Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 50 - Rencana Resepsi


__ADS_3

Di rumah sepi, tak ada siapa pun kecuali Ameer dan Meizia. Hal itu membuat kedua sepasang suami istri itu merasa senang, mereka bisa bermesraan di mana pun mereka mau. Di dapur saat Meizia menyiapkan makanan, di ruang keluarga saat kedua nya bersantai.


Seperti saat ini, Ameer meletakkan kepala nya di pangkuan Meizia sembari menikmati kue yang telah di buat oleh Ummi Nayla kemarin.


"Sayang, bagaimana hari-hari kamu saat ikut Ummi ke beberapa pengajian?" tanya Ameer.


"Seru," jawab Meizia secara spontan. "Tapi kadang-kadang ada yang mengobrol terlalu heboh, membuat aku jadi pusing," tambah nya yang membuat Ameer tertawa kecil.


"Kami tipe introvert, Sayang, maka nya tidak begitu suka dengan keramaian," kata Ameer.


"Atau mungkin karena aku terbiasa menjauhi orang-orang sejak kecil?" gumam Meizia dengan wajah yang berubah mendung, seketika ia kembali teringat dengan masa kecil nya. Masa yang seharusnya indah dan penuh warna, justru harus Meizia lalui dengan berbagai macam tekanan dari sang Ibu dan hinaan dari teman-teman nya yang tahu bahwa Meizia adalah anak seorang mucikari.


"Semua takdir yang pernah terjadi hanya punya dua alasan, Sayang," ujar Ameer yang menyadari raut wajah sang istri berubah. "Yang pertama, sebagai jalan kebaikan untuk ke depan nya. Yang kedua, sebagai ujian untuk menguji kesabaran dan keikhlasan mu."


Ameer menarik tangan Meizia, menggengam nya dengan lembut kemudian melanjutkan. "Jadi, intinya adalah kamu tidak perlu menyesali apa yang terjadi. Percaya saja, Allah lebih tahu alasan di setiap kejadian."


Meizia tersenyum sambil mengangguk pelan, ia mengusap kepala Ameer dengan penuh kasih sayang. "Aku merasa sangat bahagia dengan hidup yang aku jalani sekarang, aku juga sedang berusaha berdamai dengan masa lalu dan tidak menyesali nya. Doakan aku mampu melakukan semua itu, Sayang."


"Aku tidak pernah melupakan nama mu dalam setiap untaian do'a ku."


Meizia kembali di buat terenyuh dengan jawaban tegas Ameer itu.


"Aku mau mandi, ini sudah sore," kata Meizia kemudian, ia hendak menyikirkan sang suami dari pangkuan nya. Namun, Ameer justru memegang tangan Meizia dan enggan beranjak.


"Tunggu sebentar, Sayang, nanti kita mandi bersama." Meizia merona mendengar ajakan Ameer itu, hal yang sudah sering mereka lakukan sebenarnya tetapi entah kenapa Meizia masih selalu merasa malu.


"Kenapa? Tidak mau?" tanya Ameer karena sang istri diam saja.

__ADS_1


"Mau," jawab Meizia pasrah.


Ameer masih menikmati satu tayangan terakhir sebelum akhirnya ia beranjak duduk sembari mematikan televisi the nya.


Tanpa berkata-kata, Ameer menarik tangan Meizia, keduanya bergandengan menuju kamar sembari sedikit bercanda ria.


Usia pernikahan yang masih satu bulan membuat kedua insan itu seperti berada di surga, semuanya terasa indah, manis dan mesra.


Ameer berharap keindahan ini tak termakan oleh waktu dan usia, Ameer berharap cinta mereka akan selalu sama sampai keduanya berambut putih, keriput dan akan meninggalkan dunia ini dalam pangkuan salah satunya.


...🦋...


Saat hari sudah malam, Ummi Nayla pulang bersama Hana.


"Bagaimana hari kalian?" tanya Meizia menyambut kedua wanita itu.


"Menyenangkan," jawab Hana sambil tersenyum.


"Sebenarnya aku sudah mau disuruh pulang sama Ummi," ringis Hana.


"Anak gadis memang harus pulang tepat waktu," goda Ameer yang langsung membuat Hana cemberut.


"Kenapa tidak telfon saja Ummi mu dan katakan kamu akan makan malam di sini," saran Meizia. "Aku membuat makanan sedikit lebih banyak, aku pikir kau akan makan di sini." Lanjutnya.


Hana merasa tidak enak hati jika harus kembali menolak, ia pun menganggukan kepala yang langsung membuat Meizia memekik girang.


Hana tertawa melihat reaksi Meizia, sementara Ameer hanya tercengang sesaat sebelum akhirnya ikut tertawa.

__ADS_1


Kini mereka berkumpul di meja makan, Meizia menyajikan makanan untuk suami nya seperti biasa. Hana yang melihat itu hanya bisa mengulum senyum, rasa cemburu yang dulu sempat singgah kini mulai pudar.


"Oh ya, kami merencanakan resepsi pernikahan yang sederhana," ujar Ameer membuka percakapan.


"Kapan?" pekik Hana yang terlihat semangat.


"Kami baru merencanakannya, Han," kekeh Meizia.


"Oh, benar juga," gumam Hana. "Aku memang bertanya-tanya kapan kalian akan mengadakan pesta, mumpung Meizia belum hamil."


"Itu juga yang Tante pikirkan, Han," sambung Ummi Nayla. "Karena tidak lucu kalau saat resepsi nanti perut Meizia besar, apalagi tidak ada halangan yang membuat kami harus menunda resepsi pernikahan mereka."


"Nanti bantu aku mengurus semua nya ya, Han," pinta Meizia sembari menyentuh tangan Hana.


"Pasti," jawab Hana. "Oh ya, aku punya teman desainer, dia masih baru merintis karir nya sih, tapi desain dia bagus. Siapa tahu kalian tertarik."


"Boleh?" tanya Meizia pada Ameer.


"Terserah kamu saja, Sayang," jawab Ameer.


"Bagaimana kalau kita temui dia besok? Hanya untuk melihat desain gaun nya, kalau cocok kita lanjut, kalau tidak ya cari yang lain," saran Hana.


Lagi-lagi kini Meizia langsung menatap Ameer dan bertanya, "Boleh?"


Ameer tertawa sembari mengusap kepala Meizia dengan lembut. "Boleh, besok kita pergi bersama."


...🦋...

__ADS_1


Manisnya Ameer mengingatkan aku pada Bilal nya Zahra.



__ADS_2