Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 39 - Makmum Tercinta


__ADS_3

Setelah acara akad dan sebagainya, acara dilanjutkan dengan makan malam bersama.


Yang merasakan berkah atas pernikahan ini bukan hanya Meizia, tetapi juga Jenny. Setidaknya, Jenny merasa punya teman baru dan keluarga baru.


Setelah acara makan malam bersama, orang-orang pamit pulang termasuk Jenny.


"Pernikahanmu juga berkah buat aku, Mei," bisik Jenny.


"Alhamdulillah," jawab Meizia. "Jaga diri ya, Jen, sekarang kamu tinggal sendiri di rumah."


"Aku sudah terbiasa tinggal sendiri," sahut Jenny sembari memeluk sahabatnya itu.


"Kami juga harus pulang," kata Riana sembari merangkul Hana.


"Benar, kami sudah kenyang dan sekarang kami jadi mengantuk." Hana menimpali yang membuat semua orang tertawa.


"Pipi kamu makin tembem kalau selalu tidur setelah makan," cetus Ameer.


"Tapi dia masih cantik meskipun tembem seperti bakpao," puji Shafa.


Meizia hanya bisa tersenyum melihat interaksi hangat mereka satu sama lain, apalagi saat ia melihat senyum hangat Hana. Ada rasa iri dalam hatinya, iri karena Hana wanita yang hampir sempurna dalam segala hal.


"Aku mau pulang dulu, Meizia," kata Hana sembari memeluk pengantin wanita itu.


"Apa kamu bisa mengajarkan hal itu padaku, Han?" tanya Meizia dengan suara yang rendah, seolah tak ingin ada yang mendengarnya.


"Apa?" tanya Hana juga berbisik.


"Menjadi muslimah yang baik."


Hana terkekeh mendengar permintaan Meizia. "Kita akan belajar bersama," jawab Hana dengan bijak.


"Kami pulang dulu," kata Abi Hana.


"Semoga bahagia selalu, Nak." Ibunya Hana menyentuh kepala Meizia dengan lembut.


"Terima kasih banyak," ucap Meizia yang kembali dibuat terharu oleh perhatian mereka.

__ADS_1


...🦋...


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Meizia sudah ada di kamar Ameer, kamar yang di dekorasi dengan sangat indah dengan taburan mawar di atas seprei nya. Meizia juga sudah berganti pakaian dan sudah menghapus make up-nya. Sementara suaminya itu sedang berbicara dengan kedua orang tuanya.


Meizia merasa gugup, layaknya seorang pengantin wanita pada umumnya. Namun, ada hal lain yang tentu saja ia takut kan malam ini.


Ia duduk di tepi ranjang, pandangannya terus tertuju pada pintu kamar yang tertutup rapat.


Tak berselang lama, Ameer masuk ke kamarnya yang membuat Meizia semakin gugup bahkan wanita itu sampai gemetar dan berkeringat dingin.


"Maaf lama," ucap Ameer sembari membuka kancing kemeja yang ia pakai.


"Tidak apa-apa," sahut Meizia dengan suara yang sangat pelan. Ia menunduk dalam sembari menautkan jari jemarinya, dan Ameer tersenyum melihat kebiasaan Meizia itu.


Tiba-tiba Ameer berlutut di depan Meizia yang seketika membuat wanita itu melotot terkejut, bahkan ia sampai menahan napas.


"Kamu gugup?" tebak Ameer sembari menarik tangan Meizia yang bertaut semakin erat.


Meizia tak bisa menjawab, ia hanya bisa kembali menunduk tetapi dengan cepat Ameer mengapit dagu sang istri, memaksanya mendongak.


"Aku juga gugup sebenarnya," kata Ameer sembari membawa tangan Meizia ke dadanya, meletakkan tangan mungil itu di jantungnya yang berdetak sangat cepat.


"Tersenyum lah lebih lebar, Meizia, aku menyukai senyum mu," kata Ameer sembari menarik kedua pipi Meizia dengan gemas.


"Setelah ini sepertinya aku akan sering tersenyum," kata Meizia.


"Itu harus." Ameer menyahut dengan tegas. "Karena kalau kamu lebih sering menangis dari pada tertawa, berarti aku gagal menjadi suami yang baik."


"Aku tidak akan membiarkan kamu gagal." Meizia memberanikan diri menyentuh pipi suaminya itu.


Seketika Ameer terkesiap, darahnya berdesir dan hatinya terasa menghangat.


Ia menyentuh tangan Meizia dan semakin menekan tangan itu ke pipinya, membuat Meizia merona malu.


"Tangan mu dingin sekali," lirih Ameer karena telapak tangan Meizia memang terasa sangat dingin. Kini, Ameer mengecup telapak tangan Meizia dengan lembut sembari terus menatap mata sang istri dengan intens. Membuat Meizia semakin merasa salah tingkah, pipinya terasa panas dan mungkin sekarang wajahnya sudah semerah tomat.


"Apa sudah terasa hangat?" Suara Ameer terdengar berat, tatapannya semakin sayu.

__ADS_1


"Sangat hangat," jawab Meizia.


"Baiklah, Sayang, aku wudhu dulu setelah itu kita sholat, okay?"


Meizia hanya mengangguk pelan.


Ameer berdiri dan masih menyempatkan diri mencuri cium sang istri sebelum ia bergegas ke kamar mandi. Meizia sedikit terkejut, ia menyentuh keningnya sembari mengulum senyum.


Tak berselang lama, Ameer keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat lebih segar.


"Sekarang kamu ambil wudhu gih," seru Ameer yang langsung dipatuhi oleh Meizia.


Sembari menunggu Meizia, Ameer menyiapkan sajadah untuk mereka dan mukena untuk Meizia.


Tak berselang lama, Meizia keluar dari kamar mandi dan ia langsung berdiri di belakang Ameer.


"Kita sholat isya dulu, kamu belum sholat, kan?" tanya Ameer.


Meizia hanya mengangguk pelan, yang membuat Ameer tampak gemas.


"Meizia, apa bisa kamu menjawab pertanyaanku dengan suara, Sayang?"


"Hah?" Meizia melongo.


"Dari pada kamu cuma menggeleng dan mengangguk, aku akan lebih senang kalau kamu jawab Iya, Sayang. Atau Tidak, Sayang."


Meizia tertawa kecil mendengar permintaan Ameer itu. "Aku akan berusaha," kata Meizia sebab selama ini ia memang sangat jarang berbicara kecuali.


"Sekarang kamu adalah istriku, berhenti bersikap cuek dan pendiam sama aku, nanti dosa lho kalau aku kesal," gurau Ameer.


"Baiklah," jawab Meizia.


"Baiklah siapa?" tanya Ameer.


"Baiklah, Sayang," ucap Meizia malu-malu.


"Itu jauh lebih menyenangkan."

__ADS_1


"Bisa kita sholat sekarang, Sayang?" goda Meizia yang mencoba mencairkan perasaannya sendiri.


"Baiklah, wahai makmum tercintaku."


__ADS_2