Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 92 - Haruskah Keadilan Itu Dipertanyakan?


__ADS_3

"Selain tulang belakangmu yang cidera, tulang punggungmu juga cidera berat dan itu ... itu menyebabkan kau tidak bisa melahirkan."


Hana seketika terhenyak, pikirannya blank. Ia menahan napas dan detak jantung nya seolah berhenti.


Abi Thohir yang melihat reaksi Hana merasa semakin cemas, apalagi ketika Hana melepaskan tangan nya begitu saja.


"Hana?" panggilnya dengan begitu lembut. Namun, Hana seolah tak bisa mendengar apapun.


Hana begitu shock mendengar kabar itu, kabar yang berkali-kali lipat lebih menyakitkan dari kabar buruk sebelumnya. Dunia Hana runtuh seketika, riwayat hidup nya seolah tamat begitu saja.


Abi Thohir hendak memeluk Hana tetapi putrinya itu menolak, ia mendorong sang Ayah menjauh membuat hati Abi Thohir seperti dicabik-cabik.


"Sabar, Sayang," ia berbisik lirih tetapi Hana seolah tak peduli. Ia hanya membuang muka dengan mata yang memerah, raut wajahnya pun datar dan dingin. Bahkan, air mata seolah ikut membeku seperti hatinya sekarang yang tiba-tiba terasa begitu dingin.


"Aku bersabar atas segala cobaan-Mu, tapi dosa besar apa yang telah aku lakukan hingga Engkau menghukum aku seberat ini, ya Allah?"


Batin Hana berteriak marah, kecewa dan sedih. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa takdir-Nya sangat tidak adil dan ia tak bisa menerima itu.


...🦋...


Terkadang, sesuatu yang berat terjadi pada seseorang dan orang itu akan berkata, "*Aku tidak sanggup menerima semua ini."


"Aku tidak akan kuat menjalani ini*."


"Ini tidak adil, kenapa aku harus menerima ketidak adilan ini?


Ia menghakimi dirinya sendiri dengan begitu buruk, padahal hari demi hari ia lewati dengan takdir itu. Berat, tapi ia mampu melewatinya.

__ADS_1


Sakit, tapi ia mampu menahannya.


Merasa tak sanggup, tapi ia selalu mampu mengatasinya.


Sadar atau tidak, apa yang dijanjikan oleh Sang Khaliq itu benar bahwa Dia tidak akan menguji seorang Hamba melebihi batas kemampuannya.


Sadar atau tidak, benar apa yang ada dalam Firman-Nya bahwa Dia maha tahu segala hal yang tidak diketahui oleh makhluk yang fana.


Sadar atau tidak, sesuatu yang dianggap tidak adil sebenarnya adalah keadilan yang begitu pantas dari-Nya.


Namun, seseorang tidak akan menyadari itu dalam kemarahan, ketidak tahuan atau kesombongan.


Sama seperti yang dialami oleh Hana dan Meizia, meski dalam keadaan dan waktu yang berbeda.


Dulu, Meizia merasa hidupnya tidak adil karena ia memang tidak tahu bahwa Tuhan itu maha adil.. Dan itu telah diajarkan dalam kitab suci maupun kitab karangan para ulama, hal yang tidak pernah Meizia pelajari sebelumnya.


Kehilangan Ibu, kehilangan teman, kehilangan kemampuan untuk berdiri dan berjalan, lalu sekarang dia kehilangan kesempatan untuk memiliki keturunan dari darah dagingnya sendiri?


Bolehkah jika sekarang ia mempertanyakan keadilan dalam hidupnya?


Dulu, Hana selalu merasa bahwa ia harus ikhlas dengan semua hal yang terjadi padanya karena ikhlas adalah kunci ketenangan hidup.


Namun, bisakah dia mengakui bahwa sekarang ia tak bisa ikhlas?


Beberapa hari telah berlalu sejak Hana tahu keadaan dirinya, ia begitu marah dan Kecewa dengan keadaan, sehingga ia pun mengabaikan orang-orang yang mencoba menghibur atau menguatkannya.


Bahkan, Hana enggan berbicara walau sepatah kata pun. Membuat ayah dan kakaknya bingung, apalagi yang harus mereka lakukan?

__ADS_1


Tak hanya itu, Hana juga membatalkan perjodohannya dengan Syafiq. Tak peduli meski Syafiq meyakinkan bahwa ia akan menerima Hana apa adanya, dan dia tetap mencintai Hana dengan tulus. Namun, Hana merasa Syafiq hanya merasa kasihan padanya sehingga ia bersikeras tak ingin bersama pria itu.


Ameer yang mengetahui keadaan adik sepupunya itu tentu juga terkejut, ia pun juga menyempatkan diri menemui Hana, memintanya bersabar tetapi Hana benar-benar mengabaikannya.


"Cukup, Sayang!" Abi Thohir menatap Hana dengan nanar. "Mau sampai kapan kamu akan begini?"


Hana tak menjawab, tatapannya kosong. Ia seperti raga tanpa jiwa.


"Setidaknya berbicaralah sekali saja, Han, Abi tidak sanggup melihatmu seperti ini terus, Sayang."


"Apa yang harus Abi lakukan supaya kamu mau berbicara?"


"Andaikan bisa, Abi akan mengambil semua rasa sakitmu. Abi tidak akan meninggalkannya walau hanya seujung kuku, tapi ... tapi Abi hanya bisa menguatkan mu."


Seketika air mata Hana jatuh, setiap hari sang Ayah selalu mengatakan kalimat itu, kalimat yang sebenarnya mengoyak hati Hana.


"Aku hanya bingung kenapa ini harus terjadi padaku, Bi," lirih Hana dengan suara tercekat. "Aku bertanya-tanya dosa besar apa yang telah aku lakukan sampai aku dihukum seperti ini?"


"Allah tidak memberikan cobaan berat sebagai hukuman, Sayang," tukas Abi Thohir sembari menggenggam tangan Hana yang seolah sisa tulang dan kulit itu. "Semakin besar cinta-Nya padamu, dan semakin besar Dia percaya pada kekuatanmu, maka semakin besar pula cobaan-Nya yang diberikan padamu."


"Tapi ini terlalu menyakitkan," tukas Hana dan akhirnya ia kembali menangis setelah sekian hari hanya murung. "Aku tidak sanggup melewati ini, Bi."


"Aku tidak bisa menanggung beban ini."


"Ini tidak adil untukku."


Abi Thohir tak berkata-kata lagi, ia hanya memeluk Hana dan membiarkan putrinya itu menangis serta mengatakan apapun yang ia rasakan atau pikirkan. Berharap itu dapat mengurangi rasa sakitnya walau sedikit saja.

__ADS_1


...🦋...


__ADS_2