian dan kini Ameer yang tertawa. "Aku rasa banyak anak jauh lebih baik, jadi kita tidak akan kesepian di masa tua."
"Itu juga yang aku pikirkan." Ameer semakin mendekap Meizia. "Ini sudah malam, sekarang tidur lah."
...🦋...
Hana tak bisa melupakan apa yang telah Ameer lakukan pada nya, ia tak marah. Justru Hana merasa bersalah pada Meizia, ia juga merasa tak enak hati pada Ameer.
Hana takut, perasaan nya pada Ameer kembali muncul ke permukaan dan itu pasti tidak akan baik untuk nya.
Saat pagi hari, seperti biasa Hana hendak membantu sang Ibu di dapur. Tetapi tiba-tiba sang ayah memanggil Hana ke kamar nya.
"Ada apa, Bi?" tanya Hana Sembari duduk di sisi ayah nya.
"Kamu pernah bilang ingin sekali belajar di Mesir," kata sang Ayah. "Apa keinginan itu masih ada?"
"Masih, Bi," kata Hana dengan semangat. Belajar ilmu ke Mesir memang sudah menjadi impian nya sejak dulu, tetapi berbagai alasan membuat ia tak bisa pergi ke luar negeri.
"Kamu mau pergi ke Mesir?" tanya sang Ayah yang membuat Hana tersenyum tetapi kemudian menatap sang ayah dengan curiga.
"Kenapa?" tanya Hana. "Kok baru sekarang?"
__ADS_1
"Ada lamaran datang untuk mu, dari putra nya Kiai Ahmad, tapi dia tinggal di Mesir dan istri yang akan dia nikahi nanti pasti akan di bawa ke sana."